Berhijab adalah Melawan


Berhijab adalah bentuk perlawanan. 
Perlawanan terhadap ide yang menempatkan “cantik” sebagai keberanian menampilkan bentuk tubuh dan mengumbar aurat.

Dalam dunia modern hari ini, makna cantik telah dipersempit oleh industri dan media.
Kulit putih, tubuh langsing, dan wajah simetris dijadikan standar universal, seolah itu satu-satunya ukuran keindahan.
Padahal, semua itu hanyalah konstruksi yang diciptakan agar produk mereka laku.

Di berbagai belahan dunia, kecantikan memiliki makna yang berbeda.
Tidak ada satu standar yang bisa diberlakukan untuk semua.
Islam pun memandang kecantikan dari dimensi yang jauh lebih tinggi: spiritual dan moral, bukan sekadar kekuasaan dan pengaruh.

Dalam Islam, kecantikan adalah keseimbangan antara lahir dan batin.
Ia tidak berhenti di wajah, melainkan terpancar dari hati yang bersih dan akhlak yang mulia.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”

Sebelum datangnya Islam, derajat wanita begitu rendah.
Mereka diperlakukan layaknya barang dagangan, diperjualbelikan, direndahkan, bahkan dianggap aib bila lahir dalam keluarga.
Namun semua berubah ketika Islam datang membawa cahaya peradaban.
Wanita dikembalikan kepada fitrahnya, ditinggikan derajatnya, dan disejajarkan dalam kemuliaan manusia.
Inilah hakikat kesetaraan yang sesungguhnya, yang bahkan dunia Barat terus mencari bentuknya hingga hari ini.

Dengan syariat hijab, Islam bukan sedang mengekang wanita.
Hijab justru menjadi pelindung, dari pandangan yang menodai, dari bahaya dunia, dan dari murka di akhirat.
Sebab syariat Islam hadir bukan untuk menekan, melainkan untuk menyelamatkan manusia di dua alam: dunia dan akhirat.

Maka berhijab bukan sekadar penutup kepala.
Ia adalah simbol perlawanan terhadap ideologi-ideologi yang menyelewengkan makna kemuliaan perempuan:
feminisme yang kehilangan arah, liberalisme yang meniadakan batas, patriarkisme yang menindas, dan komunisme yang menghapus fitrah.

Berhijab adalah pernyataan sikap.
Bahwa kecantikan sejati bukan di mata manusia, melainkan di sisi Allah.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

sumber gambar : pngtree

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...