Assalamu'alaikum wr.wb
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Kali ini aku akan memberikan opini mengenai kasus-kasus pembakaran manusia secara hidup-hidup pada beberapa waktu belakangan.
Sungguh miris, melihat video adegan pembakaran yang dilakukan oleh massa secara membabi buta di sosial media. Aku mengutuk dengan sangat teramat keras, semoga manusia di bumi indonesia ini menjadi manusia yang berbudi luhur dan baik terhadap sesama.
Aku akan mengutip sebuah pertanyaan dari Aiman Witjaksono, seorang jurnalis Kompas dalam sebuah artikel. Pertanyaan ini sebaiknya menjadi bahan renungan juga untuk sesama manusia, berikut petikannya kurang lebih ; "Sungguh saya tak punya jawaban, kenapa ada banyak sekali orang yang begitu tega membiarkan orang di depan matanya disiksa dan dibakar hidup-hidup!"
Notes ; Seorang Pria diamuk massa dan dibakar hidup-hidup di Musala Al Hidayah, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Pria yang belakangan diketahui bernama M Alzahra atau Joya ini diduga mencuri amplifier atau mesin pengeras suara.
Begitu pun dengan aku sendiri, apa yang bisa menjawab itu? Entah kenapa kejadian itu terus terulang. Di video lainnya, orang-orang membakar manusia setelah diikat dengan tali, lalu ramai-ramai membakarnya, namun dari umpatan mereka aku mendengar gelak tawa yang nyaring tersiar di dalam video itu. Ini apa? Tidak habis pikir mereka tega melakukan hal itu.
Aku mencoba mencari alasan dan hasilnya seperti ini ;
Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan, kasus pengeroyokan dan pembakaran secara hidup-hidup tak lepas dari adanya crowd atau kerumunan. Memang kerumunan tak selalu negatif. Namun jika sudah mengarah pada mob, maka bisa dikategorikan kriminal.
"Karena ini sudah berkerumun, berkumpul, berubah besar, dan mengamuk, dan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan individu pribadi," ujar Adrianus saat berbincang dengan Liputan6, Jakarta, Jumat 4 Agustus 2017.
Mob adalah sekelompok orang tanpa dukungan masyarakat yang dengan marah menyerang dan berusaha melukai atau merusak suatu objek tanpa mengindahkan norma sosial dan hanya berpegang pada pertimbangan yang sederhana.
"Sehingga ketika mob ini terjadi, memang harus dilakukan upaya paksa untuk kemudian mob itu bubar," sambung dia.
Kendati, menciptakan mob juga tidak gampang. Menurut Adrianus, butuh proses untuk menciptakan mob, setidaknya dengan adanya sosok pemimpin atau yang dituakan dalam kerumunan tersebut. Selain itu juga harus ada isu bersama yang membuat orang mudah terkoordinir.
Lantas tidak adakah seseorang yang bisa menolong mereka, atau setidaknya melapor kepada yang berwajib? Kemungkinannya ada, namun sangat kecil jika dilakukan di tempat dengan tidak ada perikemanusiaan di sana, atau bisa jadi mereka sudah memikirkan hal itu, namun masih kalah dengan euforia yang sedang terjadi di sekitarnya.
Fenomena ini dinamakan Bystander effect. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, orang-orang di sekitarnya yang melihat akan berpendapat pasti ada yang membantu. Celakanya, semua orang berpikiran seperti itu dan akhirnya tak seorang pun datang membantu. Lebih lengkap mengenai Bystander Effect, kalian bisa baca di sini.
Urusan manusia memang rumit, kita tidak bisa mengatakan hal yang benar dari satu sisi. Perlu kejelian untuk menilai dan menyikapi permasalahan ini. Secara garis besar, Si Pelaku bila dalam kasusnya benar-benar bersalah, tentu harus ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku. Namun jika yang menghukumi adalah kerumunan massa dengan main hakim sendiri, tentu hal ini adalah sebuah kejahatan yang perlu dihukum seberat-beratnya, sebab bukan tugas mereka untuk menghukumi.
Saranku, jika kalian mendapati hal semacam itu, jangan ragu untuk segera melapor kepada pihak yang berwajib, jangan sampai kejadian ini terus berulang. Tumbuhkan di dalam diri kita, bahwa setiap manusia pasti punya salah, aku pun banyak salah, ada begitu banyak alasan mengapa seseorang melakukan perbuatan buruk. Kita bukan hakim yang bisa menentukan salah dan benar. Allah sebagai Sang Pencipta, selalu memberi maaf kepada hambanya, lantas kenapa kita bertindak melebihi tuhan. Astaghfirulloh hal'adzim!
Namun bila ditilik dari sisi yang bisa aku sangkutkan dengan nilai hati pada manusia. Mungkinkah perilaku mereka, dalam kasus ini adalah para pelaku pengeroyokan, sudah tertutupi hati mereka oleh dendam dan amarah? Apakah mereka telah buta hatinya? Tindakan itu sangat biadab dan tidak bisa disebut sebagai tindakan manusia. Apakah pemicunya dari sedikit kemaksiatan manusia yang terus menerus ditumpuk tanpa membersihkannya dengan bertobat kepada Allah?
Syeikh Ibn Qayyim menyebutkan beberapa hukuman, akibat dari perbuatan maksiat yang cukup membuat seseorang harus berpikir, sebelum melakukan perbuatan maksiat. Digambarkan oleh Syikhul Islam, akibat perbuatan maksiat itu antara lain :
Pertama, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu, mempunyai akibat, akan dapat menutup hati, pendengaran, dan penghilatan. Sehingga, terkuncilah hatinya, tersumbat kalbunya, karena ia penuh dengan kotoran yang berkarat. Allah yang membolak-balikkan hatinya itu, sehingga tidak memiliki pendirian, membuat jarak antara diri dan hatinya. Allah akan membuatnya lupa untuk berzikir, dan membuat lupa dirinya sendiri.
Allah meninggalkan orang-orang berbuat maksiat dengan tidak membersihkan hatinya. Maksiat membuat dada seseorang sempit, sukar bernafas seperti naik ke langit, hatinya dipalingkan dari kebenaran, menambah penyakit dengan penyakit, dan akan tetap sakit.
Na'udzubillah, semoga kita terhindarkan dari penyakit hati seperti itu. Jagalah hati kita dari maksiat-maksiat kecil, sehingga bersih cahayanya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang saleh, aamiin.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar