
Beberapa hari lalu, saya melihat sebuah video wawancara seorang ulama muda yang begitu terkenal dengan ketegasannya. Beliau menyebut-nyebut tentang kalimat pengunduran diri dari sebuah organisasi yang cukup besar di Indonesia. Mendengar setiap kalimatnya membuat saya miris hati terhadap beberapa oknum yang selalu menyudutkan beliau. Hal ini lah yang menjadi tujuan saya menulis sepatah dua patah kalimat-kalimat di bawah ini. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua, Aamiin.
Jika seseorang keluar dari sebuah organisasi, bukanlah ia sedang melepas keyakinannya, tetapi karena ketidakenakan, ketidakcocokan hati, serta gesekan-gesekan yang jika dibiarkan, lambat laun keyakinan atau aqidah yang dulunya bersih akan bercampur dengan perasaan negatif, dan akhirnya merusak akidahnya itu sendiri yang bersemayam dalam jiwa. Rusak jasad tidak separah rusak jiwa, jika karena ia kotor, maka rusak pula seluruh alam kemanusiaannya.
Memutuskan untuk hijrah bukan berarti memutus silaturahim. Karena alam itu tidak akan pernah disekat-sekat karena sebuah organisasi yang lahir dari alam pikiran yang juga tetap terbatas kapasitasnya.
Jika seseorang menghalang-halangi orang lain yang memutuskan untuk hijrah dari sebuah organisasi, atau menjelekkannya, maka dia tak jauh beda dengan binatang yang memakan daging keluarganya sendiri.
Kefanatikan haruslah bersumber dari aqidah yang lurus, bukan karena perasaan-perasaan / prasangka yang turun temurun terus diwariskan kepada anak-cucu. Dzon-dzon negatif haruslah selalu disaring, beristighfarlah, karena semua keluputan manusia adalah sifat dasar yang akan selalu begitu. Kesadaran, dan mengakui diri sendiri, merupakan kearifan yang tidak ternilai harganya, meskipun mata manusia sering kabur akan hal itu.
Berbijaksanalah dalam setiap keputusan, jangan terus kau gunakan amarahmu untuk menghujat Si Itu dan Si Ini. Berpikirlah dan renungi apa yang menyebabkan keputusannya itu menyebabkan Ia harus keluar dari organisasi. Pelajaran bagi kita adalah, kemaksiatan terorganisir seperti apa yang membuat buah yang belum masak terus jatuh berguguran ke bumi.
*Teruntuk umat yang selalu terjebak dalam paradox kefanatikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar