Belajar Objektif dari Sebuah Pulpen dan Tiga Anak SD
Sore yang mengantuk tak pelak membuat seluruh anggota badan terasa letih. Di sela-sela kegiatan mencari nafkah, tiga anak SD singgah di lapak kecilku. Mereka hendak membeli sebuah ballpoint.
Iseng, terlintas di kepalaku untuk mengajak mereka berdiskusi ringan, tentang cara berpikir dan cara memandang sesuatu. Sederhana, tapi penuh makna.
“Aa, mau beli pulpen,” kata salah seorang anak sambil memandangi deretan pulpen di etalase.
“Mau yang mana?” tanyaku.
“Hmm… sebentar,” katanya ragu. “Kalau yang seribu ada nggak?”
Kebiasaan khas anak sekolah: mencari yang paling murah.
“Ada,” jawabku. “Seribu lima ratus, dapat dua.”
“Hah?” Mereka langsung berseru. “Bohong, ah!”
Aku mengambil satu wadah berisi isi pulpen dan menunjukkannya pada mereka.
“Ini,” kataku.
“Ih, Aa mah,” protes mereka. “Itu kan isi pulpen.”
Aku tersenyum.
“Ini pulpen.”
“Nggak, A. Itu mah isi pulpen,” sanggah mereka kompak.
Aku lalu mengambil satu pulpen utuh dari etalase.
“Kalau yang ini apa?”
“Pulpen!” jawab mereka serempak.
Aku membuka pulpen itu, memisahkannya menjadi empat bagian.
“Nah sekarang, mana yang disebut pulpen?”
Mereka saling berbisik, berdiskusi serius seperti sedang menghadapi kuis penting. Tak lama kemudian, mereka menunjuk isi pulpen berwarna hitam.
Aku tertawa kecil.
“Tuh kan, sama saja.”
“Ah, Aa mah. Orang mau beli pulpen malah dikasih pertanyaan.”
Aku tertawa lagi.
“Gini saja. Kalau bisa jawab dengan benar, Aa kasih satu pulpen gratis. Satu-satu.”
Mata mereka berbinar.
“Beneran?”
“Bener.”
Pertanyaannya masih sama. Dari empat bagian itu, mana yang disebut pulpen?
Hampir lima menit mereka berpikir. Wajah-wajah kecil itu tampak serius, penuh kehati-hatian. Akhirnya mereka mengambil keempat bagian, lalu menyusunnya kembali hingga menjadi pulpen utuh.
“Nah ini, A,” kata anak perempuan yang paling tinggi. “Bener kan?”
Aku mengangguk.
“Benar. Tapi kenapa?”
Mereka terdiam. Aku pun tak memaksa.
“Sudah. Ini pulpennya.”
Aku menyerahkan hadiah yang kujanjikan.
Pengalaman singkat itu terasa begitu berkesan. Ia mengajarkanku satu hal penting: cara pandang seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang tampak di hadapannya, dan oleh suara orang lain di sekitarnya.
Sering kali kita menilai sesuatu hanya dari sekali pandang. Padahal, bisa jadi ada ruang pemahaman yang belum kita sentuh. Ada sisi lain dari masalah yang belum kita rasakan.
Kuncinya adalah melihat dari berbagai arah. Menelaah sebelum menghakimi. Menunda kesimpulan sebelum memahami duduk perkaranya.
Subjektivitas yang berlebihan adalah bentuk arogansi berpikir. Ia menjelma menjadi kediktatoran batin, bukan jalan seorang pemimpin, baik bagi dirinya maupun orang lain.
Dalam perspektif Islam, Allah mengingatkan kita:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Q.S. Al-Baqarah: 216)
Kebenaran menurut manusia bisa saja keliru di sisi Allah. Maka bagaimana seharusnya kita bersikap?
Allah menjawabnya dalam firman-Nya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”(Q.S. Ali Imran: 103)
Dari sini kita belajar: persatuan lahir dari kerendahan hati dalam berpikir, dari kesediaan untuk tunduk pada kebenaran yang lebih tinggi daripada ego pribadi.
Semoga kisah kecil ini membantu kita meluaskan cakrawala berpikir, agar lebih bijak dalam memandang hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar