Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen Pribadi. Tampilkan semua postingan

Imajinasiku Mangkrak Karena Writers Block.

Entah sudah berapa lama memang aku merasakan bahwa kekuatan imajinasi ada batasnya, padahal ilmu Allah sangatlah luas. Sudah aku katakan lebih dari berbulan-bulan lamanya, aku mengidap penyakit yang biasa para penulis alami, yaitu "Writers Block".

Mohon maaf, aku sedang tidak ingin menganggap buruk permasalahan ini, bisa jadi timbulnya masalah ini ada hikmah di belakangnya. Tetapi aku sulit menemukannya. Mungkin kamu menemukan itu?

Bagiku menggali kemampuan diri amatlah sulit jika kita hanya berdiam diri saja tanpa melakukan aksi yang dapat menimbulkan efek bergeraknya setiap otot-otot tubuh serta otak kita. Aku begitu lemah menghadapi kenyataan bahwa dunia kepenulisanku ini, yang bila diukur masih jauh panggang dari pada api, bahkan aku belum menemukan alat pemanggangnya.

"Apakah aku sedang mengeluh, hei!"
"Maaf aku."

"Tidak, tidak. Aku sedang tidak mengeluh, aku hanya kesal pada diriku sendiri. Apakah itu sama dengan mengeluh?"

"Aku tidak tahu."

Penyakit ini menurutku tidak ada obatnya. Sebab apa? Toh, beberapa penulis-penulis besar buktinya mengalami hal yang sama sepertiku. Tetapi, yang membedakannya dari semua itu adalah kemampuan untuk segera bangkitnya begitu besar. Semangatnya membara apabila mereka telah melewati depresi ringan itu.

"Apa aku boleh tertawa?"

"Kenapa?"

"Kau berbicara seperti sedang mabuk."

"Jaga ucapanmu! Aku ingin melanjutkan."

Seorang teman berkata padaku, dan teman lainnya menyemangati secara bersama-sama. Sarannya pada mereka yang sedang terjangkit penyakit ini, dengan bergiliran;

- "Kalau aku selalu nonton film Jepang," *dia perempuan, mungkin film jepang yang dia maksud adalah film-film romantis. Atau bisa jadi film-film bergenre misteri dan film-film aksi lainnya. Entahlah kalau dia laki-laki, mungkin persepsiku berbeda.

- "Kalau aku baca buku, nonton film, jalan-jalan pake motor keliling kecamatan." *Yang satu ini patut dicoba teman-teman.

"Apakah Writers Block bisa kita padamkan?"
"Oh. Itu pertanyaan berat saudara."

Berkaca dari pengalaman para penulis-penulis besar, yang juga mereka selalu mendapati penyakit ini, bisa dikatakan sulit untuk menghilangkannya. Tapi mungkin, ini hanya sekedar ide saja, timbulnya penyakit ini bisa jadi lantaran kita kurang mempersiapkan segala sesuatunya.

Ibarat kita akan perang. Strategi, kemampuan pertahanan, senjata, dan pasukan tentunya harus diperhitungkan secara matang. Sama halnya dengan menulis, persiapan-persiapan sebelum melakukan kerja menulis seyogyanya harus dipersiapkan secara matang juga. Melalui riset mendalam, memperbanyak bacaan agar kaya kata, itu sangat membantu mungkin bila diteliti lebih lanjut.

"Ha ha ha ha,"

"Kenapa?"

"Kau berbicara seolah sudah melakukan itu semua."

"Belum memang, tapi lihatlah. Kau sendiri tercipta berkat keagungan kuasa Tuhan yang memberikan imajinasi padaku untuk merangkai kata dan menciptamu."

"Jangan bercanda?"

"Atau mau kumatikan sekarang dirimu itu,"

"Jangan-jangan. Aku masih ingin menemanimu."

"Tidak. Aku sudah selesai saat ini juga."

"Begitu?"

"Iya."

"Baiklah."

Jadi teman-teman kunci itu semua, untuk meminimalisir agar penyakit writers block agar tidak membendung dan menutup sumur imajinasimu adalah dengan menulis, serta mempersiapkan tujuanmu akan menulis apa. Menulis dalam hal ini adalah, menulis apapun, bahkan cerita yang sangat tidak masuk akal seperti ini. Cobalah! Jika masih gagal, kita cari tahu sama-sama masalahnya.

Thank You.

Wassalamu'alaikum w.w

Detektif Fariz Edgar


     Fariz Edgar, adalah seorang Agen Detektif Swasta di Kota Bandung, suatu bisnis yang ia tekuni sejak lulus sekolah. Dia menangani segala bentuk pengaduan dari klien-kliennya untuk menggunakan jasanya. Mulai dari urusan Cinta, Memata-matai, Perselingkuhan, Bisnis, dan bahkan mencari hewan peliharaan yang hilang. Walaupun demikian, pada beberapa kasus, ia sempat terlibat dengan kasus pembunuhan.

     Di awal berdirinya, ia sempat mengalami pasang surut yang menjadikannya semakin frustasi, sebab semakin hari biaya hidup semakin tinggi di kota itu. Namun, sebagai seorang pebisnis yang bergerak di bidang sosial, Ia begitu yakin bahwa suatu saat nanti bisnisnya ini akan menemukan momennya. Sehingga bagaimanapun ia tetap akan menjaga bisnisnya bertahan. Karena cita-citanya adalah menjadi Agen Detektif Swasta yang profesional dan mempunyai banyak klien di seluruh pelosok negeri ini. Sebagaimana cita-citanya yang ingin melampaui kesuksesan detektif handal asal London, Inggris, yaitu Sherlock Holmes. 

     Tekadnya begitu besar, di tengah pro dan kontra mengenai adanya seorang Detektif Swasta. Fariz Edgar tidak pernah berhenti meyakinkan dirinya untuk tetap percaya pada bisnisnya itu. Pergaulannya dengan masyarakat bawah menjadikannya tahu, bahwa saat ini kepercayaan terhadap penegak hukum mulai luntur seiring berjalannya waktu. Bagi seorang pebisnis, tentu Fariz memandang hal itu sebagai sebuah peluang emas untuk lebih mengoptimalkan dirinya menjadi seorang detektif pilihan. 

     Selain membuka jasa Detektif Swasta, Fariz Edgar juga berprofesi sebagai seorang penulis. Karya-karanya merupakan kisah hidupnya sendiri dari kasus yang sedang ia kerjakan ataupun kasus-kasus yang telah lama Ia pecahkan. 

     Sudah tidak sabar ingin membaca kisah-kisahnya yang unik dan menegangkan? Tetap ikuti aku, ya? ), 

-Contact Whatsapp : 085720146251

     Saya juga menulis kisah detektif di ThrillingMysteryClub dengan judul "PLAGIATOR" 

Link; https://www.wattpad.com/story/135320725-plagiator

Sherlock Holmes Dan Perburuan Detektif Di Masa Depan.

                                      
"Itu sungguh mengada-ada, Watson!" celetuk Holmes saat melihat berita yang terpampang di atas etalase makanan Warteg Bahari langganannya. 

"Memangnya kenapa?" celetukku yang sedang mengupas telor asin.

Holmes masih mengunyah makanan, semur jengkol dengan orek tempe favoritnya.

"Kau lihat," ia mengarahkan matanya ke arah televisi, "karena kebocoran ulah karyawan Einstein saat meneliti dimensi ruang dan waktu, kita dianggap sebagai buronan sebab telah keluar dari zona pararel," pungkasnya. 

"Aku setuju, Holmes. Jika saja Lestrade tidak mengatakan kalau penelitian dimensi waktu di universitas london itu sedang mengalami kebocoran, tentu kita sudah menemukan orang-orangnya."

"Awas, Kau Lestrade!" geramnya.

Aku masih memperhatikan Holmes yang mengunyah jengkol itu dengan sangat lahap, ia mengatakan bahwa masakan itu lebih enak dari humberger yang biasa ia makan di perempatan Baker Street. Aku sendiri tidak tahan dengan baunya itu, serasa ingin muntah.

"Hei, Kau dengar obrolan target kita, kan?" tanya Holmes bernada lirih,

"Ya, aku mendengarnya. Anak muda itu sepertinya akan menjadi Detektif masa depan,"

"Maksudmu Alfa,"

"Ya, yang sedang memegang gelas itu."

"Lalu bagaimana dengan kloningan kita yang ada di jakarta dan jawa itu?"

"Menurut sumber yang aku dapat, setelah aku berusaha mengobati kaki  seorang perempuan lucu dari jakarta yang jago IT itu, Mereka ber dua babak belur oleh dua detektif yang garang itu, Tony dan Dicky Gendon."

"Sudah aku duga, mereka berdua yang terkuat selama ini," 

"Lalu bagaimana dengan Fariz Edgar?"

"Jujur, dia ini sangat licik sekali orangnya. Meskipun dia tidak pandai berkelahi, kemampuan menembak, serta kemampuan menyamarnya, tak jauh beda denganmu, Holmes!"

Sherlock Holmes mulai mengatupkan ke dua tangannya setelah selesai menyantap 2 piring nasi jengkolnya. 

"Kau pasti lupa dengan satu detektif yang masih amatir itu?"

"Entahlah, Holmes. Aku ingin menyebutnya, namun dipikir-pikir dia ini sama saja denganku. Selalu terlibat dengan urusan cinta. Tapi aku akui, dia mempunyai ilmu deduksi yang luar biasa."

"Baiklah, kalau begitu. Aku sendiri ingin mencari tahu Detektif Dul Poran itu. Bagaimana dengan perkembangan kasusnya itu. Setelah itu aku akan menemui Fariz Edgar, aku harus memberi pelajaran atas kesombongannya itu."

"Tolong, sampaikan juga salamku untuk ALina, dengar-dengar dia gadis yang cantik," aku menyela.

"Tutup mulutmu, Watson! Sekarang, tolong cari di mana Fariz menyembunyikan Mesin waktu kita,"

Sherlock Holmes melihat jam digitalnya. Dan kemudian memesan Grab untuk dirinya sendiri. Aku masih mengamati Detektif Alfa dan Yusuf yang sedang membicarakan kasus di ruang tertutup. 

Ini semua ulah Lestrade, dia memberitahukan jika di masa depan, Detektif Swasta tidak akan diterima di beberapa wilayah. Lalu sebuah informasi muncul, bahwa di sebagian daerah khususnya di wilayah Asia, beberapa Detektif Swasta mulai bermunculan. 

Untuk meneliti itu, Aku dan Holmes diutus oleh Microft untuk menemui Einstein yang sedang mengembangkan mesin ruang waktu menuju masa depan. Sebab metode-metode mereka akan aku gunakan saat melawan moriarty.

Sekian catatan harianku saat ini. 

Watson

Warteg Bahari, 2018.

#Holmeskreatifanlokal

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga ( Nasib )








Sebelumnya saya tidak akan berniat untuk menceritakan kisah ini. Namun, entah kenapa suasana begitu mendukung untuk mengerahkan seluruh kemampuan agar hasrat dan nafsu segera tersalurkan. Ini bukan cerita lucu, juga bukan cerita pelik yang menguras energi untuk memahami setiap simbol-simbol yang ada. Ini hanyalah cerita renyah yang mungkin bagi saya sendiri tidak memiliki arti tertentu namun entah kenapa, saya berusaha menceritakan kisah ini berulang-ulang kepada teman-temanku. Dan pada gilirannya kali ini, saya akan membagikan kepada pembaca sekalian apa yang sudah terjadi pada hari minggu tanggal 7 januari 2018.

Siang itu, saya hendak pergi membeli celana pesanan dari seorang konsumen di Facebook. Motor Karisma hitam milik saya segera dipanaskan pukul 11 siang. Lalu mengecek apakah masih ada kendala di bagian rantai dan remnya. Sudah berbulan-bulan motor saya belum sempat diterapi ataupun diremajakan. Memang di bagian rantai ada sedikit kendala, namun santai saja karena motor masih bisa digunakan. Bagian kopling juga menurut sang dokter di daerah Cikutra, sudah mulai menandakan adanya kerusakan, namun motor masih bisa dipakai.

Pukul 11;30 saya langsung berangkat menuju ke kopo. Dengan santai saya mengendarai motor melewati jalan P.H MUSTHOPA / Jalan Suci. Tepat di samping Masjid Pusdai, Bandung, saya sempat mendengar suara, “Gletuk …. “ pada bagian bawah belakang sebelah kiri. Saya pikir itu hal biasa, dan saya langsung saja menjalankannya lagi. Namun, ketika hendak melewati lampu merah di pertigaan lapangan Gasibu, tiba-tiba motor saya ngambek dan tidak mau maju. Entah apa yang sedang dipikirkan si Karisma hitam ini.

Di bawah terik matahari yang menyengat tubuh. Balutan jaket tebal serta baju lapis 3 di tubuh saya itu, makin menambah hangat suasana. Namun, saya tidak menghiraukannya. Segera saya turun dari motor dan melihat keadaan. Melihat ke bagian bawah motor yang ternyata kemogokan itu diakibatkan oleh lepasnya rantai yang masuk ke sela-sela gir dan shockbreaker. Selain itu, piringan gir tutup tromol roda belakang, mencuat dan menggesek-gesek bagian bawah shockbreaker. Akibatnya bagian bawah shockbreaker saya dan bagian lainnya lecet-lecet. Saya coba tarik rantai itu, namun tidak bergeming. Roda saya putar ke depan dan ke belakang, juga masih sama.

Akhirnya karena kemungkinan motor harus dibawa ke bengkel, maka saya mengurungkan niat untuk pergi ke kopo. Transaksi-pun saya lakukan dengan mentransfer dananya ke supplier, lalu meminta agar barang dikirimkan ke konsumen saya. Supplier pun menyanggupi.

Setelah melakukan transaksi, saya mencoba kembali menarik rantai motor agar roda bisa berputar normal. Namun tetap sia-sia saja usaha itu. Saya mencari cara dengan menarik sekuat tenaga shockbreaker ke arah samping dan disaat bersamaan saya menarik rantainya, dan “Flushhhh….” Rantai berhasil ditarik dan diamankan.

Masih di jalan menuju arah Jalan Diponogoro, saya kemudian berniat menuju ke daerah Cilaki. Dimana banyak lapak-lapak onderdil bekas ada di sana. Suara bising tutup tromol yang belah itu menjadi pengiring nelangsanya saya saat mendorong Karisma hitam. Tepat di pertigaan ada tontonan menarik.

Seorang pemuda, sedang menerawang ke arah depan sambil menenteng helm putih yang entah itu miliknya atau bukan. Ia berdiri di samping pos polisi yang berada di atas trotoar jalan di depan Gedung Sate. Nampak wajah kesialan pemuda itu terpapar oleh sinar matahari di atasnya. Di depannya, seorang petugas kepolisian sedang berdiri di tengah-tengah jalan perboden, menghentikan laju mobil, lalu menanyai si pengemudi dan melepaskannya lagi. Sesaat sebelum saya berbelok menuju jalan Diponogoro, Polisi itu menepikan pengendara sepeda motor lagi. Pemuda di samping pos polisi itu kemudian menunduk, mungkin menyesali perbuatannya atau mungkin dia merasa salah jalan yang membuat hari itu dia ketiban sial. Melihat itu, saya semakin bersemangat. Saya berpikir bahwa kesialanku bisa saja lebih besar darinya jika saya melewati jalan itu, karena memang dan memang hari itu saya benar-benar lupa membawa SIM.

Setelah melewati Pos Polisi, saya belok di perempatan antara Musium Geologi Gandung dan Taman Lansia. Tentu saya berbelok ke kanan. Jalanan yang tidak pernah sepi dengan bau sate, serta penjual perabotan-perabotan antik. Memasuki perempata pertama, dari belakang seorang pengendara sepeda motor matik, dengan masker kain yang menutupi mulutnya, berbicara sangat feminis, “Kenapa, Mas? Mau di dorong dari belakang, ngga?” tawarnya. Mendengar itu awalnya agak risih dan buru-buru ingin segera meninggalkan manusia misterius itu. Semakin menjauh dia semakin mengejar saya yang masih menyimpan perasaan negatif itu.

Akhirnya saya tetap menerima, dia men-step motor saya dari samping. Dan alhamdulillah sampai di tujuan. Sebuah lapak dengan banyak sparepart motor di cilaki. Sebelum menurunkan kaki, saya berniat untuk mengucapkan terima kasih kepada laki-laki misterius di belakangku. Dan betapa terkejutnya saya, entah angin apa yang telah melenyapkan sosok misterius itu. Saya terheran-heran kenapa tidak ada. Dalam hati saya telah berpikir buruk terhadap laki-laki misterius yang mempunyai suara feminis itu. Dasar media! Gara-gara ramai diberitakan tentang LGBT saya jadi suudzon terhadap orang.

Di bengkel serba ada daerah cilaki ini, saya mulai mencari seseorang yang bersedia membantu. Laki-laki berkepala plontos di depan saya melihat dengan tatapan seperti mata harimau yang melihat mangsa lengah ini. Saya mulai mengutarakan keluhan pada motor saya. Ia pun kemudian melihat-lihat kondisi rantai yang tergantung pada per-shockbreaker. Ia meminta untuk memangkas plat besi yang mencuat dari tutup romol dengan gergaji. Saya mempersilahkannya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya kemudian tukang bengkel ini menarik rantai yang telah rusak itu. Lalu menyuruh saya untuk mengganti rantainya karena sudah bengkok. Saya tidak terlalu percaya awalnya. Namun setelah melihat sendiri saya langsung pasrah. Tukang bengkel itu masuk ke lapaknya dan mencari-cari sesuatu, “Nah, ini Mas, pake rantai ini saja. Bagus. Original FU,” katanya dengan penuh kemenangan.

Rantai itu tampak berkarat dan sudah berwarna hitam sebagaimana besi dipanaskan, “Memangnya bagus rantai ini, Kang?” kata saya.

“Bagus Mas, ini awalnya tidak ada sambungannya. Soalnya original FU.”

“Kalau tidak ada sambungannya, bagaimana cara melepas dan memasangnya, Kang,” sahut saya yang makin lama tidak percaya, dengan omongannya. Namun, karena rasa lelah, saya tidak berniat untuk meladeni orang ini, “ya sudah Kang, ganti saja.”

“Baik, Mas!”

Tukang bengkel itu benar-benar jago, dalam waktu beberapa menit saja sebelum teman saya datang rantai sudah jadi dipasangkan. Saya memanggil teman, karena saya membawa uang cash di kantong, yang ada uang di ATM, “Di daerah ciateul ada ATM BRI, Mas,” celetuk sosok dari arah depan. Seorang kakek-kakek memakai peci bulat berwarna hitam. Saya berpikir dua kali kalau harus meninggalkan motor sendirian karena orang-orang di sana juga tidak saya kenal. Saya memutar cara agar saya dapat ke ATM tanpa meninggalkan motor.

Dengan memelas, saya meminta kepada tukang bengkel untuk membawa motor yang sudah selesai diperbaiki. Dia-pun menerima usulan saya. Senang hati saya meninggalkan kerumunan para serigala itu untuk mengambil uang sebesar 50 ribu rupiah. Ongkos yang terlalu mahal memang untuk sekedar rantai bekas.

Di samping itu, ketakutan terbesar saya adalah ketika saya berniat mengambil uang di ATM dengan tanpa motor. Saya takut akan terjadi apa-apa pada si motor, seperti cerita-cerita jalanan di televisi. Namun juga saya berpikir sama jika saya berada di posisi tukang bengkel. Sudah capek-capek ngebenerin rantai, eh motor dibawa kabur dan uang tidak dapat. Sungguh dilematis kejadian itu.

Sampai di sebuah ATM dekat Polsek Ciateul, saya turun dari motor kemudian masuk ke ATM. Saat itu ada 2 orang di belakang saya yang ingin ke ATM juga. Namun, di saat yang bersamaan perasaan curiga muncul. Seorang laki-laki di belakang saya, yang memakai jaket bermotif kotak-kotak berwarna merah, tidak terlalu asing. Ditambah gelagatnya mencurigakan. Setelah saya ke luar ATM, saya mengamati orang itu sambil berpura-pura memainkan HP yang sudah habis baterai.

Tidak ada suara apapun di dalam kotak uang itu. Saya perhatikan orang itu hanya mematung di depan ATM. Beberapa menit setelah itu, dia keluar dan perasaan curiga saya masih stabil. Saya berencana untuk mengikuti orang ini dengan pelan dari belakang.

Di atas motor, saya berkendara dengan kecepatan rendah. Mengikuti orang yang di ATM itu. Lampu merah kami lewati dan betapa terkejutnya saya saat orang itu mengambil arah dimana saya memperbaiki motor saya. Saya tidak mau menuduh yang bukan-bukan, namun saat selesai menyerahkan uang kepada tukang bengkel, orang yang mencurigakan itu memutar kendaraannya setelah saya meninggalkan lapak. Kami berpapasan dan betapa kurang ajarnya setelah dia ternsenyum dengan senyum kemenangan dari balik helmnya. Entah apa maksudnya yang jelas saya tahu perasaanku melihat kejadian itu. Saat itu pula, saya menyadari satu hal bahwa kesialan akan datang kapanpun dan bertubi-tubi menimpa kita. Entah hikmah apalagi yang saya dapatkan dari kisah ini, yang jelas ini sungguh bermakna bagi saya. Terima Kasih!





Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak

  Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...