Sherlock Holmes Dan Perburuan Detektif Di Masa Depan.

                                      
"Itu sungguh mengada-ada, Watson!" celetuk Holmes saat melihat berita yang terpampang di atas etalase makanan Warteg Bahari langganannya. 

"Memangnya kenapa?" celetukku yang sedang mengupas telor asin.

Holmes masih mengunyah makanan, semur jengkol dengan orek tempe favoritnya.

"Kau lihat," ia mengarahkan matanya ke arah televisi, "karena kebocoran ulah karyawan Einstein saat meneliti dimensi ruang dan waktu, kita dianggap sebagai buronan sebab telah keluar dari zona pararel," pungkasnya. 

"Aku setuju, Holmes. Jika saja Lestrade tidak mengatakan kalau penelitian dimensi waktu di universitas london itu sedang mengalami kebocoran, tentu kita sudah menemukan orang-orangnya."

"Awas, Kau Lestrade!" geramnya.

Aku masih memperhatikan Holmes yang mengunyah jengkol itu dengan sangat lahap, ia mengatakan bahwa masakan itu lebih enak dari humberger yang biasa ia makan di perempatan Baker Street. Aku sendiri tidak tahan dengan baunya itu, serasa ingin muntah.

"Hei, Kau dengar obrolan target kita, kan?" tanya Holmes bernada lirih,

"Ya, aku mendengarnya. Anak muda itu sepertinya akan menjadi Detektif masa depan,"

"Maksudmu Alfa,"

"Ya, yang sedang memegang gelas itu."

"Lalu bagaimana dengan kloningan kita yang ada di jakarta dan jawa itu?"

"Menurut sumber yang aku dapat, setelah aku berusaha mengobati kaki  seorang perempuan lucu dari jakarta yang jago IT itu, Mereka ber dua babak belur oleh dua detektif yang garang itu, Tony dan Dicky Gendon."

"Sudah aku duga, mereka berdua yang terkuat selama ini," 

"Lalu bagaimana dengan Fariz Edgar?"

"Jujur, dia ini sangat licik sekali orangnya. Meskipun dia tidak pandai berkelahi, kemampuan menembak, serta kemampuan menyamarnya, tak jauh beda denganmu, Holmes!"

Sherlock Holmes mulai mengatupkan ke dua tangannya setelah selesai menyantap 2 piring nasi jengkolnya. 

"Kau pasti lupa dengan satu detektif yang masih amatir itu?"

"Entahlah, Holmes. Aku ingin menyebutnya, namun dipikir-pikir dia ini sama saja denganku. Selalu terlibat dengan urusan cinta. Tapi aku akui, dia mempunyai ilmu deduksi yang luar biasa."

"Baiklah, kalau begitu. Aku sendiri ingin mencari tahu Detektif Dul Poran itu. Bagaimana dengan perkembangan kasusnya itu. Setelah itu aku akan menemui Fariz Edgar, aku harus memberi pelajaran atas kesombongannya itu."

"Tolong, sampaikan juga salamku untuk ALina, dengar-dengar dia gadis yang cantik," aku menyela.

"Tutup mulutmu, Watson! Sekarang, tolong cari di mana Fariz menyembunyikan Mesin waktu kita,"

Sherlock Holmes melihat jam digitalnya. Dan kemudian memesan Grab untuk dirinya sendiri. Aku masih mengamati Detektif Alfa dan Yusuf yang sedang membicarakan kasus di ruang tertutup. 

Ini semua ulah Lestrade, dia memberitahukan jika di masa depan, Detektif Swasta tidak akan diterima di beberapa wilayah. Lalu sebuah informasi muncul, bahwa di sebagian daerah khususnya di wilayah Asia, beberapa Detektif Swasta mulai bermunculan. 

Untuk meneliti itu, Aku dan Holmes diutus oleh Microft untuk menemui Einstein yang sedang mengembangkan mesin ruang waktu menuju masa depan. Sebab metode-metode mereka akan aku gunakan saat melawan moriarty.

Sekian catatan harianku saat ini. 

Watson

Warteg Bahari, 2018.

#Holmeskreatifanlokal

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...