Opini dalam Narasi. Hiburan Membelah Pikiran agar Rindu Tempat Kembali. Refleksi Filosofi.
TREN PERCERAIAN DAN ILUSI BONUS DEMOGRAFI
Berhijab adalah Melawan
Berhijab adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap ide yang menempatkan “cantik” sebagai keberanian menampilkan bentuk tubuh dan mengumbar aurat.
sumber gambar : pngtree
Blog Universe - Kesepian Melintasi Galaksi
Hari Gini Masih Ngeblog?
Entahlah. Kadang aku juga bertanya-tanya dalam hati: masih adakah orang yang mau membaca blog orang lain?
Judul “Blog Universe” terdengar agak angkuh memang. Tapi begitulah ide kadang hanya melintas di benak dan terasa sayang jika tidak direkam menjadi tulisan. Apalagi saat ini aku sedang duduk di depan komputer. Sebenarnya aku sendiri lupa mau ngapain. Pulang dari kegiatan malam, langsung menatap layar desktop, lalu tiba-tiba teringat tentang blog. Dan ya, terjadilah tulisan ini.
Sambil menulis, otakku masih meracik apa sebenarnya yang kumaksud dengan Blog Universe. Mungkin ide ini muncul setelah siang tadi aku menonton film Deadpool & Wolverine, ketika Deadpool melintasi waktu. Atau bisa juga kuhubungkan dengan Captain Marvel yang sendirian terbang menembus galaksi, melintasi ruang dan waktu. Pernahkah kau membayangkan betapa sepinya perjalanan itu?
Tentu saja itu fiksi, dan aku tak berharap kau mempercayainya. Namun, entah mengapa aku bisa merasakan kesepian Captain Marvel saat menjelajahi galaksi. Dari sanalah analogi ini muncul: jika blog adalah sebuah semesta lain, maka saat ini aku sedang melintasinya seorang diri. Dan kau tahu betul bagaimana rasanya berjalan sendirian di ruang yang luas dan hening.
Entah di semesta mana para blogger masih memiliki kehidupan. Aku sendiri seolah berjalan dalam kegelapan, menelusuri jalan yang tak bertepi dan tak berujung. Dalam keheningan itu, bahkan detak jantungku terasa terdengar keluar melalui pori-pori dada.
Dunia blog kini terasa semakin tertinggal. Orang-orang mungkin telah beralih ke platform lain. Atau mereka yang dulu rajin ngeblog kini sibuk dengan dunianya masing-masing. Aku sendiri contohnya, he he he. Tentu ini subjektif, sekadar perasaanku. Mungkin masih ada individu atau kelompok yang setia ngeblog, tapi mereka seperti Captain Marvel: kesepian di tengah Bima Sakti. Siapa tahu suatu hari nanti semuanya akan ramai kembali.
Inilah blogku. Kau bisa membacanya dan mendapati bahwa isinya penuh pemikiran-pemikiran absurd dari penulisnya. Tapi setidaknya aktivitas ini memiliki satu nilai lebih: menjaga kewarasanku. Sebab akhir-akhir ini tak sedikit orang yang stres karena overthinking. Jika sudah sampai ke titik itu, segalanya bisa kacau.
Sudah lama aku tak menulis. Baru kali ini, setelah beberapa bulan, aku memulainya kembali. Mudah-mudahan ke depan aku bisa lebih konsisten. Beberapa proyek buku sempat mandek karena jarang menulis. Maka anggaplah ini langkah awal. Semoga Allah meridai jalan ini.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kutulis, tapi ideku malam ini baru sampai di sini. Mungkin di lain waktu, dengan judul yang berbeda, aku akan melanjutkannya.
Terima kasih sudah mau membaca sampai akhir.
Semoga kamu bahagia.
Fenomena Fat Cat. #FATCATFENOMENA
Paijo : Man, tau ga yang lagi viral nih?
Komentar Saya Terhadap Cerpen "Sahabat Lama" Terjemahan Maggie Tiojakin di FIKSILOTUS
POIN DISKUSI:
Apa pendapat kalian tentang ending cerita ini?
- Well ini plot twist di akhir cerita. Tadinya sudah berpikir bahwa cerita ini akan membosankan tapi seperti naik roller coaster. Saya dibuat tegang saat membaca surat dari Jimmy Wells. penutupan yang bagus. Saya ga tau apakah ini benar-benar cerita yang matang atau tidak tapi cukup menghibur.
Apakah kalian sempat menduga bahwa polisi yang membuka cerita adalah sahabat yang ditunggu si lelaki asal Chicago?
- Kita coba menganalisa waktu yang tertuang di cerpen itu, Pukul 21:57 Bob masih menunggu Jimmy, di samping itu ia sedang ngobrol dengan polisi. Pukul 10:17 Polisi Jangkung datang. Setelah beberapa menit berjalan sampai menemukan lampu, lalu polisi jangkung berkata kalau Bob sudah ditahan selama 10 Menit yang lalu. Artinya polisi yang sebelumnya adalah si Jimmy Wells.
Di poin ini sebenarnya ada banyak pertanyaan,salah satunya bukankah antara Bob dan Jimmy sudah bertemu di depan rumah makan itu? Kok mereka tidak saling mengenal. Ditambah lagi perkataan Bob yang mengatakan kalau polisi jangkung itu bukan Jimmy. Artinya Bob benar-benar mengenali Jimmy bahkan sampai ke tubuh jangkung dan hidungnya yang mancung. Jadi kenapa saya tidak menduga bahwa polisi di awal adalah Bob karena korelasi waktu dan sikap skeptis Bob terhadap polisi jangkung membuat kontradiksi yang jelas berbeda.
Pesan apa yang kira-kira ingin disampaikan penulis?
- Pertama mungkin rasa syukur ya. Ya mensyukuri apa yang sudah dimiliki tanpa harus tergiur dengan yang lain yang bahkan akhirnya malah menjadi bumerang untuk dirinya. Sebuah malapetaka. Tidaj boleh sombong dan meremehkan orang lain kalau sudah sukses apalagi bercerita buruk soal sahabatnya ke pada orang lain.
*Kalau dilihat secara unsur ekstrinsik : Karya ini diciptakan tahun 1906 di mana menurut wikiwand.com bahwa penulis di tahun itu sedang digandrungi pembaca, Menurutku sebagai seorang penulis, pengalaman hidup adalah modal untuk seseorang bisa menulis, Dilihat dari kisah hidupnya yang penuh intrik, maka menurut saya cerita ini juga menggambarkan betapa naifnya seseorang dalam menggapai impian. Si penulis berusaha memberi kesan baik terhadap persahabatannya. Namun di balik itu ada kisah memilukan yang menyebabkan Bob ditahan oleh polisi. Ada yang menarik menurut saya bahwa Sang Polisi ini mungkin adalah gambaran dari keputusaasaan sang penulis dan juga titik di mana ia sedang menerima takdir bahwa ia bersalah sebagaimana Bob yang tidak berusaha kabur saat ditahan.
Momen mana dalam cerita ini yang paling menarik buat kalian?
- Well kisah ini menjadi menarik karena ada plot twist ti belakangnya. Di bagian surat yang dibaca oleh Bob. Seperti tersambar petir Bob langsung pasrah kayaknya ya, he he
Kalau kalian bisa menulis ulang ending cerita ini, kira-kira seperti apa?
- Mungkin saya akan menghilangkan kecurigaan kita terhadap si Jimmy atau mungkin memperjelas fungsi polisi di awal ceritanya ya. Biar terlihat natural gitu, he he
Manusia Sebagai Khalifah di Bumi
Hakikat seorang manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi. Ia diwasiatkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjaga bumi ini — bukan sekadar menempatinya. Dalam Islam, pemahaman seperti ini adalah bagian dari aqidah yang mesti tertanam dalam diri.
Pernah ada keraguan dari para malaikat sebelum manusia diciptakan. Mereka khawatir bahwa manusia akan kembali membuat kerusakan di muka bumi. Namun, Allah Al-Khaliq lebih mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi.
“Dan, aku wasiatkan kepadamu (banyak-banyak mengucapkan), ‘Subhanallah wa bi hamdih (Segala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya)’. Sebab, keduanya adalah shalat (tasbih)-nya para makhluk, dan dengan keduanya makhluk ditimbang. Firman-Nya: ‘Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun’.”
(QS. Al-Isra: 44)
Seluruh alam semesta sejatinya bertasbih kepada Allah dengan cara mereka masing-masing. Mereka tunduk dan berserah diri kepada-Nya, rela menjadi bagian dari sistem kehidupan yang ditetapkan-Nya.
Namun, berbagai fenomena alam kini menjadi cermin dari ketidakseimbangan peran manusia. Sungai meluap dan membanjiri perkampungan, tanah longsor menelan desa-desa — semua itu adalah tanda ketidakmampuan manusia menjaga dan merawat bumi. Air adalah makhluk Allah, sama seperti kita.
Tanah yang dulu subur kini digali hingga ke jantungnya, gunung-gunung dan sawah-sawah dirampas oleh ketamakan manusia demi keuntungan sesaat. Manusia diberi mandat untuk menjaga alam, tetapi di sisi lain justru menjadi perusaknya.
Jika manusia memahami hakikat dirinya, maka alam dan manusia akan hidup harmonis. Mungkin pepohonan tak perlu lagi dipupuk dengan bahan kimia untuk berbuah manis, padi tak harus disemprot agar tumbuh subur.
Mari menjadi khalifah sejati, sebagaimana yang digariskan Allah kepada kita.
Inilah jalan hidup kita — jalan penjagaan, keseimbangan, dan pengabdian.
Fragmentasi Diri
By: Juli
Pada dasarnya manusia memiliki fitrah yang baik. Tidak ada manusia yang jahat atau buruk — yang ada hanyalah mereka yang sedang tersesat. Mereka yang berperilaku buruk sejatinya menginginkan kembali ke jalan yang benar. Namun karena terlalu lama tersesat, mereka tak menyadari bahwa dirinya telah jauh menyimpang, hingga merasa nyaman dalam kegelapan dan enggan untuk berubah.
Analogi ini mengingatkan kita pada film Inception (2010) yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio. Ia berperan sebagai Cobb, seorang extractor — ahli spionase alam bawah sadar yang mampu memanipulasi pikiran seseorang saat tertidur. Dalam film itu, istri Cobb terjebak di dimensi bawah sadar dan meyakini bahwa dunia mimpi itulah realitas sesungguhnya. Ia menolak dunia nyata yang sebenarnya, karena terlalu lama hidup dalam ilusi. Ngeri, bukan?
Begitu juga dengan karakter Joker. Ia adalah sosok badut yang frustrasi karena tekanan hidup yang tak berkesudahan. Ia dibenci di tempat kerja, dikhianati teman sendiri, dan menemukan kenyataan pahit tentang keluarganya. Semua luka itu ia simpan, hingga akhirnya berubah menjadi energi gelap — kekuatan yang membuatnya eksis lewat kekacauan. Ia tidak berjuang demi politik atau kekuasaan, tapi demi pengakuan. Ia ingin diakui, dilihat, dan dihormati — hingga akhirnya menjadikan dirinya sendiri sebagai “tuhan” atas hidupnya.
Dalam Islam, hati manusia yang melakukan dosa akan mendapat satu titik hitam. Namun ketika ia bertaubat, titik itu akan dihapus. Bayangkan jika hati kita telah pekat dan hitam, akankah masih bisa bersih? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing — dan Allah Maha Penerima Taubat.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dan Allah telah menjelaskan dalam QS. Asy-Syams [91]: 7–10:
“Demi jiwa dan penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Paijo : Apa Tuhan Pencemburu?
MOB, TAK BEROTAK DAN MAIN HAKIM SENDIRI
Assalamu'alaikum wr.wb
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Kali ini aku akan memberikan opini mengenai kasus-kasus pembakaran manusia secara hidup-hidup pada beberapa waktu belakangan.
Sungguh miris, melihat video adegan pembakaran yang dilakukan oleh massa secara membabi buta di sosial media. Aku mengutuk dengan sangat teramat keras, semoga manusia di bumi indonesia ini menjadi manusia yang berbudi luhur dan baik terhadap sesama.
Aku akan mengutip sebuah pertanyaan dari Aiman Witjaksono, seorang jurnalis Kompas dalam sebuah artikel. Pertanyaan ini sebaiknya menjadi bahan renungan juga untuk sesama manusia, berikut petikannya kurang lebih ; "Sungguh saya tak punya jawaban, kenapa ada banyak sekali orang yang begitu tega membiarkan orang di depan matanya disiksa dan dibakar hidup-hidup!"
Notes ; Seorang Pria diamuk massa dan dibakar hidup-hidup di Musala Al Hidayah, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Pria yang belakangan diketahui bernama M Alzahra atau Joya ini diduga mencuri amplifier atau mesin pengeras suara.
Begitu pun dengan aku sendiri, apa yang bisa menjawab itu? Entah kenapa kejadian itu terus terulang. Di video lainnya, orang-orang membakar manusia setelah diikat dengan tali, lalu ramai-ramai membakarnya, namun dari umpatan mereka aku mendengar gelak tawa yang nyaring tersiar di dalam video itu. Ini apa? Tidak habis pikir mereka tega melakukan hal itu.
Aku mencoba mencari alasan dan hasilnya seperti ini ;
Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan, kasus pengeroyokan dan pembakaran secara hidup-hidup tak lepas dari adanya crowd atau kerumunan. Memang kerumunan tak selalu negatif. Namun jika sudah mengarah pada mob, maka bisa dikategorikan kriminal.
"Karena ini sudah berkerumun, berkumpul, berubah besar, dan mengamuk, dan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan individu pribadi," ujar Adrianus saat berbincang dengan Liputan6, Jakarta, Jumat 4 Agustus 2017.
Mob adalah sekelompok orang tanpa dukungan masyarakat yang dengan marah menyerang dan berusaha melukai atau merusak suatu objek tanpa mengindahkan norma sosial dan hanya berpegang pada pertimbangan yang sederhana.
"Sehingga ketika mob ini terjadi, memang harus dilakukan upaya paksa untuk kemudian mob itu bubar," sambung dia.
Kendati, menciptakan mob juga tidak gampang. Menurut Adrianus, butuh proses untuk menciptakan mob, setidaknya dengan adanya sosok pemimpin atau yang dituakan dalam kerumunan tersebut. Selain itu juga harus ada isu bersama yang membuat orang mudah terkoordinir.
Lantas tidak adakah seseorang yang bisa menolong mereka, atau setidaknya melapor kepada yang berwajib? Kemungkinannya ada, namun sangat kecil jika dilakukan di tempat dengan tidak ada perikemanusiaan di sana, atau bisa jadi mereka sudah memikirkan hal itu, namun masih kalah dengan euforia yang sedang terjadi di sekitarnya.
Fenomena ini dinamakan Bystander effect. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, orang-orang di sekitarnya yang melihat akan berpendapat pasti ada yang membantu. Celakanya, semua orang berpikiran seperti itu dan akhirnya tak seorang pun datang membantu. Lebih lengkap mengenai Bystander Effect, kalian bisa baca di sini.
Urusan manusia memang rumit, kita tidak bisa mengatakan hal yang benar dari satu sisi. Perlu kejelian untuk menilai dan menyikapi permasalahan ini. Secara garis besar, Si Pelaku bila dalam kasusnya benar-benar bersalah, tentu harus ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku. Namun jika yang menghukumi adalah kerumunan massa dengan main hakim sendiri, tentu hal ini adalah sebuah kejahatan yang perlu dihukum seberat-beratnya, sebab bukan tugas mereka untuk menghukumi.
Saranku, jika kalian mendapati hal semacam itu, jangan ragu untuk segera melapor kepada pihak yang berwajib, jangan sampai kejadian ini terus berulang. Tumbuhkan di dalam diri kita, bahwa setiap manusia pasti punya salah, aku pun banyak salah, ada begitu banyak alasan mengapa seseorang melakukan perbuatan buruk. Kita bukan hakim yang bisa menentukan salah dan benar. Allah sebagai Sang Pencipta, selalu memberi maaf kepada hambanya, lantas kenapa kita bertindak melebihi tuhan. Astaghfirulloh hal'adzim!
Namun bila ditilik dari sisi yang bisa aku sangkutkan dengan nilai hati pada manusia. Mungkinkah perilaku mereka, dalam kasus ini adalah para pelaku pengeroyokan, sudah tertutupi hati mereka oleh dendam dan amarah? Apakah mereka telah buta hatinya? Tindakan itu sangat biadab dan tidak bisa disebut sebagai tindakan manusia. Apakah pemicunya dari sedikit kemaksiatan manusia yang terus menerus ditumpuk tanpa membersihkannya dengan bertobat kepada Allah?
Syeikh Ibn Qayyim menyebutkan beberapa hukuman, akibat dari perbuatan maksiat yang cukup membuat seseorang harus berpikir, sebelum melakukan perbuatan maksiat. Digambarkan oleh Syikhul Islam, akibat perbuatan maksiat itu antara lain :
Pertama, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu, mempunyai akibat, akan dapat menutup hati, pendengaran, dan penghilatan. Sehingga, terkuncilah hatinya, tersumbat kalbunya, karena ia penuh dengan kotoran yang berkarat. Allah yang membolak-balikkan hatinya itu, sehingga tidak memiliki pendirian, membuat jarak antara diri dan hatinya. Allah akan membuatnya lupa untuk berzikir, dan membuat lupa dirinya sendiri.
Allah meninggalkan orang-orang berbuat maksiat dengan tidak membersihkan hatinya. Maksiat membuat dada seseorang sempit, sukar bernafas seperti naik ke langit, hatinya dipalingkan dari kebenaran, menambah penyakit dengan penyakit, dan akan tetap sakit.
Na'udzubillah, semoga kita terhindarkan dari penyakit hati seperti itu. Jagalah hati kita dari maksiat-maksiat kecil, sehingga bersih cahayanya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang saleh, aamiin.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
What Mysteri In The Land Of Love?
SEBUAH ESAI
Penulis : Zein Abdullah
Satu hal lagi yang aku temukan berdasarkan sumber bacaan sore ini, bahwa Di antara kebesaran Allah, adalah Dia menciptakan pasangan dari diri kita sendiri, agar kita merasakan kedamaian satu sama lain. Dan Dia menciptakan Cinta dan Kasih Sayang di antara kita. Yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berilmu.
Kalimat itu aku kutip di salah satu buku karya seorang enterpreneur muda yang di awal kemunculannya mengulas habis tentang Keajaiban Otak Kanan. Kalian tentu paham dengan orang ini, Right! Maaf saya ambil salah satu unick baitnya, he he he.
Tapi dengan rasa hormat untuk tidak terlalu berlebihan mungkin, bahwa sebenarnya kalimat di atas diambil dari salah satu ayat di dalam Kitab Suci Al-Quran. Lebih jelasnya akan aku berikan terjemahannya di bawah ini ;
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kita cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).
Jadi intinya begini, saudara. Perihal antara kau sudah menjalani status menikah atau belum, aku tidak bisa berkomentar banyak. Sebab dengan kerendahan hati yang amat mendalam, saat ini aku masih berstatus belum menikah. Entah suatu saat nanti, bila kalian tidak sengaja menemukan tulisan ini, sebaiknya jangan berkomentar terlalu menjastis. Sebab, siapa tahu di masa depan aku sudah menikah atau mungkin sudah mempunyai anak, kemungkinan terburuknya, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Na'udzubillah, semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku, aamiin.
Di dalam sebuah hubungan percintaan. Maaf, ini agaknya terlalu frontal bila dikatakan percintaan. Maksudku, di dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terikat dalam status pernikahan, agaknya memunculkan sebuah misteri tersendiri bagiku. Sebab, banyak orang membicarakan tentang kedamaian yang akan didapat setelah melangsungkan pernikahan.
Kedamaian seperti apa yang akan mereka dapatkan setelah menikah? Apakah ada kedamaian yang bisa didapatkan seorang diri tanpa melalui hal semacam itu? Adakah makna selain kedamaian, sebab kedamaian adalah tempat di mana semua orang ingin menuju ke sana.
Seorang teman memberitahukan padaku, bahwa ketika seseorang masih sendiri antara laki-laki dan perempuan, mereka ini diibaratkan seperti debu-debu yang berkelana menjelajah dunia. Dia masih mengikuti arah angin yang berembus, ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah. Namun, setelah mereka disatukan dalam sebuah proses yang tidak bisa dijelaskan secara logika sebab ilmu Allah, teramatlah sangat luas, maka debu-debu tersebut menyatu dan jatuh ke bumi menjadi tanah yang padat dan kuat.
Seorang laki-laki, akan berjalan tak tentu arah tujuan dalam makna yang lebih dalam. Bukan mengindahkan mereka yang selalu bergumul dengan kitab suci ataupun mereka yang selalu berseteru dengan kekufuran. Tetapi, ada sebuah keutamaan yang harus mereka jalani agar semua kerja keras di dunia ini menjadi paripurna dengan adanya hubungan pernikahan.
Permasalahan ini sebaiknya menjadi bahan pemikiran setiap orang, sebab di akhir ayat itu, menyebutkan bahwa setiap pasangan merupakan tanda-tanda bagi orang yang berilmu.
Ini bukan curhat, saudara, sebab memang aku selalu ingin mengetahui hal yang tersembunyi dalam setiap persoalan, termasuk hal ini. Bagiku yang masih seorang diri, mengartikan kedamaian adalah ketika hidup kita tidak terusik oleh hal-hal sepele. Tetapi, bukankah menikah itu justru akan selalu bergesekan dengan hal-hal sepele lainnya. Lantas kedamaian apa yang dimaksudkan oleh Allah di dalam firmannya itu?
Aku tidak akan menduga-duga bahwa pemahamanku saat ini akan melampaui ayat itu. Justru jauh dari pada itu, aku harus senantiasa menggali kemampuanku untuk mengetahui makna kedamaian itu sendiri. Tidak apalah orang lain berpikir bahwa cara mengetahuinya yaitu dengan mencobanya langsung. Maaf, untuk urusan yang satu ini, menurutku kita tidak boleh main-main dan tidak boleh coba-coba, sebab setengah dari hidup kita di dunia ini bergantung padanya.
Mohon maaf, bukanya aku tidak rindu dengan kalian. Sebab waktu memberikanku keterbatasan untuk menulis. Tetapi, dilain waktu inshaAllah aku sudah menemukan jawabannya dari kasus ini. Mohon maaf, jika judul dan isi tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Semoga di lain kesempatan aku segera membereskan kasus ini. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum wr.wb
IDUL FITRI (Lebaran, Takbiran dan Mabok-Mabokan)
Imajinasiku Mangkrak Karena Writers Block.
Entah sudah berapa lama memang aku merasakan bahwa kekuatan imajinasi ada batasnya, padahal ilmu Allah sangatlah luas. Sudah aku katakan lebih dari berbulan-bulan lamanya, aku mengidap penyakit yang biasa para penulis alami, yaitu "Writers Block".
Mohon maaf, aku sedang tidak ingin menganggap buruk permasalahan ini, bisa jadi timbulnya masalah ini ada hikmah di belakangnya. Tetapi aku sulit menemukannya. Mungkin kamu menemukan itu?
Bagiku menggali kemampuan diri amatlah sulit jika kita hanya berdiam diri saja tanpa melakukan aksi yang dapat menimbulkan efek bergeraknya setiap otot-otot tubuh serta otak kita. Aku begitu lemah menghadapi kenyataan bahwa dunia kepenulisanku ini, yang bila diukur masih jauh panggang dari pada api, bahkan aku belum menemukan alat pemanggangnya.
"Apakah aku sedang mengeluh, hei!"
"Maaf aku."
"Tidak, tidak. Aku sedang tidak mengeluh, aku hanya kesal pada diriku sendiri. Apakah itu sama dengan mengeluh?"
"Aku tidak tahu."
Penyakit ini menurutku tidak ada obatnya. Sebab apa? Toh, beberapa penulis-penulis besar buktinya mengalami hal yang sama sepertiku. Tetapi, yang membedakannya dari semua itu adalah kemampuan untuk segera bangkitnya begitu besar. Semangatnya membara apabila mereka telah melewati depresi ringan itu.
"Apa aku boleh tertawa?"
"Kenapa?"
"Kau berbicara seperti sedang mabuk."
"Jaga ucapanmu! Aku ingin melanjutkan."
Seorang teman berkata padaku, dan teman lainnya menyemangati secara bersama-sama. Sarannya pada mereka yang sedang terjangkit penyakit ini, dengan bergiliran;
- "Kalau aku selalu nonton film Jepang," *dia perempuan, mungkin film jepang yang dia maksud adalah film-film romantis. Atau bisa jadi film-film bergenre misteri dan film-film aksi lainnya. Entahlah kalau dia laki-laki, mungkin persepsiku berbeda.
- "Kalau aku baca buku, nonton film, jalan-jalan pake motor keliling kecamatan." *Yang satu ini patut dicoba teman-teman.
"Apakah Writers Block bisa kita padamkan?"
"Oh. Itu pertanyaan berat saudara."
Berkaca dari pengalaman para penulis-penulis besar, yang juga mereka selalu mendapati penyakit ini, bisa dikatakan sulit untuk menghilangkannya. Tapi mungkin, ini hanya sekedar ide saja, timbulnya penyakit ini bisa jadi lantaran kita kurang mempersiapkan segala sesuatunya.
Ibarat kita akan perang. Strategi, kemampuan pertahanan, senjata, dan pasukan tentunya harus diperhitungkan secara matang. Sama halnya dengan menulis, persiapan-persiapan sebelum melakukan kerja menulis seyogyanya harus dipersiapkan secara matang juga. Melalui riset mendalam, memperbanyak bacaan agar kaya kata, itu sangat membantu mungkin bila diteliti lebih lanjut.
"Ha ha ha ha,"
"Kenapa?"
"Kau berbicara seolah sudah melakukan itu semua."
"Belum memang, tapi lihatlah. Kau sendiri tercipta berkat keagungan kuasa Tuhan yang memberikan imajinasi padaku untuk merangkai kata dan menciptamu."
"Jangan bercanda?"
"Atau mau kumatikan sekarang dirimu itu,"
"Jangan-jangan. Aku masih ingin menemanimu."
"Tidak. Aku sudah selesai saat ini juga."
"Begitu?"
"Iya."
"Baiklah."
Jadi teman-teman kunci itu semua, untuk meminimalisir agar penyakit writers block agar tidak membendung dan menutup sumur imajinasimu adalah dengan menulis, serta mempersiapkan tujuanmu akan menulis apa. Menulis dalam hal ini adalah, menulis apapun, bahkan cerita yang sangat tidak masuk akal seperti ini. Cobalah! Jika masih gagal, kita cari tahu sama-sama masalahnya.
Thank You.
Wassalamu'alaikum w.w
PROSES (PERNIKAHAN)
RAMADHAN DAN 3 HARI DALAM HIDUP MANUSIA (KEMARIN, HARI INI & ESOK HARI)
Paling Banyak Dibaca Pengunjung
Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak
Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...
-
Oleh : Zein Abdullah Sudah tidak habis pikir bagaimana media begitu gencar dan bersemangat membesar-besarkan kasus perceraian pa...
-
Oleh : Zein Abdullah Hari Gini Masih Ngeblog? Entahlah. Kadang aku juga bertanya-tanya dalam hati: masih adakah orang yang mau membaca blog...
