Hakikat seorang manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi. Ia diwasiatkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjaga bumi ini — bukan sekadar menempatinya. Dalam Islam, pemahaman seperti ini adalah bagian dari aqidah yang mesti tertanam dalam diri.
Pernah ada keraguan dari para malaikat sebelum manusia diciptakan. Mereka khawatir bahwa manusia akan kembali membuat kerusakan di muka bumi. Namun, Allah Al-Khaliq lebih mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi.
“Dan, aku wasiatkan kepadamu (banyak-banyak mengucapkan), ‘Subhanallah wa bi hamdih (Segala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya)’. Sebab, keduanya adalah shalat (tasbih)-nya para makhluk, dan dengan keduanya makhluk ditimbang. Firman-Nya: ‘Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun’.”
(QS. Al-Isra: 44)
Seluruh alam semesta sejatinya bertasbih kepada Allah dengan cara mereka masing-masing. Mereka tunduk dan berserah diri kepada-Nya, rela menjadi bagian dari sistem kehidupan yang ditetapkan-Nya.
Namun, berbagai fenomena alam kini menjadi cermin dari ketidakseimbangan peran manusia. Sungai meluap dan membanjiri perkampungan, tanah longsor menelan desa-desa — semua itu adalah tanda ketidakmampuan manusia menjaga dan merawat bumi. Air adalah makhluk Allah, sama seperti kita.
Tanah yang dulu subur kini digali hingga ke jantungnya, gunung-gunung dan sawah-sawah dirampas oleh ketamakan manusia demi keuntungan sesaat. Manusia diberi mandat untuk menjaga alam, tetapi di sisi lain justru menjadi perusaknya.
Jika manusia memahami hakikat dirinya, maka alam dan manusia akan hidup harmonis. Mungkin pepohonan tak perlu lagi dipupuk dengan bahan kimia untuk berbuah manis, padi tak harus disemprot agar tumbuh subur.
Mari menjadi khalifah sejati, sebagaimana yang digariskan Allah kepada kita.
Inilah jalan hidup kita — jalan penjagaan, keseimbangan, dan pengabdian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar