Sudah Jatuh Tertimpa Tangga ( Nasib )








Sebelumnya saya tidak akan berniat untuk menceritakan kisah ini. Namun, entah kenapa suasana begitu mendukung untuk mengerahkan seluruh kemampuan agar hasrat dan nafsu segera tersalurkan. Ini bukan cerita lucu, juga bukan cerita pelik yang menguras energi untuk memahami setiap simbol-simbol yang ada. Ini hanyalah cerita renyah yang mungkin bagi saya sendiri tidak memiliki arti tertentu namun entah kenapa, saya berusaha menceritakan kisah ini berulang-ulang kepada teman-temanku. Dan pada gilirannya kali ini, saya akan membagikan kepada pembaca sekalian apa yang sudah terjadi pada hari minggu tanggal 7 januari 2018.

Siang itu, saya hendak pergi membeli celana pesanan dari seorang konsumen di Facebook. Motor Karisma hitam milik saya segera dipanaskan pukul 11 siang. Lalu mengecek apakah masih ada kendala di bagian rantai dan remnya. Sudah berbulan-bulan motor saya belum sempat diterapi ataupun diremajakan. Memang di bagian rantai ada sedikit kendala, namun santai saja karena motor masih bisa digunakan. Bagian kopling juga menurut sang dokter di daerah Cikutra, sudah mulai menandakan adanya kerusakan, namun motor masih bisa dipakai.

Pukul 11;30 saya langsung berangkat menuju ke kopo. Dengan santai saya mengendarai motor melewati jalan P.H MUSTHOPA / Jalan Suci. Tepat di samping Masjid Pusdai, Bandung, saya sempat mendengar suara, “Gletuk …. “ pada bagian bawah belakang sebelah kiri. Saya pikir itu hal biasa, dan saya langsung saja menjalankannya lagi. Namun, ketika hendak melewati lampu merah di pertigaan lapangan Gasibu, tiba-tiba motor saya ngambek dan tidak mau maju. Entah apa yang sedang dipikirkan si Karisma hitam ini.

Di bawah terik matahari yang menyengat tubuh. Balutan jaket tebal serta baju lapis 3 di tubuh saya itu, makin menambah hangat suasana. Namun, saya tidak menghiraukannya. Segera saya turun dari motor dan melihat keadaan. Melihat ke bagian bawah motor yang ternyata kemogokan itu diakibatkan oleh lepasnya rantai yang masuk ke sela-sela gir dan shockbreaker. Selain itu, piringan gir tutup tromol roda belakang, mencuat dan menggesek-gesek bagian bawah shockbreaker. Akibatnya bagian bawah shockbreaker saya dan bagian lainnya lecet-lecet. Saya coba tarik rantai itu, namun tidak bergeming. Roda saya putar ke depan dan ke belakang, juga masih sama.

Akhirnya karena kemungkinan motor harus dibawa ke bengkel, maka saya mengurungkan niat untuk pergi ke kopo. Transaksi-pun saya lakukan dengan mentransfer dananya ke supplier, lalu meminta agar barang dikirimkan ke konsumen saya. Supplier pun menyanggupi.

Setelah melakukan transaksi, saya mencoba kembali menarik rantai motor agar roda bisa berputar normal. Namun tetap sia-sia saja usaha itu. Saya mencari cara dengan menarik sekuat tenaga shockbreaker ke arah samping dan disaat bersamaan saya menarik rantainya, dan “Flushhhh….” Rantai berhasil ditarik dan diamankan.

Masih di jalan menuju arah Jalan Diponogoro, saya kemudian berniat menuju ke daerah Cilaki. Dimana banyak lapak-lapak onderdil bekas ada di sana. Suara bising tutup tromol yang belah itu menjadi pengiring nelangsanya saya saat mendorong Karisma hitam. Tepat di pertigaan ada tontonan menarik.

Seorang pemuda, sedang menerawang ke arah depan sambil menenteng helm putih yang entah itu miliknya atau bukan. Ia berdiri di samping pos polisi yang berada di atas trotoar jalan di depan Gedung Sate. Nampak wajah kesialan pemuda itu terpapar oleh sinar matahari di atasnya. Di depannya, seorang petugas kepolisian sedang berdiri di tengah-tengah jalan perboden, menghentikan laju mobil, lalu menanyai si pengemudi dan melepaskannya lagi. Sesaat sebelum saya berbelok menuju jalan Diponogoro, Polisi itu menepikan pengendara sepeda motor lagi. Pemuda di samping pos polisi itu kemudian menunduk, mungkin menyesali perbuatannya atau mungkin dia merasa salah jalan yang membuat hari itu dia ketiban sial. Melihat itu, saya semakin bersemangat. Saya berpikir bahwa kesialanku bisa saja lebih besar darinya jika saya melewati jalan itu, karena memang dan memang hari itu saya benar-benar lupa membawa SIM.

Setelah melewati Pos Polisi, saya belok di perempatan antara Musium Geologi Gandung dan Taman Lansia. Tentu saya berbelok ke kanan. Jalanan yang tidak pernah sepi dengan bau sate, serta penjual perabotan-perabotan antik. Memasuki perempata pertama, dari belakang seorang pengendara sepeda motor matik, dengan masker kain yang menutupi mulutnya, berbicara sangat feminis, “Kenapa, Mas? Mau di dorong dari belakang, ngga?” tawarnya. Mendengar itu awalnya agak risih dan buru-buru ingin segera meninggalkan manusia misterius itu. Semakin menjauh dia semakin mengejar saya yang masih menyimpan perasaan negatif itu.

Akhirnya saya tetap menerima, dia men-step motor saya dari samping. Dan alhamdulillah sampai di tujuan. Sebuah lapak dengan banyak sparepart motor di cilaki. Sebelum menurunkan kaki, saya berniat untuk mengucapkan terima kasih kepada laki-laki misterius di belakangku. Dan betapa terkejutnya saya, entah angin apa yang telah melenyapkan sosok misterius itu. Saya terheran-heran kenapa tidak ada. Dalam hati saya telah berpikir buruk terhadap laki-laki misterius yang mempunyai suara feminis itu. Dasar media! Gara-gara ramai diberitakan tentang LGBT saya jadi suudzon terhadap orang.

Di bengkel serba ada daerah cilaki ini, saya mulai mencari seseorang yang bersedia membantu. Laki-laki berkepala plontos di depan saya melihat dengan tatapan seperti mata harimau yang melihat mangsa lengah ini. Saya mulai mengutarakan keluhan pada motor saya. Ia pun kemudian melihat-lihat kondisi rantai yang tergantung pada per-shockbreaker. Ia meminta untuk memangkas plat besi yang mencuat dari tutup romol dengan gergaji. Saya mempersilahkannya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya kemudian tukang bengkel ini menarik rantai yang telah rusak itu. Lalu menyuruh saya untuk mengganti rantainya karena sudah bengkok. Saya tidak terlalu percaya awalnya. Namun setelah melihat sendiri saya langsung pasrah. Tukang bengkel itu masuk ke lapaknya dan mencari-cari sesuatu, “Nah, ini Mas, pake rantai ini saja. Bagus. Original FU,” katanya dengan penuh kemenangan.

Rantai itu tampak berkarat dan sudah berwarna hitam sebagaimana besi dipanaskan, “Memangnya bagus rantai ini, Kang?” kata saya.

“Bagus Mas, ini awalnya tidak ada sambungannya. Soalnya original FU.”

“Kalau tidak ada sambungannya, bagaimana cara melepas dan memasangnya, Kang,” sahut saya yang makin lama tidak percaya, dengan omongannya. Namun, karena rasa lelah, saya tidak berniat untuk meladeni orang ini, “ya sudah Kang, ganti saja.”

“Baik, Mas!”

Tukang bengkel itu benar-benar jago, dalam waktu beberapa menit saja sebelum teman saya datang rantai sudah jadi dipasangkan. Saya memanggil teman, karena saya membawa uang cash di kantong, yang ada uang di ATM, “Di daerah ciateul ada ATM BRI, Mas,” celetuk sosok dari arah depan. Seorang kakek-kakek memakai peci bulat berwarna hitam. Saya berpikir dua kali kalau harus meninggalkan motor sendirian karena orang-orang di sana juga tidak saya kenal. Saya memutar cara agar saya dapat ke ATM tanpa meninggalkan motor.

Dengan memelas, saya meminta kepada tukang bengkel untuk membawa motor yang sudah selesai diperbaiki. Dia-pun menerima usulan saya. Senang hati saya meninggalkan kerumunan para serigala itu untuk mengambil uang sebesar 50 ribu rupiah. Ongkos yang terlalu mahal memang untuk sekedar rantai bekas.

Di samping itu, ketakutan terbesar saya adalah ketika saya berniat mengambil uang di ATM dengan tanpa motor. Saya takut akan terjadi apa-apa pada si motor, seperti cerita-cerita jalanan di televisi. Namun juga saya berpikir sama jika saya berada di posisi tukang bengkel. Sudah capek-capek ngebenerin rantai, eh motor dibawa kabur dan uang tidak dapat. Sungguh dilematis kejadian itu.

Sampai di sebuah ATM dekat Polsek Ciateul, saya turun dari motor kemudian masuk ke ATM. Saat itu ada 2 orang di belakang saya yang ingin ke ATM juga. Namun, di saat yang bersamaan perasaan curiga muncul. Seorang laki-laki di belakang saya, yang memakai jaket bermotif kotak-kotak berwarna merah, tidak terlalu asing. Ditambah gelagatnya mencurigakan. Setelah saya ke luar ATM, saya mengamati orang itu sambil berpura-pura memainkan HP yang sudah habis baterai.

Tidak ada suara apapun di dalam kotak uang itu. Saya perhatikan orang itu hanya mematung di depan ATM. Beberapa menit setelah itu, dia keluar dan perasaan curiga saya masih stabil. Saya berencana untuk mengikuti orang ini dengan pelan dari belakang.

Di atas motor, saya berkendara dengan kecepatan rendah. Mengikuti orang yang di ATM itu. Lampu merah kami lewati dan betapa terkejutnya saya saat orang itu mengambil arah dimana saya memperbaiki motor saya. Saya tidak mau menuduh yang bukan-bukan, namun saat selesai menyerahkan uang kepada tukang bengkel, orang yang mencurigakan itu memutar kendaraannya setelah saya meninggalkan lapak. Kami berpapasan dan betapa kurang ajarnya setelah dia ternsenyum dengan senyum kemenangan dari balik helmnya. Entah apa maksudnya yang jelas saya tahu perasaanku melihat kejadian itu. Saat itu pula, saya menyadari satu hal bahwa kesialan akan datang kapanpun dan bertubi-tubi menimpa kita. Entah hikmah apalagi yang saya dapatkan dari kisah ini, yang jelas ini sungguh bermakna bagi saya. Terima Kasih!





Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...