Aaarghhhhhh! Ini amarahku saat berdebat mengenai rokok dan cadar bersama calon istriku. Ini catatan amarahku dan aku ingin membuangnya melalui tulisan ini.
Begitu besar kebencianku malam ini. Apa yang sebenarnya dengan terjadi dengan diriku sebagai seorang lelaki. Tidak sepantasnya aku membunuh karakter seorang perempuan. Maafkan aku calon isteriku. Aku masih seperti anak kecil, aku masih egois dan aku tidak pernah berpikir panjang. Aku menganggap itu sebuah pertengkaran, aku emosi dan tidak sepantasnya aku seperti itu membela diri.
Malam ini 17 April 2019 merupakan hari terbesar dalam hidupku, tidak ada seorangpun yang menentangku selama ini dan Kau berhasil membuatku marah Calon Isteriku, maafkan aku. Aku tahu kau pun marah sebagaimana diriku, aku tau kau pun berpikir sebagaimana diriku memikirkan karaktermu. Entah lelaki seperti apa aku ini yang tega membandingkan antara cadar dengan rokok, na'udzubillah. Meskipun dua-duanya merupakan masalah syari'at, tentu cadar lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan rokok. Aku terlalu mengikuti hawa nafsuku.
Aku pikir kita benar-benar berada dalam kebingungan yang nyata. Aku bahkan belum menghilangkan amarah di dada ini. Aku seperti dipermainkan olehmu dan kau merasa dipermainkan olehku. Tidak ada hal yang lebih sulit bagiku berpikir selain masalah ini. Aku seorang perokok aktif dan kamu seorang muslimah sejati. Kita sama-sama egois dan kita sama-sama keras kepala. Ya Allah terima kasih kau sudah mempertemukan dia sebagai calon isteriku.
Sudah beranjak empat bulan dan kau masih teguh dalam pendirianmu itu. Sungguh luar biasa seorang perempuan dalam memegang keyakinannya. Aku tidak berpikir semua akan menjadi seperti ini, kita berada dalam satu resonansi yang negatif. Seharusnya aku yang mestinya lebih peka terhadap dirimu. Aku benar-benar marah terhadap diriku. Andai saja jika kita tidak pernah terikat akan iman islam ini entah apa yang akan terjadi. Mungkin lebih buruk lagi.
Calon isteriku, aku sendiri bingung, bagaimana harus memulainya dan bagaimana caranya untuk berhenti merokok. Kau selalu mengingatkanku soal niat. Aku marah terhadap diriku.
Bismillah.... Ya Allah maafkan aku telah membuat marah dia.