Seringkali idealisme akan luntur dengan sendirinya ketika seseorang dihadapkan pada kondisi paling sulit dalam hidupnya. Situasi itu memaksanya untuk mengubah prinsip yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya, dan dalam sekejap ia bisa berubah haluan — dari seorang idealis menjadi oportunis.
Namun, itu bukanlah sesuatu yang serta-merta patut disesali. Sebab kehidupan ini tidak hanya ditentukan oleh urusan materiil semata, melainkan juga oleh banyak hal lain yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar prinsip atau retorika.
Secara umum, idealisme hanya berubah dalam tiga kondisi utama:
-
Ketika seseorang meninggal,
-
Ketika seseorang diterpa badai kesulitan,
-
Dan ketika seseorang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam.
Pada kondisi pertama, saat seseorang masih hidup, ia mungkin menjadi sosok yang keras kepala, angkuh, dan arogan dalam memegang idealismenya. Namun, setelah ia meninggal, idealisme itu perlahan akan berubah. Andaipun ada seseorang yang bersuara lantang mengklaim bahwa ia meneruskan risalahnya, tentu tidak akan seotentik pendirinya, bukan? Ada nilai-nilai yang pasti hilang, dan interpretasi yang seringkali tidak lagi sejalan dengan keaslian semangat awalnya. Maka, perlulah kita merenungkan kembali idealisme yang diwariskan, bukan malah bersikap arogan seolah-olah kita yang paling memahaminya.
Kemudian pada kondisi kedua, mereka yang dulu memegang idealismenya dengan teguh seringkali goyah ketika dihadapkan pada realitas yang menyesakkan. Kita sering mendengar ungkapan, “Kesempatan hanya datang satu kali,” namun faktanya justru sebaliknya: kesempatan datang berkali-kali, namun sering kali kita melewatkannya begitu saja.
Mungkin itu adalah ungkapan dari seseorang yang telah kalah dalam pertarungan idealismenya. Ia menyadari bahwa prinsip yang selama ini ia junjung tinggi tidak membuatnya hidup lebih damai, melainkan justru sebaliknya: penuh tekanan, rasa waswas, dan kekhawatiran. Dalam kondisi itu, dorongan kuat untuk bertahan hidup mengharuskannya mengambil jalan berbeda.
Jika dalam konteks peperangan, mundur untuk menyusun strategi baru adalah hal yang bijak. Namun jika mundur itu berujung pada menjauh dari prinsip dan kehilangan arah, maka akan sulit untuk kembali. Entahlah—manusia memang unik dan kadang lucu dalam caranya bertahan hidup.
Lalu, kita sampai pada golongan ketiga: mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara jernih dan reflektif.
Manusia dibekali akal, tapi tidak semua menggunakannya. Orang-orang yang mampu melampaui batas pikirannya, menyelami makna kehidupan, dan memahami bahwa realitas tak selalu datar dan linier—mereka akan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan arah.
Idealisme bagi mereka bukanlah dinding kaku yang menolak semua perubahan, melainkan kompas yang fleksibel. Mereka tetap tahu ke mana arah tujuannya, tapi tidak menutup diri terhadap dinamika kehidupan.
Mereka ini adalah sosok yang telah merdeka secara batin dan pikiran. Godaan dan cobaan pasti datang menghantam, namun justru di situlah mereka mengasah kepekaan, memperluas pemahaman, dan membuka ruang belajar. Mereka tidak kaku, tapi juga tidak mudah hanyut. Idealisme yang mereka pegang bukan hanya sekadar simbol, tapi jalan menuju kematangan hidup.
Akhir kata,
Inilah sedikit gambaran tentang manusia dalam memegang idealismenya. Bukan sebuah justifikasi, melainkan hasil dari refleksi selama ini dalam memahami perilaku manusia dan dinamika kehidupan.
Jika Anda tidak sependapat, silakan beri komentar. Saya sangat terbuka untuk berdiskusi—karena lewat dialog, kita bisa belajar lebih banyak tentang kebenaran dan kehidupan.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar