NGOBROLIN SOAL PKI

Berapa hari lalu dan sampai hari ini, berita-berita di media massa sedang hangat membicarakan PKI. Hal ini muncul setelah Jendral TNI Gatot Nurmantyo mengajak kepada seluruh pasukannya untuk menonton lagi film lama yang sudah di-stop peredarannya, yaitu Film G-30 S PKI. Karena bulan ini merupakan pengingat bahwa pada masa dulu pernah terjadi sebuah tragedi yang sangat memilukan. PKI memang merupakan bagian terkelam dari Bangsa Indonesia. Sebuah aib bagi sejarah negara ini yang masih tersimpan di sanubari generasi sebelum kita.

Tentunya berbicara mengenai sejarah PKI, jangan disamakan dengan Partai Komunis yang ada di belahan dunia mana-pun. Partai komunis memang telah hancur di negerinya, yaitu Rusia. Namun sisa-sisanya masih tetap ada, karena ideologi itu seperti jantung bagi penganutnya.

Di China, meskipun mereka menganut paham komunis, kenyataanya negeri tirai bambu itu mengawinkannya dengan paham kapitalis yang bisa kita rasakan melalui sektor ekonominya. Sedangkan yang sampai saat ini masih menganut paham komunis secara radikal bisa kita tengok ke arah utara kita, yaitu Korea Utara. Bisa dilihat sampai saat ini bagaimana kondisinya.

Berbicara komunis di indonesia memang tidak akan ada habisnya. Partai yang dicap terlarang sejak tahun 1965 ini memang sangat meresahkan anak bangsa. Ketakutan serta Paranoid akan kekejaman PKI akan terus selalu ditularkan terhadap generasi-generasi yang baru. Para orang tua tidak rela jika paham yang seperti itu akan kembali menjadi duri di dalam daging di generasi saat ini.

Saya, sebagai generasi yang lahir di tahun 90'an, sampai detik kemarin memang sangat begitu apatis mengenai masalah ini. Saya benar-benar tidak pernah begitu peduli dengan hal-hal yang seperti ini. Karena memang di keluargaku juga tidak pernah menyingung-nyinggung masalah tersebut. Saya sangat mengerti akan hal itu. Tetapi semakin lama mendengar dan terus tetap terdengar di telinga mengenai bahaya laten komunis, membuat saya semakin ingin mengetahui apakah yang dikatakan mereka itu benar adanya.

Dengan sedikit riset yang saya lakukan menunjukan bahwa PKI merupakan partai yang terbilang sangat radikal dalam memuluskan tujuannya. Pernah saya bertanya kepada orang-orang tua, ternyata para komunis itu tega membunuh para santri dan kiai dengan sangat sadis. Tidak cuma itu, hampir tiga kali juga, partai ini selalu mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Namun lagi-lagi dapat di gagalkan. Pemerintah pusat saat itu, menurut yang saya dengar serta dengan membaca beberapa sumber, mengatakan bahwa untuk menunjukan bahwa PKI merupakan partai terlarang, dibuat-lah Film G 30 S PKI ini.

Sekarang setelah peristiwa itu sudah jauh tertinggal di masa lalu, para anggota keluarga yang merasa dirinya telah dirugikan atas doktrin yang dilakukan dengan film itu kini menuntut keadilan dengan dalih Hak Asasi Manusia. Juga dengan pemahaman bahwa film tersebut ada sebagian yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Tentu bagi para anggota TNI tidak bisa secara mentah-mentah menerima itu, lantaran pahit yang pernah pendahulu mereka lakukan terhadap bangsa ini.

Sang Jendral memutarkan Film Tersebut adalah supaya generasi sekarang, khususnya para TNI dapat belajar dari tragedi kelam masa lalu. Di lain hal, orang yang selalu menolak tumbuhnya PKI di indonesia adalah Bpk Kivlan Zein. Dengan semangat juang 45 yang tak pernah padam, belau tak pernah lelah untuk menasehati kita akan bahaya laten komunis juga terhadap bahaya KGB atau KOMUNIS GAYA BARU.

Dari sisi sosial, tentunya jika saya berada di pihak sebagai anggota keluarga ataupun seorang anak PKI, tentunya akan selalu terngian-ngiang akan masalah ini. Dimana ketidaktahuan memposisikan kita sebagai orang yang tidak bersalah, lalu kemudian berupaya meminta keadilan kepada penguasa.

Sebagai penguasa saat ini Presiden Jokowi telah menegaskan, bahwa pemerintah tidak akan meminta maaf terhadap PKI dan hal ini telah beliau sampaikan berulang-ulang karena senantiasa para penebar fitnah selalu menggunakan momentum untuk memecah belah bangsa. Bahkan Bpk Presiden, mengusulkan agar dibuatkan film G30 S PKI dengan gaya yang masuk kepada generasi saat ini, dan hal itu di sambut positif oleh Jendral TNI Gatot Nurmantyo.

Dengan segala dinamika yang ada saat ini, terkait pula dengan sejarah kelam bangsa indonesia di tahun 65 tentunya saya hanya bisa berharap bahwa kondisi-kondisi seperti itu tidak perlu muncul kembali. Biarkanlah sejarah kelam tetap menjadi aib yang tidak perlu dibuka-buka lagi. Sakit tidak akan sembuh jika kita selalu membuka lagi bekas lukanya. Biarkanlah ia mengering sampai hilang terbakar sinar matahari. Tujuan sejarah adalah supaya kita menjadi manusia yang maju, yang tidak akan lagi menjadi bodoh karena masa lalu.

Saya-pun sangat setuju, jika akan dibuatkan film versi baru terkait Film G30 S PKI ini. Dan terhadap para eks PKI, ataupun anak PKI, pahamilah diri, bersatulah dengan alam indonesia ini dengan ideologi Pancasila-nya. Meskipun kami tidak mengalami apa yang para orang tua kami alami, kami mengerti setiap penderitaan yang ada. Dan jangan sekali-kali berbuat ulah di negeri yang tercipta dengan darah dan air mata ini, karena sebagai generasi muda, kami sangat mencintai perdamaian. Kami dapat berubah menjadi air, kamipun dapat berubah menjadi angin, dan kami-pun dapat berubah menjadi api. Jika kau baik, maka kami akan baik.

Bijak menjadi WARGANET.


Assalamualaikum w.w. 

Mohon diperhatikan dengan Saksama bahwa di antara kita harus bertanggung jawab atas Risiko sebagai Warganet, dalam membagikan informasi dari Laman berita. Sebaiknya dibaca dahulu sebelum kalian melakukan Salin rekat, apakah situs itu begitu kredibel sehingga perlu kita bagikan atau apakah berita tersebut memang benar adanya sehingga kita perlu cek ulang. Karena berita yang tidak baik akan selalu berkembang biak jika kita bagikan kepada Warganet semuanya. 

Orang tua juga tentunya harus selalu menjaga atau mengawasi anaknya dalam penggunaan Gawai jika belum mampu menimbang mana yang baik dan yang buruk di dunia Warganet yang semakin hari kian liar dan tak terkontrol ini, tidakkah kita merasa waswas? Selalu beri Nasihat yang baik kepada anak kita bagaimana menggunakan Gawai yang baik. Tanamkan juga untuk sesekali meLuringkan media sosial agar mereka dapat bergaul antarteman di sekolah atau di rumah. Dan bagi orang tua yang memiliki Pramusiwi di rumahnya, sebaiknya selalu kontrol mereka dalam tugasnya apakah ia selalu bermain gawai saat bekerja atau malah bermain-main dengan media sosial. Juga jangan terlalu mengekang mereka, karena bersosial media juga tidak dilarang oleh pemerintah. 

Bagi Sekolah-sekolah, sebaiknya adakan juga kerja sama antarsekolah dalam memberikan edukasi bagaimana menggunakan medsos yang baik, agar tercipta generasi muda yang bermartabat di kemudian hari. Bila perlu adakan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan media sosial jika itu memang sangat diperlukan, meskipun sejauh ini mungkin belum terlihat.

Di samping itu, gawai bisa jadi bermanfaat dan bisa jadi tidak bermanfaat. Orang yang pandai akan memanfaatkannya dengan lebih baik lagi, entah untuk berbisnis, atau belajar Alquran melalui Alquran digital. Bagi orang yang rajin mereka juga akan memasang alarm Azan untuk mengingatkan waktu-waktu beribadah wajib. Kadang merasa miris jika anak-anak kita yang dalam masa pertumbuhan suka dengan yang namanya Swafoto. sedikit-sedikit Swafoto, mau ngapain harus Swafoto dulu. Dalam memahami hal semacam ini, memang perlu kita belajar pada orang yang lebih berpengetahuan. Jika tidak belajar dari mereka, meskipun kita tahu secara otodidak, orang yang jahil akan selalu dapat meragukan pengetahuan kita dan membuat tersesat. Bisa diibaratkan seperti seorang tunanetra yang memakai kacamata. 

Sebarkanlah informasi atau berita yang bisa dipertanggungjawabkan. Jangan menyebarkan informasi yang juga belum jelas kebenarannya. Jangan mudah tertipu oleh Merek sebuah situs besar, kita juga perlu dengan sangat hati-hati menimbang dan menimbang informasi yang akan kita bagikan agar tidak berdampak buruk di kemudian hari. Lihat juga Laman tersebut apakah memiliki alamat Pos-el yang jelas. 

Jika mempunyai KTP-el, sebaiknya digunakan sebaik-baiknya karena sistem pada KTP-el adalah menggunakan jaringan iternet yang siapapun dapat melakukan hal-hal yang dapat membahayakan kita. Meskipun kita memiliki orang-orang yang pandai di Peladen pusat, tentunya kita juga harus hati-hati. 

Tulisan di atas adalah apa yang saya dapat di grup kepenulisan sekitar sesudah Zuhur tadi mengenai PUEBI dan beberapa kata baru yang perlu kita tahu, lalu saya kembangkan menjadi seperti yang tertulis di atas. Di samping untuk menambah pengetahuan juga sebagai cara belajar yang tidak membosankan, menurut pendapatku pribadi.

Sebagai tambahan, jika kita sedang melakukan Daring di media sosial, sebaiknya harus diperhatikan saat menutupnya, apalagi saat memakainya di luar, seperti warnet atau dimanapun. Perhatikan apakah akun kita sudah benar-benar Luring atau belum karena dapat digunakan untuk tindakan yang tidak baik oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

terima kasih

Oleh : Saya sendiri.
x

RANGSANG SUDUT PANDANG




Sebuah sore yang mengantuk tak pelak membuat seluruh anggota badan terasa letih. Disela-sela kegiatan mencari nafkah, 3 anak sekolah SD berbelanja sebuah Ballpoint. Iseng rupanya terlintas di otak, untuk mengajak mereka berdiskusi bagaimana cara menggunakan pandangan berpikir. Cukup sederhana, namun penuh makna,

"Aa, mau beli Pulpen," kata salah seorang anak yang sedang memandangi barisan pulpen di etalase.

"Mau yang mana?" kataku.

"Mmmm, sebentar," dia masih bingung memilih yang mana, "mmm, kalau yang harganya seribu ada nggak?" kebiasaan anak sekolahan mencari harga yang murah.

"Ada," kataku, "harganya 1500/ 2pcs,"

"Hah," mereka tak percaya, "Bohong akh!"

Aku segera mengambil satu wadah berisi isi pulpen seharga tersebut, lalu menunjukan kepada mereka,"

"Ih, Aa mah," keluh mereka, merasa tidak puas, "itu kan isi pulpen?"

"Ini pulpen," kataku sambil tersenyum.

"Nggak, A. Itu mah isi pulpen?" saanggah mereka yang masih tidak percaya.

Tepat di atas etalase dimana tertumpuk Pulpen berwarna-warni segera aku ambil satu buah,
"Nah, kalau ini apa namanya?"

"Nah, itu Pulpen," jawab ke tiga anak itu dengan kompak.

Aku segera membuka isinya dan membuatnya menjadi 4 bagian, "nah, sekarang. Mana yang kalian maksud pulpen?"

Mereka berbisik-bisik, mendiskusikan apa yang aku tanyakan, seperti sedang menghadapi kuis, namun tak berhadiah. Lalu, dengan cepat mereka menunjuk ke arah isi pulpen berwarna hitam yang telah aku lepas dari wadahnya.

"Tuh, kan. Kata Aa juga, ini itu pulpen," tak tahan menahan rasa tawaku terus memandang ke arah mereka karena terlihat bingung.

"Ah, Aa mah. Orang mau beli pulpen malah dikasih pertanyaan,"

"He he he, gini deh, kalau berhasil menjawab, Aa kasih satu Pulpen buat kalian. Satu-satu,"

"Bener nih," satu anak yang memiliki muka kembar dengan yang satunya menerima tantanganku.

"Iya, bener. Pertanyaanya masih sama. Dari 4 bagian ini, mana yang disebut sebagai Pulpen?" kataku yang tidak bisa menahan senyum.

Mereka berpikir keras. Sangat hati-hati. Terlihat dari raut muka mereka yang nampak seperti menghadapi sebuah ujian. Mereka tahu kalau salah pilih, tidak akan mendapatkan hadiahnya. Hampir 5 menit waktu berlalu. Kemudian mereka segera memutuskan jawabannya. Diambillah ke empat bagian itu. Lalu mereka menyatukan dan membuatnya utuh sebagaimana awalnya.

"Nah, ini kan," Ucap anak perempuan yang lebih tinggi dan kurus itu, "bener kan A?" katanya. Dan seperti dugaanku, mereka mengetahui apa yang aku maksudkan.

"Benar, benar sekali. Tapi Aa mau tahu alasannya kenapa?"

"Mmm, apa yah," mereka tampak bingung menjawabnya dan aku-pun tidak akan membawanya jauh untuk berpikir keras.

"Ya udah deh. Ini pulpennya," aku memberinya Pulpen yang telah dijanjikan kepada mereka karena berhasil menjawab pertanyaanku.

Begitulah kira-kira kisah yang aku dapatkan, yang menurutku sangat berkesan untuk dibagikan. Poin pentingnya adalah, cara pandang atau perspektif seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang nampak dihadapan manusia, juga bisa dipengaruhi oleh faktor luar yang berasal dari orang lain.

Kadang kita men-Judge sesuatu hanya dengan sekali pandang. Kita tidak tahu ada ruang yang sama sekali belum tersentuh dengan perasaan kita pada satu objek, atau masalah yang sedang kita hadapi. Kuncinya adalah memahami apa yang sedang kita hadapi dari berbagai arah. Menelaahnya, kemudian berusahalah berpikir objektif sebelum menentukan ini salah dan itu salah. Jauhkan sebentar masukan dari sana-sini sebelum kita mengetahui duduk perkaranya, dengan begitu kita tidak akan terpengaruh.

Subjektifitas adalah kearogansian berpikir dan bertindak. Subjektifitas adalah kediktatoran dalam berpikir yang sama sekali bukan cara untuk menjadi seorang pemimpin, baik bagi dirinya maupun orang lain. Apa yang kita pandang baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain. Lantas adakah kebaikan yang benar-benar bisa menyatukan berbagai pandangan yang ada di dunia ini?
Baiklah, dalam perspektif islam. Kita mengetahui dan bisa memaknai dari ayat dibawah ini,

Q.S. Al Baqarah ayat 216 yang artinya,

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Cara pandang manusia tentang kebenaran, bisa jadi salah dimata Allah. Lantas, bagaimana kemudian kita menyikapinya?

Dalam .Al-Quran surat Ali Imran 103, Allah berfirman,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dari penjelasan di atas, tentunya sedikit membuat kita berpikir dan meluaskan cakrawala pemahaman kita agar senantiasa bijak dalam hidup.
Jadi begitu, ceritanya. Nah sekarang, yuk belajar ngaji lagi. Jangan malu-malu.

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...