IDUL FITRI (Lebaran, Takbiran dan Mabok-Mabokan)



     Alhamdulillah, malam ini tepatnya 1 Syawal sudah. Selama satu bulan penuh kemarin, kita telah melaksanakan ibadah wajib Shaum Ramadhan. Malam ini ramai di mana-mana orang mengumandangkan takbir. Tapi Maaf, sebelumnya saya tidak ingin mengotori kesucian malam yang indah ini, tetapi inilah perasaanku. Semoga kalian memakluminya.
     Di belahan bumi jawa tengah, di desa yang sangat aku banggakan karena ada ayahku ini sedang berlangsung aktifitas yang sama. Anak-anak riuh menabuh kentungan dan bedug riang gembira seolah besok sudah tidak lagi menahan lapar dan haus.
   Aku hanya menghibur diriku saja, sebab hanya beberapa anak-anak saja kata ibuku, yang melaksanakan shaum, terlebih adikku yang satu itu. Karena anak seorang pemuka agama di desa, mau tidak mau harus menuruti ayahnya. Belajar, kata ayahku. Alhamdulillah, kami dikaruniai keluarga yang sangat dekat dengan agama meskipun lingkungan masih jauh dari itu. Semoga saja ada hidayah turun di desa kami supaya orang-orang mau belajar agama. Itu doa kami sekeluarga.
     Ramadhan di desaku atau di dusun tempatku tinggal sekarang mulai ada kemajuan. Setidaknya jeripayah ayahku membuahkan hasil, sebagian masyarakat sudah mau menginjakkan kakinya ke langgar yang dibangun 3 atau 4 tahun silam itu. Alhamdulillah.
Banyak rasa syukur yang bisa aku panjatkan kepada Allah, sebagai pemberi nikmat untuk iman dan islam pada keluargaku. Semoga Allah terus memberi rahmat dan ridhonya kepada kami sekeluarga dan yang paling khusus kepada dusun dan desaku tercinta, semoga berimbas ke seluruh desa tentunya, Aamiin.
     Namun, pemandangan yang sungguh ironis di dusunku masih saja berjalan seperti biasanya. Kontradiktif dengan kegiatan yang sedang berlangsung. Di sekitaran rumahku, sedang ramai anak-anak dan orang tua mengumandangkan Takbir, sedang di sebelah sana, ramai anak-anak dan orang tua membeli Bir. Sungguh malang, menyedihkan dan membuat teriris hati ini, sebab di malam yang suci ini kami masih bergesekkan dengan kemaksiatan yang ada di depan mata.
Mudik dan dan lebaran menjadi ajang berpesta pora menghamburkan uang untuk mabuk-mabukkan. Sungguh ironis. Untunglah Allah dengan segala kebijaksanaan-NYA masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pertobatan. Tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Allah untuk mengembalikkan itu semua. Aamiin.
     Di hari yang baik ini, saya hanya ingin berdoa kepada Allah, semoga kita senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT untuk terus memperbaiki diri dalam jalan yang diridhoi oleh-NYA. Semoga Allah terus memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat sebelum ajal menjemput. Aamiin.
Wassalamualaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...