OBROLAN TENTANG TEORI SINGKAT MANAGEMENT

     Suatu malam yang penuh dengan keheningan, manusia yang satu ini, atau bisa dibilang, aku sendiri orangnya. Orang yang belum memiliki tujuan jelas tentang masa depan, apa yang akan aku dapatkan di masa depan nanti? Berbicara mengenai cita-cita di dalam hidup ini, rasanya aku masih belum paham betul secara 100%, tapi satu hal yang aku yakini selama ini, bahwa kehidupan adalah sebuah sarana untuk mencapai kehidupan yang lainnya di alam yang tak terlihat itu. Ya! akhirat. Itulah makna cita-cita yang aku pahami selama ini.

       Bagaimanapun, tujuan kita di dunia tidak terlepas dari hal-hal yang semacam itu. disadari atau tidak, mau diterima atau tidak, semua manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Hal itulah yang aku selalu tanamkan di dalam diriku ini. Namun, semakin hari, ilmu yang aku dapatkan semakin meninggi tatkala dimensi pergaulan semakin luas tak terbatas. 

       Malam itu, bersama seorang teman, aku bertanya, "Apa sih, rencana itu? Seberapa pentingkah rencana dalam kehidupan kita? Bagaimana caranya membuat rencana itu?" kataku dengan rasa penasaran tinggi namun masih bisa santai. Sambil ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang rokok di tangan, dia lalu menjawab, "Penting!" katanya, lalu diulanginya kembali kata tersebut, "Penting! Penting sekali," lanjutnya.

       "Seseorang yang mempunyai rencana di dalam kehidupan, akan hidup dalam keteraturan yang dia inginkan. Rencana adalah bagian dari ilmu manajemen yang semestinya dimiliki setiap orang. Jika tidak memiliki rencana untuk masa depan, sama halnya hidup tak bernyawa. Berjalan namun tak ada tujuan yang  jelas, lama-kelamaan kau akan jenuh dan mati dalam keadaan terhenti."

         "Lalu, bagaimana caranya agar hidup semakin hidup dan berjalan secara teratur?" kataku.

    "Belajarlah membuat perencanaan yang baik, karena tidak semua orang berencana untuk kegagalannya. Tetapi, kebanyakan orang gagal dalam melakukan perencanaan," 

        "Apa lagi!"

       "Selain itu, Rencanamu juga harus dibuat secara realistis, sesuai fakta, sesuai kesanggupan dan sesuai kemampuan yang kamu miliki. Maksudnya, Cita-citamu harus benar-benar membumi, karena kita sedang berada di bumi. Yaitu apa yang kita rencanakan itu benar-benar bisa diukur dengan kapasitas kemampuan kita."

       "Setelah itu?" tanyaku penasaran.

     
       "Agar cita-citamu tercapai, maka buatlah rencana yang bisa di turunkan menjadi sebuah rencana harian. Agar supaya, hari-hari kita selalu terisi dengan hal-hal yang sifatnya sangat menguntungkan demi tercapainya sebuah tujuan. Maka dari itu, pernecanaan kita mengikuti asas ke-efisiansian dan ke-efektifan."

   "Sedikit akan saya berikan sebuah ilmu, yang mungkin bermanfaat untukmu suatu saat nanti, mungkin juga saat ini."

    "Jika kamu mempunyai cita-cita dan keinginan di masa yang akan datang, maka, kamu harus bisa meyakini bahwa apa yang kamu cita-citakan itu dapat terwujud. Lalu, gunakan sebuah alat uji sebuah rencana seperti ini, 

  1. Buktikan, apakah rencanamu itu sudah realistis atau belum. sebagai contoh, jika kau berencana bahwa besok hari, kau akan mendapatkan uang sebesar 1 miliyar, sedangkan kita sama-sama tahu bahwa kau seorang pengangguran, apakah itu akan mungkin terjadi? Jika berbicara mengenai keyakinan, tentunya kita akan yakin-yakin saja kalau hal itu mungkin saja terjadi atas ijin Allah. Namun hal itu semakin menjadi tidak realistis, karena kamu sendiri tidak mempunyai apa-apa yang dapat menyebabkan keberuntungan itu menghampirimu. Maka, mulailah untuk berencana sesuai realita yang ada.
  2. Pengujian yang ke 2 adalah, melakukan perhitungan waktu. Waktu yang akan kita gunakan adalah waktu yang akan kita tuju di masa depan. Tentukan target waktu yang harus ditempuh saat kita menginginkan sesuatu di masa yang akan datang. Ukur apakah waktu yang digunakan sesuai dengan kemampuan kita. Dan yang ke- 
  3.  Adalah, lihat ke dalam diri kita. Gunakanlah dimensi yang terdalam. Berdamailah dengannya agar kita bisa mengetahui kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Mampukah kita untuk mengejar cita-cita itu. Jika dirasa masih berat, kau boleh menurunkan cita-citamu. Agar kau bisa mengejarnya dengan kemampuanmu saat ini."
       "Oh, begitu ya! Selama ini, aku memang belum pernah melakukan hal semacam itu. Baiklah, hari ini, aku putuskan untuk membuat rencanaku sendiri. Akan aku kejar cita-citaku. Meskipun harus melewati berbagai rintangan."



Bandung, 31 Oktober 2017.

Konsistensi akan hilang jika harapan memudar

Seiring tumbuhnya pemikiran yang ada dalam diriku, entah mengapa setiap hal yang terlintas di benak selalu saja menarik perhatian untuk diulas. Meskipun tidak terlalu penting namun kenyataanya hal semacam ini selalu muncul. Suatu ketika, seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja, telah memberiku pemahaman ini. Caranya memang sangat tidak menyenangkan, mengingat hal ini aku dapatkan di antara rasa kesal yang berkecamuk di dalam hati. Aku akan mengatakan bahwa konsistensi akan menghilang tatkala seseorang berhenti dari rasa harapnya. 

Sebagian orang beranggapan bahwa untuk mencapai sesuatu, dibutuhkan kerja keras yang konsisten. Kerja keras takkan berhasil jika seseorang tidak konsisten dalam tujuannya itu. Seperti itulah kata-kata yang sering kali kita lihat atau dengar dari orang lain, entah saat bergaul atau saat sedang membaca status-status orang lain di facebook, twitter atau media sosial lainnya. 

Benarkah konsistensi kunci kesuksesan? Aku bukan orang sukses dan entahlah apa makna kesuksesan itu bagi kebanyakan orang, yang jelas jika kita berbicara kesuksesan tentu akan berbeda-beda. Yang ingin aku fokuskan adalah mengenai konsistensi. Mengapa konsistensi dapat menghilang seiring berjalannya waktu? 

Jika anda bekerja di sebuah perusahaan, atau mungkin anda seorang pengusaha, tentu kata konsisten tidak  terlalu asing di telinga kalian, bukan? Ya, sebagai kata motivasi, konsistensi memang kerap dipakai sejumlah orang. Entah karena kata ini sepertinya mampu membuat setiap orang menjadi teguh pendiriannya, atau karena kata ini sangat manjur untuk membuat orang lain mau melakukan apa yang kita perintahkan, atau juga karena kata ini hanya berada pada level tertentu pada setiap percakapan, sehingga terkesan memikat siapapun orang yang akan mendengarnya. Aku benar-benar tertarik membahas ini. 

Sebelumnya, sudah semua tahu apabila kita menginginkan sesuatu, tentunya dibutuhkanlah konsistensi untuk menggapainya. Nah, namun pada kenyataanya, untuk mewujudkan konsistensi seperti yang diartikan menurut KBBI, bahwa konsistensi adalah sesuatu yang tetap dan tidak berubah-ubah adalah sebuah masalah tersendiri yang kadang dialami sejumlah orang, termasuk aku juga. 

Hambatan-hambatan tentunya akan selalu ada untuk menunjukan kualitas diri. Rasa malas, rasa enggan dan bahkan rasa lelah kadang membuat usaha kita untuk konsisten akan tergerus seiring berjalannya waktu. Apa sebenarnya permasalahannya sehingga seperti itu. 

Tiba-tiba sekitar beberapa jam lalu, saat aku memikirkan ini. Terlintas di benakku akan sosok ibu yang senantiasa merawat kita dari kecil sampai besar. Sosok orang tua yang satu ini, memang kadang tidak pernah terpikirkan setiap harinya. Namun kita akan belajar dari beliau-beliau ini. 

Dari mulai Ibu mengandung. Senantiasa kita dibawa kemanapun beliau pergi, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, bagi yang sudah mempunyai anak dan tentunya mengurus suami. Ibu bukanlah sosok manusia super seperti yang kita lihat dalam serial super hero manapun. Namun, peran ibu sangatlah berat. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, Ibu selalu memperhatikan kita. 

Setelah kita lahir, kita masih menjadi perhatiannya, diantara kesibukan yang beliau kerjakan, ibu masih bisa memperhatikan kita, menyayangi kita sepenuh hati hingga sampai kita dewasa. Setelah kita tidak lagi bersama orang tua, apakah ibu berhenti dari aktifitasnya? Sepertinya tidak. Tidak perlu kita memasang CCTV untuk mengeceknya. Gunakan akal sehat saja dan pasti kita sudah tahu itu di luar kepala kita. 

Dari pengalaman memahami itu, apakah kita bisa mengatakan bahwa itu sebuah konsistensi? Menurutku nilai dari pengorbanan seorang ibu jauh lebih tinggi derajatnya dari sebuah kata konsistensi. Karena sosok Ibu tidak pernah mengeluh atas apa yang telah Beliau kerjakan. Beliau sepertinya tidak terlihat lelah untuk bangun setiap pagi, membuatkan sarapan, mencuci piring, membersihkan rumah dan mengurus kebutuhan-kebutuhan lainnya. Adakah kalian lihat sesuatu yang konsisten di sini?

Inilah yang terjadi di dalam benakku saat itu. Lalu aku menemukan penjelasan lain. Apa yang mendasari Ibu untuk terus melakukan aktifitas tersebut menurutku adalah sebuah harapan. Ya, harapan akan kehidupan yang mungkin beliau sendiri tidak menyadarinya. Sebuah harapan yang sudah mendaging dengan aktifitas yang kontinyu dilakukannya. Sebuah harapan yang kita-pun sebenarnya tidak dapat menjangkaunya, karena ia ada di dalam hatinya.

Kita telah belajar, bahwa sebenarnya harapanlah yang menjadi baterai dalam setiap langkah kita menggapai sebuah tujuan. Jika harapan hilang, konsistensi seiring berjalannya waktu akan hilang dan hilang. Hari pertama kita memulai tujuan, masih semangat. Bulan pertama juga masih semangat, sampai pada tahun pertama kita masih semangat karena harapan masih lekat di benak kita. Namun di sekian banyak informasi yang berseliweran di hadapan kita, iklan-iklan yang menawarkan kenikmatan selalu menjadi pengalih perhatian. Hal itu mungkin wajar adanya, namun kita harus tau batasan-batasannya. Dan ketika harapan sedikit mulai terlupakan, kerja kita semakin menurun, menurun dan terus menurun sampai kita melakukannya seperti keranjang buah yang bolong-bolong itu. 

Jadi begitulah menurutku, bahwa harapanlah sebenarnya yang akan membakar jiwa kita menjadi sebuah tenaga yang akhirnya menjadi kekuatan untuk terus konsisten. Semakin besar harapan, semakin lama kita dapat menjaga konsistensi. Begitu juga halnya saat seseorang menginginkan kekonsistensian dalam beribadah. Besarkanlah rasa harapmu kepada Allah, agar senantiasa diridhoi setiap langkah kita, Amin Ya Rabbal'alamin.


Terima Kasih.


Bandung, 5 oktober 2017.





Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...