Seiring tumbuhnya pemikiran yang ada dalam diriku, entah mengapa setiap hal yang terlintas di benak selalu saja menarik perhatian untuk diulas. Meskipun tidak terlalu penting namun kenyataanya hal semacam ini selalu muncul. Suatu ketika, seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja, telah memberiku pemahaman ini. Caranya memang sangat tidak menyenangkan, mengingat hal ini aku dapatkan di antara rasa kesal yang berkecamuk di dalam hati. Aku akan mengatakan bahwa konsistensi akan menghilang tatkala seseorang berhenti dari rasa harapnya.
Sebagian orang beranggapan bahwa untuk mencapai sesuatu, dibutuhkan kerja keras yang konsisten. Kerja keras takkan berhasil jika seseorang tidak konsisten dalam tujuannya itu. Seperti itulah kata-kata yang sering kali kita lihat atau dengar dari orang lain, entah saat bergaul atau saat sedang membaca status-status orang lain di facebook, twitter atau media sosial lainnya.
Benarkah konsistensi kunci kesuksesan? Aku bukan orang sukses dan entahlah apa makna kesuksesan itu bagi kebanyakan orang, yang jelas jika kita berbicara kesuksesan tentu akan berbeda-beda. Yang ingin aku fokuskan adalah mengenai konsistensi. Mengapa konsistensi dapat menghilang seiring berjalannya waktu?
Jika anda bekerja di sebuah perusahaan, atau mungkin anda seorang pengusaha, tentu kata konsisten tidak terlalu asing di telinga kalian, bukan? Ya, sebagai kata motivasi, konsistensi memang kerap dipakai sejumlah orang. Entah karena kata ini sepertinya mampu membuat setiap orang menjadi teguh pendiriannya, atau karena kata ini sangat manjur untuk membuat orang lain mau melakukan apa yang kita perintahkan, atau juga karena kata ini hanya berada pada level tertentu pada setiap percakapan, sehingga terkesan memikat siapapun orang yang akan mendengarnya. Aku benar-benar tertarik membahas ini.
Sebelumnya, sudah semua tahu apabila kita menginginkan sesuatu, tentunya dibutuhkanlah konsistensi untuk menggapainya. Nah, namun pada kenyataanya, untuk mewujudkan konsistensi seperti yang diartikan menurut KBBI, bahwa konsistensi adalah sesuatu yang tetap dan tidak berubah-ubah adalah sebuah masalah tersendiri yang kadang dialami sejumlah orang, termasuk aku juga.
Hambatan-hambatan tentunya akan selalu ada untuk menunjukan kualitas diri. Rasa malas, rasa enggan dan bahkan rasa lelah kadang membuat usaha kita untuk konsisten akan tergerus seiring berjalannya waktu. Apa sebenarnya permasalahannya sehingga seperti itu.
Tiba-tiba sekitar beberapa jam lalu, saat aku memikirkan ini. Terlintas di benakku akan sosok ibu yang senantiasa merawat kita dari kecil sampai besar. Sosok orang tua yang satu ini, memang kadang tidak pernah terpikirkan setiap harinya. Namun kita akan belajar dari beliau-beliau ini.
Dari mulai Ibu mengandung. Senantiasa kita dibawa kemanapun beliau pergi, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, bagi yang sudah mempunyai anak dan tentunya mengurus suami. Ibu bukanlah sosok manusia super seperti yang kita lihat dalam serial super hero manapun. Namun, peran ibu sangatlah berat. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, Ibu selalu memperhatikan kita.
Setelah kita lahir, kita masih menjadi perhatiannya, diantara kesibukan yang beliau kerjakan, ibu masih bisa memperhatikan kita, menyayangi kita sepenuh hati hingga sampai kita dewasa. Setelah kita tidak lagi bersama orang tua, apakah ibu berhenti dari aktifitasnya? Sepertinya tidak. Tidak perlu kita memasang CCTV untuk mengeceknya. Gunakan akal sehat saja dan pasti kita sudah tahu itu di luar kepala kita.
Dari pengalaman memahami itu, apakah kita bisa mengatakan bahwa itu sebuah konsistensi? Menurutku nilai dari pengorbanan seorang ibu jauh lebih tinggi derajatnya dari sebuah kata konsistensi. Karena sosok Ibu tidak pernah mengeluh atas apa yang telah Beliau kerjakan. Beliau sepertinya tidak terlihat lelah untuk bangun setiap pagi, membuatkan sarapan, mencuci piring, membersihkan rumah dan mengurus kebutuhan-kebutuhan lainnya. Adakah kalian lihat sesuatu yang konsisten di sini?
Inilah yang terjadi di dalam benakku saat itu. Lalu aku menemukan penjelasan lain. Apa yang mendasari Ibu untuk terus melakukan aktifitas tersebut menurutku adalah sebuah harapan. Ya, harapan akan kehidupan yang mungkin beliau sendiri tidak menyadarinya. Sebuah harapan yang sudah mendaging dengan aktifitas yang kontinyu dilakukannya. Sebuah harapan yang kita-pun sebenarnya tidak dapat menjangkaunya, karena ia ada di dalam hatinya.
Kita telah belajar, bahwa sebenarnya harapanlah yang menjadi baterai dalam setiap langkah kita menggapai sebuah tujuan. Jika harapan hilang, konsistensi seiring berjalannya waktu akan hilang dan hilang. Hari pertama kita memulai tujuan, masih semangat. Bulan pertama juga masih semangat, sampai pada tahun pertama kita masih semangat karena harapan masih lekat di benak kita. Namun di sekian banyak informasi yang berseliweran di hadapan kita, iklan-iklan yang menawarkan kenikmatan selalu menjadi pengalih perhatian. Hal itu mungkin wajar adanya, namun kita harus tau batasan-batasannya. Dan ketika harapan sedikit mulai terlupakan, kerja kita semakin menurun, menurun dan terus menurun sampai kita melakukannya seperti keranjang buah yang bolong-bolong itu.
Jadi begitulah menurutku, bahwa harapanlah sebenarnya yang akan membakar jiwa kita menjadi sebuah tenaga yang akhirnya menjadi kekuatan untuk terus konsisten. Semakin besar harapan, semakin lama kita dapat menjaga konsistensi. Begitu juga halnya saat seseorang menginginkan kekonsistensian dalam beribadah. Besarkanlah rasa harapmu kepada Allah, agar senantiasa diridhoi setiap langkah kita, Amin Ya Rabbal'alamin.
Terima Kasih.
Bandung, 5 oktober 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar