Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

TREN PERCERAIAN DAN ILUSI BONUS DEMOGRAFI

Oleh : Zein Abdullah

Sudah tidak habis pikir bagaimana media begitu gencar dan bersemangat membesar-besarkan kasus perceraian para tokoh terkenal di negeri ini, seolah ia komoditas yang dijajakan seperti kacang goreng di pasar malam. Entah disadari atau tidak, pemberitaan yang diklaim mampu mendongkrak rating ini justru menyisakan dampak sosial yang tidak kecil dan bahkan berpengaruh pada masa depan sebuah bangsa khususnya bagi pasangan rumah tangga.

Menurut PRAK-BRIN, bahwa berdasarkan data BPS 2024 yang mencatat sekitar 408.347 kasus perceraian, 78% di antaranya diajukan oleh pihak istri. Ini adalah angka tertinggi sejak 2019 lalu. Dan di 2025 masih menurut BPS angka perceraian ini masih stabil namun tetap terus berjalan perhitungannya. Salah satu diantara faktor lainnya ialah meningkatnya kasus perceraian yang dilakukan oleh publik figur atau influencer. Dan yang paling sering diberitakan adalah mereka yang perempuan.

Dari data tersebut memang sangat menghawatirkan. Di saat suasana politik menggembar-gemborkan tentang bonus demografi di satu sisi penunjang itu malah menjadi penghambat disebabkan angka perceraian yang terus meningkat.

Apa yang menjadi konsumsi publik hari ini terkait kasus perceraian yang terus disajikan bak teater itu ternyata memberi dampak buruk bagi masa depan bangsa ini.

Ketika perceraian figur publik terus-menerus disajikan sebagai konsumsi hiburan, para pengikut dan penikmatnya dengan mudah terjebak pada saling menghakimi. Dalam iklim semacam ini, pasangan yang sedang berada di persimpangan masalah menjadi bimbang menentukan sikap. Perceraian perlahan dipersepsikan sebagai sesuatu yang lumrah, biasa, dan tidak lagi dipandang sebagai keputusan berat yang penuh konsekuensi.

Islam tidak melaknat setiap perceraian, namun Islam juga tidak memperlakukannya sebagai perkara ringan. Pernikahan adalah ikatan yang sakral, dan perceraian meski dibolehkan dalam kondisi tertentu tetap merupakan jalan terakhir yang sarat luka, bukan sesuatu yang layak dirayakan atau dijadikan tontonan publik.

Dalam rumah tangga, perselisihan sejatinya adalah bagian dari dinamika kehidupan bersama. Ia bisa menjadi ruang saling menguatkan, dan bagi orang beriman, ia adalah ujian untuk meningkatkan kedewasaan, kesabaran, dan kualitas pribadi masing-masing bukan alasan untuk tergesa-gesa mengakhiri sebuah ikatan.

Dalam islam sebagaimana dicontohkan oleh nabi kita yang agung, Rasulullah Muhammad pun tidak lepas dari perkara cerai, serta bagaimana beliau telah memberikan kepada kita panduan serta pelajaran dalam menyikapi masalah perceraian. Nabi yang telah dimaksum oleh Allah jelas tidak ada keburukan dari setiap perkataan dan perilakunya. Ia ada sebagai suri tauladan yang pantas dan patut kita contoh. 

Dari Hafshah binti ‘Umar r.a dan Asma’ binti an-Nu‘man yang juga dikenal al-Jauniyyah adalah contoh betapa syariat islam tidak sempit dan syariat islam mampu menyelesaikan maslah pelik seperti perceraian ini. Sebagaimana kita tahu bahwa pernikahan turut andil dalam kemajuan bangsa, maka perceraian itu malah memundurkan bangsa ini sebab dampak lain dari angka perceraian ini adalah menurunnya angka pertumbuhan penduduk yang pada akhirnya nanti apakah bonus demografi menjadi ilusi semata? 

Kasus perceraian yang semakin meningkat pada akhirnya jika terus dimediasi dan didramatisasi, bahkan dibuat volumenya layaknya sebuah siaran sinetron laiknya hiburan publik, maka ini bukan hanya mengancam individu tetapi ketahanan sosial, kekuatan bangsa, dan masa depan generasi semakin rapuh.

Pernikahan membangun peradaban.
Perceraian yang dipermainkan media, justru melemahkannya.


Wallahuallam bishowab.

- Sumber utama : Alquran dan Hadis
- Sumber data : https://www.brin.go.id/news/125633/perceraian-di-indonesia-sebuah-fenomena-sosial-yang-perlu-diperhatikan

What Mysteri In The Land Of Love?

SEBUAH ESAI 

Penulis : Zein Abdullah

Satu hal lagi yang aku temukan berdasarkan sumber bacaan sore ini, bahwa Di antara kebesaran Allah, adalah Dia menciptakan pasangan dari diri kita sendiri, agar kita merasakan kedamaian satu sama lain. Dan Dia menciptakan Cinta dan Kasih Sayang di antara kita. Yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berilmu.

Kalimat itu aku kutip di salah satu buku karya seorang enterpreneur muda yang di awal kemunculannya mengulas habis tentang Keajaiban Otak Kanan. Kalian tentu paham dengan orang ini, Right! Maaf saya ambil salah satu unick baitnya, he he he.

Tapi dengan rasa hormat untuk tidak terlalu berlebihan mungkin, bahwa sebenarnya kalimat di atas diambil dari salah satu ayat di dalam Kitab Suci Al-Quran. Lebih jelasnya akan aku berikan terjemahannya di bawah ini ;

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kita cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Jadi intinya begini, saudara. Perihal antara kau sudah menjalani status menikah atau belum, aku tidak bisa berkomentar banyak. Sebab dengan kerendahan hati yang amat mendalam, saat ini aku masih berstatus belum menikah. Entah suatu saat nanti, bila kalian tidak sengaja menemukan tulisan ini, sebaiknya jangan berkomentar terlalu menjastis. Sebab, siapa tahu di masa depan aku sudah menikah atau mungkin sudah mempunyai anak, kemungkinan terburuknya, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Na'udzubillah, semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku, aamiin.

Di dalam sebuah hubungan percintaan. Maaf, ini agaknya terlalu frontal bila dikatakan percintaan. Maksudku, di dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terikat dalam status pernikahan, agaknya memunculkan sebuah misteri tersendiri bagiku. Sebab, banyak orang membicarakan tentang kedamaian yang akan didapat setelah melangsungkan pernikahan.

Kedamaian seperti apa yang akan mereka dapatkan setelah menikah? Apakah ada kedamaian yang bisa didapatkan seorang diri tanpa melalui hal semacam itu? Adakah makna selain kedamaian, sebab kedamaian adalah tempat di mana semua orang ingin menuju ke sana.

Seorang teman memberitahukan padaku, bahwa ketika seseorang masih sendiri antara laki-laki dan perempuan, mereka ini diibaratkan seperti debu-debu yang berkelana menjelajah dunia. Dia masih mengikuti arah angin yang berembus, ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah. Namun, setelah mereka disatukan dalam sebuah proses yang tidak bisa dijelaskan secara logika sebab ilmu Allah, teramatlah sangat luas, maka debu-debu tersebut menyatu dan jatuh ke bumi menjadi tanah yang padat dan kuat.

Seorang laki-laki, akan berjalan tak tentu arah tujuan dalam makna yang lebih dalam. Bukan mengindahkan mereka yang selalu bergumul dengan kitab suci ataupun mereka yang selalu berseteru dengan kekufuran. Tetapi, ada sebuah keutamaan yang harus mereka jalani agar semua kerja keras di dunia ini menjadi paripurna dengan adanya hubungan pernikahan.

Permasalahan ini sebaiknya menjadi bahan pemikiran setiap orang, sebab di akhir ayat itu, menyebutkan bahwa setiap pasangan merupakan tanda-tanda bagi orang yang berilmu.

Ini bukan curhat, saudara, sebab memang aku selalu ingin mengetahui hal yang tersembunyi dalam setiap persoalan, termasuk hal ini. Bagiku yang masih seorang diri, mengartikan kedamaian adalah ketika hidup kita tidak terusik oleh hal-hal sepele. Tetapi, bukankah menikah itu justru akan selalu bergesekan dengan hal-hal sepele lainnya. Lantas kedamaian apa yang dimaksudkan oleh Allah di dalam firmannya itu?

Aku tidak akan menduga-duga bahwa pemahamanku saat ini akan melampaui ayat itu. Justru jauh dari pada itu, aku harus senantiasa menggali kemampuanku untuk mengetahui makna kedamaian itu sendiri. Tidak apalah orang lain berpikir bahwa cara mengetahuinya yaitu dengan mencobanya langsung. Maaf, untuk urusan yang satu ini, menurutku kita tidak boleh main-main dan tidak boleh coba-coba, sebab setengah dari hidup kita di dunia ini bergantung padanya.

Mohon maaf, bukanya aku tidak rindu dengan kalian. Sebab waktu memberikanku keterbatasan untuk menulis. Tetapi, dilain waktu inshaAllah aku sudah menemukan jawabannya dari kasus ini. Mohon maaf, jika judul dan isi tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Semoga di lain kesempatan aku segera membereskan kasus ini. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr.wb

PROSES (PERNIKAHAN)

Assalamu'alaikum w.w

"Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu." - (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

Menikah, yah!

Adalah hal terbesar dalam perjalanan hidupku memutuskan hal seperti ini. Mungkin saja, atau bisa dikatakan, karena umur dan waktu serta sahabat dan teman-temanlah yang menjadi faktor bagaimana perasaan ingin menikah ini muncul. Aku menganggap, sesi ini adalah muqadimah dari sebuah perjalanan menuju jenjang pernikahan. Aku harus meluruskan niatku, mempersiapkan mental dan materi agar siap berperang melawan ketakutan yang selalu muncul, meskipun ketakutan itu tidak pernah menemukan tempatnya.

Seorang guru, mewartakan kepadaku, bahwa yang harus dipersiapkan saat seseorang akan melalui pernikahan adalah dengan memfakultasi diri dengan ilmu, amal, dan aqidah. Agar kelak dalam berumah tangga, tidak ada penyesalan dalam menjalani bahtera keluarga.
Sungguh menarik memang jika aku berkaca kepada saudara-saudaraku yang seiman, mereka menceritakan suka dan dukanya dalam prosesnya menuju pernikahan.

"Percayalah!" Seorang sahabat berkata padaku, "meskipun kamu mencari ke sana-ke mari, bertanya kepada si Fulan dan Si Fulan tentang bagaimana proses menikah itu, sekali-kali kamu tidak akan menemukan formula yang khusus untuk meminimalisir kegagalanmu dalam meraih itu semua. Setiap orang memiliki permasalahannya sendiri-sendiri, satu kasus orang belum tentu bisa kau cari solusinya lalu menerapkannya dalam urusanmu."

Perjalanan itu berlanjut, suatu ketika, aku yang secara tidak sengaja karena sedang baca-baca di salah satu blog teman komunitasku, dia ini adalah pegiat IT, juga rajin menulis di blog, banyak tulisan-tulisannya yang menarik dan ada juga yang tidak menarik minatku, (Semoga dia tidak membaca bagian ini). Beberapa artikel yang ia tulis salah satunya adalah membahas tentang tempat untuk melangsungkan weding (baca ; menikah), dan sangat menakjubkan sekali menurutku, dari sekian banyak artikel yang ia tulis, hanya kategori yang berfokus pada pernikahan mendapat atensi berlebih dari para pembaca, bahkan mungkin sebagian mereka bukan followersnya. Di tambah lagi, lagu-lagu seperti "Akad - Payung Teduh" juga menjadi dampak tersendiri di kalangan kawula muda masa kini untuk berlomba-lomba ingin segera menikah.

Well, aku yang sampai saat itu tidak terlalu terpikirkan oleh hal-hal semacam ini menjadi sedikit tergerak hati untuk menikah. Entahlah, aku pun masih mencari apa benar niatku ini, sementara ilmu dan materi tentunya belum memadai. Sampai saat ini juga, aku masih sedang berusaha memperbaiki diri, menambah imanku agar lebih yakin lagi, bahwa pilihan yang satu ini adalah keputusan terbaikku untuk saat ini.

Bukan dengan emosi kau memilih bahwa itu baik, sebab menurut ALLAH belum tentu baik.
Intinya adalah, Proses menuju pernikahan atau Pra Nikah, sebaiknya harus dilalui dengan sebaik-baiknya, mulai dari mempersiapkan materi tentunya, rencana ke depan setelah menikah, jangan sampai, rencanamu hanya bertahan sampai dengan kau menikah saja, sehabis itu kamu seperti layang-layang putus, terombang-ambing dalam membuat keputusan. Bagiku, sebagai seorang yang santai-santai saja, memikirkan hal semacam ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Jujur saja, banyak ketakutan-ketakutan yang selalu saja timbul tenggelam menghadang rencana besar itu.
Dan yang paling penting adalah, menikah itu adalah ketika kamu memasuki zona yang baru lalu meninggalkan zona lamamu, maksudnya adalah harus ada kedewasaan yang mesti kamu asah mulai dari sekarang. Jauhi sifat kekanak-kanakan yang berlebih, fokus pada tujuan, dan bergerak sesuai aturan Allah.

Bagi kamu yang juga tidak sengaja membaca tulisan ini dan kebetulan mau menikah juga, mari kita sama-sama berlomba memantaskan diri di hadapan Allah, bahwa apa yang akan menjadikan pilihan kita ini mendapat restu dari-NYA, Aamiin. Aku doakan, semoga apa yang kamu rencanakan berjalan mulus.

Pesan penting lainnya dari guruku adalah, memperbanyak bergaul dengan perintah Allah, akan lebih memuluskan rencanamu itu. Seperti halnya saat ini, di bulan Ramadhan, orang-orang berlomba-lomba memperbaiki diri, memperbaiki kualitas diri di hadapan Allah, agar akhir ramadhan, mendapatkan predikat sebagai orang-orang bertakwa. Tentunya hal itu sama, yang kita inginkan adalah mendapatkan calon pasangan yang sesudai dengan kriteria Allah, seperti yang tertulis dalam Al-Quran ;

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. At Taubah (9):71].

Juga beberapa referensi lainnya dari Al-Quran ;

“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu:Surga)” [QS. An Nuur (24):26].

So, jangan mau enaknya, kamu pengen perempuan yang beriman, atau laki-laki yang beriman, tetapi kita sendiri tidak berlaku adil pada diri sendiri, menjadi orang yang beriman pula. Akhir dari saya, semoga kita termasuk orang-orang yang beriman. Aamiin.
Wassalamu'alaikum w.w

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak

  Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...