Fragmentasi Diri


By: Juli

Pada dasarnya manusia memiliki fitrah yang baik. Tidak ada manusia yang jahat atau buruk — yang ada hanyalah mereka yang sedang tersesat. Mereka yang berperilaku buruk sejatinya menginginkan kembali ke jalan yang benar. Namun karena terlalu lama tersesat, mereka tak menyadari bahwa dirinya telah jauh menyimpang, hingga merasa nyaman dalam kegelapan dan enggan untuk berubah.

Analogi ini mengingatkan kita pada film Inception (2010) yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio. Ia berperan sebagai Cobb, seorang extractor — ahli spionase alam bawah sadar yang mampu memanipulasi pikiran seseorang saat tertidur. Dalam film itu, istri Cobb terjebak di dimensi bawah sadar dan meyakini bahwa dunia mimpi itulah realitas sesungguhnya. Ia menolak dunia nyata yang sebenarnya, karena terlalu lama hidup dalam ilusi. Ngeri, bukan?

Begitu juga dengan karakter Joker. Ia adalah sosok badut yang frustrasi karena tekanan hidup yang tak berkesudahan. Ia dibenci di tempat kerja, dikhianati teman sendiri, dan menemukan kenyataan pahit tentang keluarganya. Semua luka itu ia simpan, hingga akhirnya berubah menjadi energi gelap — kekuatan yang membuatnya eksis lewat kekacauan. Ia tidak berjuang demi politik atau kekuasaan, tapi demi pengakuan. Ia ingin diakui, dilihat, dan dihormati — hingga akhirnya menjadikan dirinya sendiri sebagai “tuhan” atas hidupnya.

Dalam Islam, hati manusia yang melakukan dosa akan mendapat satu titik hitam. Namun ketika ia bertaubat, titik itu akan dihapus. Bayangkan jika hati kita telah pekat dan hitam, akankah masih bisa bersih? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing — dan Allah Maha Penerima Taubat.

Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 30:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Meskipun begitu, Allah tetap memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih.
Mau mengambil jalan yang baik, silakan.
Mau mengikuti jalan yang sesat, juga silakan.
Namun, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

Dan Allah telah menjelaskan dalam QS. Asy-Syams [91]: 7–10:

“Demi jiwa dan penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Life is a choice.
Manusia diberi akal dan hati, agar mampu memilih jalan kebenaran — bukan karena terpaksa, tapi karena sadar bahwa fitrahnya memang suci.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...