Oleh : Zein Abdullah
Assalamualaikum w.w.
Mohon diperhatikan dengan saksama bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab sebagai warganet, terutama dalam membagikan informasi dari laman-laman berita. Sebaiknya, sebelum melakukan salin-rekat, kita membaca terlebih dahulu isi berita tersebut. Apakah situsnya kredibel? Apakah informasi yang disampaikan benar adanya dan telah diverifikasi?
Sebab, berita yang tidak baik, apalagi yang tidak jelas kebenarannya, akan terus berkembang biak jika kita ikut menyebarkannya kepada sesama warganet.
Orang tua juga memiliki peran penting dalam mengawasi penggunaan gawai anak-anaknya, terutama jika mereka belum mampu menimbang mana yang baik dan mana yang buruk di dunia digital yang kian hari terasa semakin liar dan tak terkontrol. Tidakkah kita merasa waswas?
Berikan nasihat yang baik tentang bagaimana menggunakan gawai secara bijak. Tanamkan pula kebiasaan untuk sesekali meluringkan media sosial agar anak-anak dapat bergaul secara langsung dengan teman-temannya, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.
Bagi orang tua yang memiliki pramusiwi di rumah, sebaiknya tetap melakukan pengawasan dalam menjalankan tugasnya—apakah gawai digunakan secara wajar atau justru lebih banyak untuk bermain media sosial. Namun demikian, jangan pula terlalu mengekang, karena bersosial media tidak dilarang oleh pemerintah selama digunakan secara bertanggung jawab.
Untuk sekolah-sekolah, alangkah baiknya jika diadakan kerja sama antarsekolah dalam memberikan edukasi tentang penggunaan media sosial yang sehat. Tujuannya agar kelak tercipta generasi muda yang bermartabat dan beretika di ruang digital. Bila perlu, dapat dipertimbangkan adanya kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan literasi media sosial, meskipun saat ini mungkin belum terasa urgensinya.
Pada dasarnya, gawai bisa menjadi sarana yang sangat bermanfaat, namun juga bisa berdampak sebaliknya. Orang yang bijak akan memanfaatkannya untuk hal-hal positif: berbisnis, belajar Al-Qur’an melalui aplikasi digital, atau memasang pengingat azan untuk menunaikan ibadah tepat waktu.
Namun, terasa miris ketika melihat anak-anak dalam masa pertumbuhan terlalu lekat dengan budaya swafoto. Sedikit-sedikit swafoto, hendak melakukan apa pun harus diawali dengan swafoto. Untuk memahami fenomena semacam ini, kita perlu belajar kepada orang-orang yang lebih berpengetahuan. Tanpa belajar, pengetahuan otodidak pun mudah diragukan dan bahkan bisa menyesatkan. Ibarat seorang tunanetra yang memakai kacamata, tetap saja tidak dapat melihat.
Sebarkanlah informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Jangan mudah tertipu oleh nama besar sebuah situs. Kita tetap harus menimbang dengan cermat setiap informasi yang akan dibagikan agar tidak menimbulkan dampak buruk di kemudian hari. Perhatikan pula apakah laman tersebut mencantumkan alamat pos-el yang jelas dan dapat dihubungi.
Jika telah memiliki KTP-el, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Sistem KTP-el terhubung dengan jaringan internet, yang berarti memiliki potensi risiko jika disalahgunakan. Meski kita memiliki tenaga ahli di peladen pusat, kewaspadaan pribadi tetaplah penting.
Tulisan ini berawal dari materi yang saya dapatkan di sebuah grup kepenulisan seusai Zuhur tadi, berkaitan dengan PUEBI dan beberapa kosakata baru yang perlu kita ketahui. Saya mencoba mengembangkannya sebagai sarana belajar, bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga agar proses belajar terasa lebih menyenangkan.
Sebagai tambahan, ketika kita sedang daring di media sosial, perhatikan pula cara menutupnya, terutama saat mengakses dari tempat umum seperti warnet atau fasilitas publik lainnya. Pastikan akun benar-benar sudah luring, karena kelalaian kecil dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar