Tali Hitam Kekuasaan: Ketika Pemuda Dijinakkan dan Perlawanan Dilahirkan

SEBUAH ESAI

Oleh : Zein Abdullah

Kita beranggapan sebagai orang tua bahwa menyerahkan urusan kepada anak muda merupakan sebuah langkah yang terlalu sembrono untuk dilakukan. Hal itu sangat berpotensi menggagalkan seluruh rencana yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya. Anggapan ini lahir dari pemikiran kolot bahwa anak muda tidak sepengalaman orang tua, dan dikhawatirkan ketika urusan itu ditangani oleh anak muda maka akan mengalami kegagalan. Tidak terlintas di benak orang tua bahwa yang akan terjadi justru bisa berupa keberhasilan. Kehati-hatian inilah yang akhirnya menjadi jurang pemisah antara kaum muda dan para orang tua. Tidak sedikit anak-anak muda yang memiliki kreativitas akhirnya lenyap begitu saja karena sikap seperti itu. Mereka bagai seekor kera pertunjukan yang diikat dengan tali, tak memiliki kebebasan apa pun, dan akan selalu dijadikan alat oleh tuannya. Inilah fenomena yang terjadi pada masyarakat kita saat ini.

Lalu, sebagian pemuda—entah dari mana asalnya—mulai menyuarakan pemikiran-pemikiran mereka dan berupaya membuat kontra terhadap para orang tua. Mereka beranggapan bahwa orang tua adalah mesin yang sudah usang dan layak untuk digantikan. Akibat dari kekecewaan itu, mereka selalu melawan tanpa pandang bulu, tanpa berpikir panjang, dan tanpa menimbang-nimbang apakah yang dilakukannya berdampak pada sesuatu yang baik atau buruk. Mereka selalu memiliki pembenaran atas apa yang mereka lakukan.

Orang tua dan anak muda, jika kita perhatikan dalam kehidupan rumah tangga, juga tak jauh berbeda. Betapa sangat merusaknya pola seperti ini jika diterapkan oleh para orang tua, sebab hal tersebut akan membentuk karakter pemuda menjadi sosok yang pengecut dan enggan melawan ketidakmampuannya. Alhasil, mereka akan selalu bersembunyi darinya dan terombang-ambing dalam arus yang membuat mereka semakin menjadi binatang peliharaan yang jinak. Mereka tidak akan mampu berkompetisi dengan siapa pun.

Kekakuan ini menjadikan pemuda, dalam proses pencarian jati diri, berlabuh pada sebuah filosofi kehidupan yang membenarkan cara pandangnya. Itulah manifesto dari kekecewaan yang dialami para pemuda. Mereka akan menjadi pemalas yang filosofis dan digandrungi oleh sebayanya, sebab kesakitan itu dirasakan oleh hampir semua pemuda.

Mari kita berpikir sejenak dan mulai menjelajahi ruang-ruang kosong itu. Adakah cahaya terang yang dapat menyinari tali berwarna hitam di tengah kegelapan? Mari kita merenungi dan meyakini bahwa tali itu benar-benar ada dan pasti ada. Sebab tidak mungkin sebuah keharmonisan terwujud tanpa adanya tali yang mengikat kedua belah pihak yang sedang berseteru.

Orang tua dan anak muda juga dapat kita interpretasikan seperti sebuah negara—dalam hal ini pemerintah dan rakyat. Jika pemerintah sebagai orang tua terlalu mengekang kebebasan rakyatnya, maka apakah tidak mungkin rakyat akan mengalami kekecewaan sebagaimana anak muda itu? Ya, bisa jadi. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kita akan melihat keadaan di mana rakyat semakin menjadi pemalas yang filosofis dan tidak memiliki semangat untuk berkompetisi dengan negara-negara lain di luar sana. Kita akan terus menjadi budak para tuan yang berkuasa, sementara para penguasa akan semakin tersenyum lebar ketika kita menjadi jinak dan bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Akhirnya, rakyat tidak lagi memiliki harga diri yang dipertaruhkan dalam kehidupannya. Akankah kita terus seperti ini? Atau kita akan mulai berupaya mencari tali hitam itu untuk menyatukan kesenjangan tersebut?

Kita mengerti bahwa masalah ini bukanlah suatu kesengajaan, melainkan sebuah kelalaian yang terus-menerus dilakukan. Kita tidak menyadari bahwa hal tersebut berdampak negatif, bukan hanya pada pribadi, tetapi juga pada tatanan masyarakat yang lebih luas. Mari membuka pemikiran dan mulai menerima dengan ikhlas. Ada keharmonisan yang dapat diwujudkan, dan itulah yang seharusnya menjadi harapan kita bersama.

Orang tua akan lebih baik jika bersikap sebagaimana orang tua, dan anak muda akan lebih baik jika bersikap sebagaimana anak muda. Berikanlah ruang bagi para pemuda untuk mengekspresikan kreativitasnya, dan hormatilah orang tua dengan kebijaksanaannya. Mari menjadi manusia yang merdeka.

Wassalam.

Fenomena Fat Cat. #FATCATFENOMENA

Paijo : Man, tau ga yang lagi viral nih?

Piman : Apa Jo?
Paijo : Fenomena Fat-cat.
Piman : Fat itu _Gendut_, Cat itu _Kucing_. Berarti Fenomena Kucing Gendut?
Paijo : Bukan, Oneng! Itu ceritanya ada seorang laki-laki, yang katanya bunuh diri gara-gara kena Gaslighting.
Piman : Opo kui, ora mudeng aku.
Paijo : Yo intine katanya laki-laki ini dimanupulasi sama pacarnya dengan berbagai cara agar dirinya merasa frustasi. Nah yang mengejutkan itu katanya si pacarnya ini suka minta ditransfer uang miliyaran, tapi minta si Lakinya disuruh sama cewenya buat ngirit duit.
Piman : Wes! Sebagai laki-laki aku ora bakal tunduk karo wong wedok koyo ngono. Wong lanang ko mentale tepes.
Paijo : Elah, pean ngomonge tok gede. Diundang bojone mengekerut koyo tikus kademen. Ha ha
Piman : Hush.... privasi iku.
Paijo : Lambemu kui, tuman man man! Ha ha. Tak lanjutke yo. Dadi berita itu dadi viral lantaran akeh wong pada simpati maring cowo seng bunuh diri kui. Nah terus saking simpatine, tempat yang dipake bunuh diri, disimpen banyak makanan. Buat menghargai si cowo kui.
Piman : Lah dalah, kaya pejuang ae yo sampe ngono kui.
Paijo : Lah iyo malah juga ono fanbase juga. Pikir-pikir mengko bahkan dadi simbol gaslighting si FatCat kui.
Piman : Menurutmu pie Jo.
Paijo : Yo iku dadi pelajaran nggo wong wong kabeh, nggo bahan renungan nggo wong kabeh terutama nggo sing ngakune muslim. Buat bahan intropeksi diri buat para laki-laki terutama yang muslim. Kalau hidup gada pegangan terutama Allah, pasti bakal memilih hidupnya itu untuk mengakhiri hidupnya ketika mengalami masalah besar.
Paijo : Orang yang pegangannya bukan Allah. Ketika ada masalah itu mereka memilih melarikan diri. Menggalkan masalah. Padahal mereka tidak tahu, kemanapun mereka pergi selama masalahnya belum beres dia akan selalu menghampiri. Apalagi bunuh diri, hal yang dilarang Allah. Justru makin semakin sulit di akhirat kelak. Mati itu bukan jalan selesai masalah. Atau meninggalkan masalah juga bukan solusi agar masalah hilang. Masalah itu harus dihadapi dan dibereskan. Itu baru Laki.
Piman :
😯
... Ohhh begitu ya. Iya juga ya Jo. Sebagai muslim harusnya kita malah makin deket sama Allah kalau ada masalah bukan malah menjauhi.
Paijo : Betul Man. Makanya terhadap orang yang banyak masalah, banyak melakukan dosa, bahkan ahli maksiat harusnya kita semakin cinta dan sayang terhadap mereka. Bukan malah dijauhi. Bahkan Allah pernah mencintai sorang Ahli maksiat dari pada orang yang ahli beribadah.

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak

  Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...