Pernah merasa hari-hari berlalu begitu saja tanpa makna? Tugas menumpuk, kerjaan nggak selesai, tapi waktu habis entah ke mana? Bisa jadi kamu sedang mengalami yang disebut dengan brain rot.
Apa Itu Brain Rot?
Brain rot — atau dalam bahasa kasarnya, "pembusukan otak" — adalah istilah yang makin populer di kalangan Gen Z. Bukan cuma istilah internet doang, tapi ini merujuk pada penurunan fungsi otak akibat terlalu sering terpapar konten-konten pendek dan receh, terutama dari media sosial.
Penurunan ini bukan cuma soal konsentrasi atau daya ingat, tapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental: munculnya stres, kecemasan, dan bahkan depresi.
Menurut penelitian dari Asosiasi Kesehatan Perguruan Tinggi Amerika, ada hubungan signifikan antara screen time berlebihan dan gangguan kesehatan mental. Dan kalau kita lihat sekitar, gejala ini sudah terlihat jelas: susah fokus, gampang terdistraksi, terus-menerus buka HP tanpa sadar, bahkan saat lagi nyetir atau nongkrong bareng teman.
Kenapa Otak Kita Jadi Gampang Rusak?
Supaya bisa paham kenapa kebiasaan sepele seperti scrolling bisa berdampak besar, kita perlu tahu dulu cara kerja otak.
1. Sistem Reward yang Suka Hal Instan
Otak kita punya sistem penghargaan bernama dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa senang setelah melakukan sesuatu yang “berhasil.” Dulu, kita dapat dopamin setelah menyelesaikan pekerjaan penting, ngobrol sama orang dekat, atau olahraga. Tapi sekarang? Cukup scroll TikTok 15 detik, otak langsung bahagia.
Ini bikin sistem reward alami rusak. Otak jadi lebih suka hal instan yang gampang, tanpa usaha. Akibatnya, kita malas untuk ngelakuin hal-hal yang penting tapi butuh waktu dan tenaga.
2. Pelarian dari Emosi Negatif (Escapism)
Scrolling sering jadi coping mechanism — pelarian dari stres, kecemasan, atau rasa sepi. Tapi pelarian ini bukan solusi. Kita hanya menekan emosi, bukan menyelesaikannya. Jadinya kayak lingkaran setan: stres → scroll → senang sebentar → nyesel → stres lagi.
3. Sistem Berpikir Lambat yang Melemah
Otak punya dua sistem berpikir: cepat (instan) dan lambat (mendalam). Konten receh melatih sistem cepat, tapi meninggalkan sistem lambat. Padahal, sistem lambat itulah yang bikin kita bisa berpikir kritis, fokus lama, dan memproses informasi dengan baik. Kalau nggak dilatih, ya makin tumpul.
4. Kecanduan Membandingkan Diri
Kita juga makin sering membandingkan diri dengan orang lain lewat media sosial. Masalahnya, yang kita lihat adalah versi terbaik dan tersaring dari hidup orang. Kita bandingin highlight orang lain dengan behind the scene hidup kita sendiri. Hasilnya? Rasa rendah diri, kecemasan, dan tekanan sosial yang nggak perlu.
Otak Kita Masih Bisa Diselamatkan
Kabar baiknya, otak punya neuroplasticity — kemampuan untuk berubah dan membentuk jalur baru. Jadi meskipun sudah “rusak,” fungsi otak bisa dipulihkan lewat kebiasaan-kebiasaan baik. Tapi kabar buruknya: otak juga bisa makin parah kalau kebiasaan buruk dibiarkan terus.
Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan:
✅ Langkah Praktis Memulihkan Otak dari Brain Rot
1. Batasi Screen Time
Tentukan jam khusus untuk pakai media sosial, misalnya hanya jam 11:30–13:00 dan 17:30–19:30. Hindari buka HP saat bangun tidur atau sebelum tidur. Bisa pakai aplikasi pemblokir agar konsisten.
2. Latih Deep Work
Fokus kerja atau belajar dalam blok waktu tertentu, misalnya 8:00–11:00 pagi. Coba teknik Pomodoro: 25 menit kerja, 5 menit istirahat (tanpa scrolling). Ulangi beberapa interval.
3. Baca Buku
Buku melatih otak untuk fokus dan berpikir mendalam. Ini membantu mengaktifkan sistem berpikir lambat yang sangat penting untuk daya pikir kritis dan pemahaman jangka panjang.
4. Olahraga Teratur
Olahraga bisa meningkatkan hormon BDNF (brain-derived neurotrophic factor), semacam "pupuk" untuk otak. BDNF membantu memperkuat koneksi antar neuron, bikin kita lebih fokus, lebih cepat belajar, dan lebih tajam mikir.
Selain itu, olahraga juga memperbaiki kualitas tidur. Tidur yang cukup bikin mental stabil, emosi lebih teratur, dan keputusan hidup jadi lebih rasional.
🌱 Penutup: Pilihannya di Tangan Kita
Kita enggak bisa nyalahin algoritma atau teknologi aja. Pilihan tetap ada di tangan kita. Mau tetap terjebak di pusaran konten pendek dan otak lemas, atau mulai pelan-pelan mengembalikan kekuatan berpikir kita?
Manfaatkan akal sehat yang kita punya. Bangun kebiasaan baik secara bertahap. Karena satu hal kecil yang dilakukan konsisten bisa berdampak besar di masa depan.
Semoga tulisan ini bisa jadi refleksi dan pengingat. Kita semua berhak punya otak yang sehat, fokus yang kuat, dan hidup yang penuh semangat. ✨
Sumber Informasi & Tools :
- Youtube : Akbar Abi-Cara Memulihkan Fungsi Otak - brainrot, kekuatan neuroplasticity
- ChatGpt