Memahami Logika dan Sistem dalam Kehidupan Sehari-hari

Oleh : Zein Abdullah

Memahami logika dan mengetahui bagaimana sebuah sistem bekerja dapat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya, ini adalah pernyataan yang sarat subjektivitas. Ia bukan hasil dari penelitian intens yang dilakukan terhadap sekelompok komunitas, melainkan lahir dari pengalaman pribadi. Pendapat ini tentu bisa disanggah, atau diluruskan. Tulisan ini juga bukan sebuah tesis yang berpijak pada keilmuan modern, melainkan upaya memahami pengetahuan tentang hakikat tentang pola pikir dan sistem logikanya.

Tidak menutup kemungkinan, setiap orang mengalami momennya sendiri-sendiri dalam memahami hal tersebut.

Kisah ini terjadi dalam hidup saya, mungkin berkali-kali, sampai rasa bosan terhadapnya hilang dengan sendirinya. Saat itu masih dalam suasana lebaran. Saya mudik dengan membawa sepeda motor. Setibanya di rumah, tiba-tiba lampu motor mati. Saya memang lulusan otomotif, tetapi untuk urusan memperbaiki kendaraan, kemampuan saya bisa dibilang nol besar.

Namun waktu saat itu memungkinkan, dan rasa penasaran muncul sebuah bisikan dalam hati yang mengatakan bahwa manusia dapat mengatasi hal ini. Perasaan itulah yang akhirnya memberanikan saya untuk membongkar kendaraan sendiri.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengingat kembali pelajaran sekolah tentang kelistrikan kendaraan. Bagaimana lampu bisa menyala? Dari mana sumber listrik itu berasal? Mengapa lampu bisa berkedip? Apa yang membuatnya mati? Untuk apa banyak kabel di dalam motor mengapa tidak satu kabel saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan.

Sedikit demi sedikit, informasi tersebut saya tampung di dalam kolam pikiran. Saya membiarkannya berkembang, saling bertemu, dan mencocokkan diri satu sama lain. Setelah serangkaian pemahaman terkumpul, hukum-hukum kelistrikan yang pernah saya pelajari mulai saya terapkan pada kendaraan saya sendiri. Secara perlahan meski masih terasa lambat, saya mulai memproyeksikan gambaran alur arus listrik pada motor. Pada tahap ini, saya mulai memahami bagaimana sistem kelistrikan motor dapat bekerja.

Langkah berikutnya adalah mengingat kembali bagaimana lampu pada kendaraan saya bisa mati. Hal ini memudahkan saya untuk menangani masalah yang terjadi tanpa merusak bagian lain yang sebenarnya tidak berkaitan. Sebagaimana seorang dokter, mereka tidak akan langsung memberikan obat atau menyuntik pasien tanpa terlebih dahulu mendiagnosis penyebab penyakitnya.

Setelah mengetahui kemungkinan permasalahan, saya mulai memeriksa apakah semua kabel yang tersambung ke setiap komponen kelistrikan berada pada jalurnya, serta memastikan tidak terjadi hubungan arus pendek yang menyebabkan lampu mati. Jika ditemukan kabel yang lepas atau sambungan yang kurang rapat, saya memperbaikinya. Hingga tahap ini, sedikitnya masalah kelistrikan pada kendaraan dapat diselesaikan, meskipun waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Di kesempatan lain, saya persingkat, kasus serupa kembali terjadi. Namun karena saya sudah memiliki pengalaman sebelumnya, saya tidak perlu mengulang proses awal seperti pada kejadian pertama. Secara otomatis, saya dapat mengatasi masalah tersebut tanpa membutuhkan waktu yang panjang.

Pengalaman serupa bahkan terjadi hari ini, ketika orang lain mengalami masalah kelistrikan pada kendaraannya. Saya tidak ragu untuk membantunya, dan dalam hitungan menit, permasalahan itu dapat diselesaikan.

Dari situlah saya sampai pada kesimpulan sederhana: memahami logika dan mengetahui sistem dapat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengasah logika berpikir serta mempelajari sistem kelistrikan pada kendaraan, saya mampu mengatasi lampu motor yang mati, sesuatu yang sebelumnya terasa rumit.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa persoalan utama bukanlah lampu motor yang mati, melainkan cara saya memandang masalah itu sendiri. Ada dua pilihan yang selalu hadir: menyerah pada kepanikan, atau memberi ruang bagi akal untuk bekerja. Dalam pengalaman ini, saya belajar bahwa logika tidak pernah berteriak, ia hanya menunggu, menunggu kita cukup tenang untuk mendengarnya.

Hubungan sebab dan akibat ternyata bukan sekadar konsep pelajaran sekolah, melainkan bahasa sunyi yang digunakan kehidupan untuk berkomunikasi dengan manusia. Setiap kerusakan membawa isyarat, setiap kegagalan menyimpan petunjuk. Namun isyarat itu hanya bisa dibaca oleh mereka yang bersedia berhenti sejenak, menunda reaksi, dan memilih untuk memahami.

Mungkin inilah yang kerap kita sebut sebagai kedewasaan: bukan kemampuan untuk selalu benar, tetapi kesediaan untuk menelusuri sebelum menyimpulkan. Sebab sering kali, bukan dunia yang terlalu rumit, melainkan pikiran kitalah yang terlalu tergesa-gesa.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan logika. Ada hal-hal yang memang harus diterima, bukan dipecahkan. Namun setidaknya, dengan memahami cara kerja sebuah system, sekecil sistem kelistrikan motor, kita belajar satu hal penting: bahwa hidup pun berjalan dengan pola, dan manusia diberi akal untuk membacanya, sejauh ia mau berusaha.

Barangkali setiap orang memiliki momennya sendiri untuk sampai pada kesadaran ini. Bagi saya, ia hadir lewat lampu motor yang mati di hari lebaran. Bagi orang lain, mungkin lewat kegagalan, kehilangan, atau kebingungan yang jauh lebih besar. Apa pun jalannya, semoga kita tidak sekadar melewati peristiwa, tetapi pulang dengan pemahaman.

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak

  Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...