Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Brain Rot: Ancaman Nyata di Balik Scroll-scroll Iseng


Pernah merasa hari-hari berlalu begitu saja tanpa makna? Tugas menumpuk, kerjaan nggak selesai, tapi waktu habis entah ke mana? Bisa jadi kamu sedang mengalami yang disebut dengan brain rot.

Apa Itu Brain Rot?

Brain rot — atau dalam bahasa kasarnya, "pembusukan otak" — adalah istilah yang makin populer di kalangan Gen Z. Bukan cuma istilah internet doang, tapi ini merujuk pada penurunan fungsi otak akibat terlalu sering terpapar konten-konten pendek dan receh, terutama dari media sosial.

Penurunan ini bukan cuma soal konsentrasi atau daya ingat, tapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental: munculnya stres, kecemasan, dan bahkan depresi.

Menurut penelitian dari Asosiasi Kesehatan Perguruan Tinggi Amerika, ada hubungan signifikan antara screen time berlebihan dan gangguan kesehatan mental. Dan kalau kita lihat sekitar, gejala ini sudah terlihat jelas: susah fokus, gampang terdistraksi, terus-menerus buka HP tanpa sadar, bahkan saat lagi nyetir atau nongkrong bareng teman.

Kenapa Otak Kita Jadi Gampang Rusak?

Supaya bisa paham kenapa kebiasaan sepele seperti scrolling bisa berdampak besar, kita perlu tahu dulu cara kerja otak.

1. Sistem Reward yang Suka Hal Instan

Otak kita punya sistem penghargaan bernama dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa senang setelah melakukan sesuatu yang “berhasil.” Dulu, kita dapat dopamin setelah menyelesaikan pekerjaan penting, ngobrol sama orang dekat, atau olahraga. Tapi sekarang? Cukup scroll TikTok 15 detik, otak langsung bahagia.

Ini bikin sistem reward alami rusak. Otak jadi lebih suka hal instan yang gampang, tanpa usaha. Akibatnya, kita malas untuk ngelakuin hal-hal yang penting tapi butuh waktu dan tenaga.

2. Pelarian dari Emosi Negatif (Escapism)

Scrolling sering jadi coping mechanism — pelarian dari stres, kecemasan, atau rasa sepi. Tapi pelarian ini bukan solusi. Kita hanya menekan emosi, bukan menyelesaikannya. Jadinya kayak lingkaran setan: stres → scroll → senang sebentar → nyesel → stres lagi.

3. Sistem Berpikir Lambat yang Melemah

Otak punya dua sistem berpikir: cepat (instan) dan lambat (mendalam). Konten receh melatih sistem cepat, tapi meninggalkan sistem lambat. Padahal, sistem lambat itulah yang bikin kita bisa berpikir kritis, fokus lama, dan memproses informasi dengan baik. Kalau nggak dilatih, ya makin tumpul.

4. Kecanduan Membandingkan Diri

Kita juga makin sering membandingkan diri dengan orang lain lewat media sosial. Masalahnya, yang kita lihat adalah versi terbaik dan tersaring dari hidup orang. Kita bandingin highlight orang lain dengan behind the scene hidup kita sendiri. Hasilnya? Rasa rendah diri, kecemasan, dan tekanan sosial yang nggak perlu.

Otak Kita Masih Bisa Diselamatkan

Kabar baiknya, otak punya neuroplasticity — kemampuan untuk berubah dan membentuk jalur baru. Jadi meskipun sudah “rusak,” fungsi otak bisa dipulihkan lewat kebiasaan-kebiasaan baik. Tapi kabar buruknya: otak juga bisa makin parah kalau kebiasaan buruk dibiarkan terus.

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan:


✅ Langkah Praktis Memulihkan Otak dari Brain Rot

1. Batasi Screen Time

Tentukan jam khusus untuk pakai media sosial, misalnya hanya jam 11:30–13:00 dan 17:30–19:30. Hindari buka HP saat bangun tidur atau sebelum tidur. Bisa pakai aplikasi pemblokir agar konsisten.

2. Latih Deep Work

Fokus kerja atau belajar dalam blok waktu tertentu, misalnya 8:00–11:00 pagi. Coba teknik Pomodoro: 25 menit kerja, 5 menit istirahat (tanpa scrolling). Ulangi beberapa interval.

3. Baca Buku

Buku melatih otak untuk fokus dan berpikir mendalam. Ini membantu mengaktifkan sistem berpikir lambat yang sangat penting untuk daya pikir kritis dan pemahaman jangka panjang.

4. Olahraga Teratur

Olahraga bisa meningkatkan hormon BDNF (brain-derived neurotrophic factor), semacam "pupuk" untuk otak. BDNF membantu memperkuat koneksi antar neuron, bikin kita lebih fokus, lebih cepat belajar, dan lebih tajam mikir.

Selain itu, olahraga juga memperbaiki kualitas tidur. Tidur yang cukup bikin mental stabil, emosi lebih teratur, dan keputusan hidup jadi lebih rasional.


🌱 Penutup: Pilihannya di Tangan Kita

Kita enggak bisa nyalahin algoritma atau teknologi aja. Pilihan tetap ada di tangan kita. Mau tetap terjebak di pusaran konten pendek dan otak lemas, atau mulai pelan-pelan mengembalikan kekuatan berpikir kita?

Manfaatkan akal sehat yang kita punya. Bangun kebiasaan baik secara bertahap. Karena satu hal kecil yang dilakukan konsisten bisa berdampak besar di masa depan.

Semoga tulisan ini bisa jadi refleksi dan pengingat. Kita semua berhak punya otak yang sehat, fokus yang kuat, dan hidup yang penuh semangat. ✨

Sumber Informasi & Tools : 

  • Youtube : Akbar Abi-Cara Memulihkan Fungsi Otak - brainrot, kekuatan neuroplasticity
  • ChatGpt

Ketika Idealisme Diuji Realitas

  
    Seringkali idealisme akan luntur dengan sendirinya ketika seseorang dihadapkan pada kondisi paling sulit dalam hidupnya. Situasi itu memaksanya untuk mengubah prinsip yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya, dan dalam sekejap ia bisa berubah haluan — dari seorang idealis menjadi oportunis.

    Namun, itu bukanlah sesuatu yang serta-merta patut disesali. Sebab kehidupan ini tidak hanya ditentukan oleh urusan materiil semata, melainkan juga oleh banyak hal lain yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar prinsip atau retorika.

Secara umum, idealisme hanya berubah dalam tiga kondisi utama:

  1. Ketika seseorang meninggal,

  2. Ketika seseorang diterpa badai kesulitan,

  3. Dan ketika seseorang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam.

    Pada kondisi pertama, saat seseorang masih hidup, ia mungkin menjadi sosok yang keras kepala, angkuh, dan arogan dalam memegang idealismenya. Namun, setelah ia meninggal, idealisme itu perlahan akan berubah. Andaipun ada seseorang yang bersuara lantang mengklaim bahwa ia meneruskan risalahnya, tentu tidak akan seotentik pendirinya, bukan? Ada nilai-nilai yang pasti hilang, dan interpretasi yang seringkali tidak lagi sejalan dengan keaslian semangat awalnya. Maka, perlulah kita merenungkan kembali idealisme yang diwariskan, bukan malah bersikap arogan seolah-olah kita yang paling memahaminya.

    Kemudian pada kondisi kedua, mereka yang dulu memegang idealismenya dengan teguh seringkali goyah ketika dihadapkan pada realitas yang menyesakkan. Kita sering mendengar ungkapan, “Kesempatan hanya datang satu kali,” namun faktanya justru sebaliknya: kesempatan datang berkali-kali, namun sering kali kita melewatkannya begitu saja.
Mungkin itu adalah ungkapan dari seseorang yang telah kalah dalam pertarungan idealismenya. Ia menyadari bahwa prinsip yang selama ini ia junjung tinggi tidak membuatnya hidup lebih damai, melainkan justru sebaliknya: penuh tekanan, rasa waswas, dan kekhawatiran. Dalam kondisi itu, dorongan kuat untuk bertahan hidup mengharuskannya mengambil jalan berbeda.
Jika dalam konteks peperangan, mundur untuk menyusun strategi baru adalah hal yang bijak. Namun jika mundur itu berujung pada menjauh dari prinsip dan kehilangan arah, maka akan sulit untuk kembali. Entahlah—manusia memang unik dan kadang lucu dalam caranya bertahan hidup.

    Lalu, kita sampai pada golongan ketiga: mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara jernih dan reflektif.
    Manusia dibekali akal, tapi tidak semua menggunakannya. Orang-orang yang mampu melampaui batas pikirannya, menyelami makna kehidupan, dan memahami bahwa realitas tak selalu datar dan linier—mereka akan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan arah.
Idealisme bagi mereka bukanlah dinding kaku yang menolak semua perubahan, melainkan kompas yang fleksibel. Mereka tetap tahu ke mana arah tujuannya, tapi tidak menutup diri terhadap dinamika kehidupan.

    Mereka ini adalah sosok yang telah merdeka secara batin dan pikiran. Godaan dan cobaan pasti datang menghantam, namun justru di situlah mereka mengasah kepekaan, memperluas pemahaman, dan membuka ruang belajar. Mereka tidak kaku, tapi juga tidak mudah hanyut. Idealisme yang mereka pegang bukan hanya sekadar simbol, tapi jalan menuju kematangan hidup.


 Akhir kata,

    Inilah sedikit gambaran tentang manusia dalam memegang idealismenya. Bukan sebuah justifikasi, melainkan hasil dari refleksi selama ini dalam memahami perilaku manusia dan dinamika kehidupan.
Jika Anda tidak sependapat, silakan beri komentar. Saya sangat terbuka untuk berdiskusi—karena lewat dialog, kita bisa belajar lebih banyak tentang kebenaran dan kehidupan.
Terima kasih.


Fenomena Fat Cat. #FATCATFENOMENA

Paijo : Man, tau ga yang lagi viral nih?

Piman : Apa Jo?
Paijo : Fenomena Fat-cat.
Piman : Fat itu _Gendut_, Cat itu _Kucing_. Berarti Fenomena Kucing Gendut?
Paijo : Bukan, Oneng! Itu ceritanya ada seorang laki-laki, yang katanya bunuh diri gara-gara kena Gaslighting.
Piman : Opo kui, ora mudeng aku.
Paijo : Yo intine katanya laki-laki ini dimanupulasi sama pacarnya dengan berbagai cara agar dirinya merasa frustasi. Nah yang mengejutkan itu katanya si pacarnya ini suka minta ditransfer uang miliyaran, tapi minta si Lakinya disuruh sama cewenya buat ngirit duit.
Piman : Wes! Sebagai laki-laki aku ora bakal tunduk karo wong wedok koyo ngono. Wong lanang ko mentale tepes.
Paijo : Elah, pean ngomonge tok gede. Diundang bojone mengekerut koyo tikus kademen. Ha ha
Piman : Hush.... privasi iku.
Paijo : Lambemu kui, tuman man man! Ha ha. Tak lanjutke yo. Dadi berita itu dadi viral lantaran akeh wong pada simpati maring cowo seng bunuh diri kui. Nah terus saking simpatine, tempat yang dipake bunuh diri, disimpen banyak makanan. Buat menghargai si cowo kui.
Piman : Lah dalah, kaya pejuang ae yo sampe ngono kui.
Paijo : Lah iyo malah juga ono fanbase juga. Pikir-pikir mengko bahkan dadi simbol gaslighting si FatCat kui.
Piman : Menurutmu pie Jo.
Paijo : Yo iku dadi pelajaran nggo wong wong kabeh, nggo bahan renungan nggo wong kabeh terutama nggo sing ngakune muslim. Buat bahan intropeksi diri buat para laki-laki terutama yang muslim. Kalau hidup gada pegangan terutama Allah, pasti bakal memilih hidupnya itu untuk mengakhiri hidupnya ketika mengalami masalah besar.
Paijo : Orang yang pegangannya bukan Allah. Ketika ada masalah itu mereka memilih melarikan diri. Menggalkan masalah. Padahal mereka tidak tahu, kemanapun mereka pergi selama masalahnya belum beres dia akan selalu menghampiri. Apalagi bunuh diri, hal yang dilarang Allah. Justru makin semakin sulit di akhirat kelak. Mati itu bukan jalan selesai masalah. Atau meninggalkan masalah juga bukan solusi agar masalah hilang. Masalah itu harus dihadapi dan dibereskan. Itu baru Laki.
Piman :
😯
... Ohhh begitu ya. Iya juga ya Jo. Sebagai muslim harusnya kita malah makin deket sama Allah kalau ada masalah bukan malah menjauhi.
Paijo : Betul Man. Makanya terhadap orang yang banyak masalah, banyak melakukan dosa, bahkan ahli maksiat harusnya kita semakin cinta dan sayang terhadap mereka. Bukan malah dijauhi. Bahkan Allah pernah mencintai sorang Ahli maksiat dari pada orang yang ahli beribadah.

What Mysteri In The Land Of Love?

SEBUAH ESAI 

Penulis : Zein Abdullah

Satu hal lagi yang aku temukan berdasarkan sumber bacaan sore ini, bahwa Di antara kebesaran Allah, adalah Dia menciptakan pasangan dari diri kita sendiri, agar kita merasakan kedamaian satu sama lain. Dan Dia menciptakan Cinta dan Kasih Sayang di antara kita. Yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berilmu.

Kalimat itu aku kutip di salah satu buku karya seorang enterpreneur muda yang di awal kemunculannya mengulas habis tentang Keajaiban Otak Kanan. Kalian tentu paham dengan orang ini, Right! Maaf saya ambil salah satu unick baitnya, he he he.

Tapi dengan rasa hormat untuk tidak terlalu berlebihan mungkin, bahwa sebenarnya kalimat di atas diambil dari salah satu ayat di dalam Kitab Suci Al-Quran. Lebih jelasnya akan aku berikan terjemahannya di bawah ini ;

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kita cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Jadi intinya begini, saudara. Perihal antara kau sudah menjalani status menikah atau belum, aku tidak bisa berkomentar banyak. Sebab dengan kerendahan hati yang amat mendalam, saat ini aku masih berstatus belum menikah. Entah suatu saat nanti, bila kalian tidak sengaja menemukan tulisan ini, sebaiknya jangan berkomentar terlalu menjastis. Sebab, siapa tahu di masa depan aku sudah menikah atau mungkin sudah mempunyai anak, kemungkinan terburuknya, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Na'udzubillah, semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku, aamiin.

Di dalam sebuah hubungan percintaan. Maaf, ini agaknya terlalu frontal bila dikatakan percintaan. Maksudku, di dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terikat dalam status pernikahan, agaknya memunculkan sebuah misteri tersendiri bagiku. Sebab, banyak orang membicarakan tentang kedamaian yang akan didapat setelah melangsungkan pernikahan.

Kedamaian seperti apa yang akan mereka dapatkan setelah menikah? Apakah ada kedamaian yang bisa didapatkan seorang diri tanpa melalui hal semacam itu? Adakah makna selain kedamaian, sebab kedamaian adalah tempat di mana semua orang ingin menuju ke sana.

Seorang teman memberitahukan padaku, bahwa ketika seseorang masih sendiri antara laki-laki dan perempuan, mereka ini diibaratkan seperti debu-debu yang berkelana menjelajah dunia. Dia masih mengikuti arah angin yang berembus, ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah. Namun, setelah mereka disatukan dalam sebuah proses yang tidak bisa dijelaskan secara logika sebab ilmu Allah, teramatlah sangat luas, maka debu-debu tersebut menyatu dan jatuh ke bumi menjadi tanah yang padat dan kuat.

Seorang laki-laki, akan berjalan tak tentu arah tujuan dalam makna yang lebih dalam. Bukan mengindahkan mereka yang selalu bergumul dengan kitab suci ataupun mereka yang selalu berseteru dengan kekufuran. Tetapi, ada sebuah keutamaan yang harus mereka jalani agar semua kerja keras di dunia ini menjadi paripurna dengan adanya hubungan pernikahan.

Permasalahan ini sebaiknya menjadi bahan pemikiran setiap orang, sebab di akhir ayat itu, menyebutkan bahwa setiap pasangan merupakan tanda-tanda bagi orang yang berilmu.

Ini bukan curhat, saudara, sebab memang aku selalu ingin mengetahui hal yang tersembunyi dalam setiap persoalan, termasuk hal ini. Bagiku yang masih seorang diri, mengartikan kedamaian adalah ketika hidup kita tidak terusik oleh hal-hal sepele. Tetapi, bukankah menikah itu justru akan selalu bergesekan dengan hal-hal sepele lainnya. Lantas kedamaian apa yang dimaksudkan oleh Allah di dalam firmannya itu?

Aku tidak akan menduga-duga bahwa pemahamanku saat ini akan melampaui ayat itu. Justru jauh dari pada itu, aku harus senantiasa menggali kemampuanku untuk mengetahui makna kedamaian itu sendiri. Tidak apalah orang lain berpikir bahwa cara mengetahuinya yaitu dengan mencobanya langsung. Maaf, untuk urusan yang satu ini, menurutku kita tidak boleh main-main dan tidak boleh coba-coba, sebab setengah dari hidup kita di dunia ini bergantung padanya.

Mohon maaf, bukanya aku tidak rindu dengan kalian. Sebab waktu memberikanku keterbatasan untuk menulis. Tetapi, dilain waktu inshaAllah aku sudah menemukan jawabannya dari kasus ini. Mohon maaf, jika judul dan isi tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Semoga di lain kesempatan aku segera membereskan kasus ini. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr.wb

Imajinasiku Mangkrak Karena Writers Block.

Entah sudah berapa lama memang aku merasakan bahwa kekuatan imajinasi ada batasnya, padahal ilmu Allah sangatlah luas. Sudah aku katakan lebih dari berbulan-bulan lamanya, aku mengidap penyakit yang biasa para penulis alami, yaitu "Writers Block".

Mohon maaf, aku sedang tidak ingin menganggap buruk permasalahan ini, bisa jadi timbulnya masalah ini ada hikmah di belakangnya. Tetapi aku sulit menemukannya. Mungkin kamu menemukan itu?

Bagiku menggali kemampuan diri amatlah sulit jika kita hanya berdiam diri saja tanpa melakukan aksi yang dapat menimbulkan efek bergeraknya setiap otot-otot tubuh serta otak kita. Aku begitu lemah menghadapi kenyataan bahwa dunia kepenulisanku ini, yang bila diukur masih jauh panggang dari pada api, bahkan aku belum menemukan alat pemanggangnya.

"Apakah aku sedang mengeluh, hei!"
"Maaf aku."

"Tidak, tidak. Aku sedang tidak mengeluh, aku hanya kesal pada diriku sendiri. Apakah itu sama dengan mengeluh?"

"Aku tidak tahu."

Penyakit ini menurutku tidak ada obatnya. Sebab apa? Toh, beberapa penulis-penulis besar buktinya mengalami hal yang sama sepertiku. Tetapi, yang membedakannya dari semua itu adalah kemampuan untuk segera bangkitnya begitu besar. Semangatnya membara apabila mereka telah melewati depresi ringan itu.

"Apa aku boleh tertawa?"

"Kenapa?"

"Kau berbicara seperti sedang mabuk."

"Jaga ucapanmu! Aku ingin melanjutkan."

Seorang teman berkata padaku, dan teman lainnya menyemangati secara bersama-sama. Sarannya pada mereka yang sedang terjangkit penyakit ini, dengan bergiliran;

- "Kalau aku selalu nonton film Jepang," *dia perempuan, mungkin film jepang yang dia maksud adalah film-film romantis. Atau bisa jadi film-film bergenre misteri dan film-film aksi lainnya. Entahlah kalau dia laki-laki, mungkin persepsiku berbeda.

- "Kalau aku baca buku, nonton film, jalan-jalan pake motor keliling kecamatan." *Yang satu ini patut dicoba teman-teman.

"Apakah Writers Block bisa kita padamkan?"
"Oh. Itu pertanyaan berat saudara."

Berkaca dari pengalaman para penulis-penulis besar, yang juga mereka selalu mendapati penyakit ini, bisa dikatakan sulit untuk menghilangkannya. Tapi mungkin, ini hanya sekedar ide saja, timbulnya penyakit ini bisa jadi lantaran kita kurang mempersiapkan segala sesuatunya.

Ibarat kita akan perang. Strategi, kemampuan pertahanan, senjata, dan pasukan tentunya harus diperhitungkan secara matang. Sama halnya dengan menulis, persiapan-persiapan sebelum melakukan kerja menulis seyogyanya harus dipersiapkan secara matang juga. Melalui riset mendalam, memperbanyak bacaan agar kaya kata, itu sangat membantu mungkin bila diteliti lebih lanjut.

"Ha ha ha ha,"

"Kenapa?"

"Kau berbicara seolah sudah melakukan itu semua."

"Belum memang, tapi lihatlah. Kau sendiri tercipta berkat keagungan kuasa Tuhan yang memberikan imajinasi padaku untuk merangkai kata dan menciptamu."

"Jangan bercanda?"

"Atau mau kumatikan sekarang dirimu itu,"

"Jangan-jangan. Aku masih ingin menemanimu."

"Tidak. Aku sudah selesai saat ini juga."

"Begitu?"

"Iya."

"Baiklah."

Jadi teman-teman kunci itu semua, untuk meminimalisir agar penyakit writers block agar tidak membendung dan menutup sumur imajinasimu adalah dengan menulis, serta mempersiapkan tujuanmu akan menulis apa. Menulis dalam hal ini adalah, menulis apapun, bahkan cerita yang sangat tidak masuk akal seperti ini. Cobalah! Jika masih gagal, kita cari tahu sama-sama masalahnya.

Thank You.

Wassalamu'alaikum w.w

RAMADHAN DAN 3 HARI DALAM HIDUP MANUSIA (KEMARIN, HARI INI & ESOK HARI)

Kemarin adalah masalalu, kita tidak mungkin bisa merubahnya. Hari ini adalah apa yang akan menentukan hari esok. Hari esok, merupakan hari antara ada dan tiada (misteri), maksudnya ialah hari esok pasti tetap ada, akan tetapi, apakah kita akan ada di hari esok?

Menurut Ust. Aa Gym, yang harus kita lakukan agar hari esok menjadi lebih baik adalah terus memperbaiki diri dan selalu berusaha dengan usaha yang terbaik. Jika kemarin kita masih banyak melakukan dosa dan maksiat, hari ini sebaiknya kita harus merubahnya dan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah.

Terlebih, sebentar lagi kita akan segera memasuki bulan yang paling agung di antara bulan-bulan yang lainnya, yaitu Bulan Ramadhan. Di mana kita akan berpuasa wajib selama satu bulan penuh. Hadirnya ramadhan adalah sebagai pesan bagi kita untuk segera meninggalkan dosa-dosa dan terus berhijrah dengan selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Di bulan itu, akan ada banyak keistimewaan-keistimewaan yang hanya bisa kita rasakan setiap setahun sekali. Ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk menempa segala unsur kemuliaan sebagai makhluk Allah yang telah disempurnakan dalam penciptaan-NYA.

Sebagai Umat Islam, berpuasa di bulan ramadhan adalah sesuatu yang sudah menjadi kewajiban kita untuk meyakininya, sebab dalam riwayat sahih yang juga terkandung dalam rukun islam disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;

“Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan haji ke Baitullah.”
- (Bukhari, no. 8, dan Muslim, no. 16 dari hadits Ibnu Umar,) -

Seperti yang diungkapkan oleh Al Ust. Iman Taufiq dalam acara kajian "Investasi Di Bulan Ramadhan" pada minggu (5/13) pagi tadi, di Masjid Al-Furqon, UPI, beliau mengatakan bahwa sebelum memasuki ramadhan, sebaiknya kita sudah selesai merencanakan target-target untuk mengisi ramadhan kita agar bernilai ibadah selama satu bulan penuh di bulan ramadhan ini, dengan harapan, kita akan mendapatkan apa yang bisa saya sebut sebagai buah ramadhan, yaitu ketakwaan.

Jangan sampai selama ramadhan nanti, kita hanya membuang-buang waktu melakukan aktivitas yang tidak ada manfaatnya bahkan sama sekali tidak melakukan aktivitas apapun. Na’udsubillah! Sayang sekali, jika momen yang semua orang saleh nantikan ini, kita sia-siakan. Bukankah kita ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah?

Ramadhan masih beberapa hari lagi, masih ada kesempatan buat kita untuk membuat rencana atau target-target yang akan kita capai untuk memperbaiki diri. Sehingga kemungkinan untuk membuang-buang waktu tidak akan terjadi lagi.

Sudah saatnya untuk perbaikan diri, persiapkan perbekalan-perbekalan sebelum memasuki ramadhan berupa ilmu yang bisa kita dapatkan dalam kajian-kajian islam. Jadikan Puasa Ramadhan kita berkualitas, jauh lebih berkualitas dari ramadhan-ramadhan tahun belakang. Jika target ramadhan tahun kemarin belum ter-realisasi, sekarang saatnya untuk mereview kembali dan memperbaikinya.

Sebab kemarin sudah tidak bisa dirubah lagi, mari kita perbaiki diri mulai hari ini dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi hari esok yang masih misteri itu.

Semoga Allah memberikan bimbingan kepada kita semua,

“Allahumma bariklana fii rajab wa bariklana fii sya’ban wa balighna fii ramadhan”

Artinya ;

(Ya Allah, berkahilah bulan Rajab ini, dan berkahilah bulan Sya’ban ini, dan sampaikanlah kami, panjangkanlah umur kami hingga bulan Ramadhan).

By - F.E

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak

  Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...