MOB, TAK BEROTAK DAN MAIN HAKIM SENDIRI

Assalamu'alaikum wr.wb

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Kali ini aku akan memberikan opini mengenai kasus-kasus pembakaran manusia secara hidup-hidup pada beberapa waktu belakangan.

Sungguh miris, melihat video adegan pembakaran yang dilakukan oleh massa secara membabi buta di sosial media. Aku mengutuk dengan sangat teramat keras, semoga manusia di bumi indonesia ini menjadi manusia yang berbudi luhur dan baik terhadap sesama.

Aku akan mengutip sebuah pertanyaan dari Aiman Witjaksono, seorang jurnalis Kompas dalam sebuah artikel. Pertanyaan ini sebaiknya menjadi bahan renungan juga untuk sesama manusia, berikut petikannya kurang lebih ; "Sungguh saya tak punya jawaban, kenapa ada banyak sekali orang yang begitu tega membiarkan orang di depan matanya disiksa dan dibakar hidup-hidup!"

Notes ; Seorang Pria diamuk massa dan dibakar hidup-hidup di Musala Al Hidayah, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Pria yang belakangan diketahui bernama M Alzahra atau Joya ini diduga mencuri amplifier atau mesin pengeras suara.

Begitu pun dengan aku sendiri, apa yang bisa menjawab itu? Entah kenapa kejadian itu terus terulang. Di video lainnya, orang-orang membakar manusia setelah diikat dengan tali, lalu ramai-ramai membakarnya, namun dari umpatan mereka aku mendengar gelak tawa yang nyaring tersiar di dalam video itu. Ini apa? Tidak habis pikir mereka tega melakukan hal itu.

Aku mencoba mencari alasan dan hasilnya seperti ini ;

Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan, kasus pengeroyokan dan pembakaran secara hidup-hidup tak lepas dari adanya crowd atau kerumunan. Memang kerumunan tak selalu negatif. Namun jika sudah mengarah pada mob, maka bisa dikategorikan kriminal.

"Karena ini sudah berkerumun, berkumpul, berubah besar, dan mengamuk, dan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan individu pribadi," ujar Adrianus saat berbincang dengan Liputan6, Jakarta, Jumat 4 Agustus 2017.

Mob adalah sekelompok orang tanpa dukungan masyarakat yang dengan marah menyerang dan berusaha melukai atau merusak suatu objek tanpa mengindahkan norma sosial dan hanya berpegang pada pertimbangan yang sederhana.

"Sehingga ketika mob ini terjadi, memang harus dilakukan upaya paksa untuk kemudian mob itu bubar," sambung dia.

Kendati, menciptakan mob juga tidak gampang. Menurut Adrianus, butuh proses untuk menciptakan mob, setidaknya dengan adanya sosok pemimpin atau yang dituakan dalam kerumunan tersebut. Selain itu juga harus ada isu bersama yang membuat orang mudah terkoordinir.

Lantas tidak adakah seseorang yang bisa menolong mereka, atau setidaknya melapor kepada yang berwajib? Kemungkinannya ada, namun sangat kecil jika dilakukan di tempat dengan tidak ada perikemanusiaan di sana, atau bisa jadi mereka sudah memikirkan hal itu, namun masih kalah dengan euforia yang sedang terjadi di sekitarnya.

Fenomena ini dinamakan Bystander effect. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, orang-orang di sekitarnya yang melihat akan berpendapat pasti ada yang membantu. Celakanya, semua orang berpikiran seperti itu dan akhirnya tak seorang pun datang membantu. Lebih lengkap mengenai Bystander Effect, kalian bisa baca di sini.

Urusan manusia memang rumit, kita tidak bisa mengatakan hal yang benar dari satu sisi. Perlu kejelian untuk menilai dan menyikapi permasalahan ini. Secara garis besar, Si Pelaku bila dalam kasusnya benar-benar bersalah, tentu harus ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku. Namun jika yang menghukumi adalah kerumunan massa dengan main hakim sendiri, tentu hal ini adalah sebuah kejahatan yang perlu dihukum seberat-beratnya, sebab bukan tugas mereka untuk menghukumi.

Saranku, jika kalian mendapati hal semacam itu, jangan ragu untuk segera melapor kepada pihak yang berwajib, jangan sampai kejadian ini terus berulang. Tumbuhkan di dalam diri kita, bahwa setiap manusia pasti punya salah, aku pun banyak salah, ada begitu banyak alasan mengapa seseorang melakukan perbuatan buruk. Kita bukan hakim yang bisa menentukan salah dan benar. Allah sebagai Sang Pencipta, selalu memberi maaf kepada hambanya, lantas kenapa kita bertindak melebihi tuhan. Astaghfirulloh hal'adzim!

Namun bila ditilik dari sisi yang bisa aku sangkutkan dengan nilai hati pada manusia. Mungkinkah perilaku mereka, dalam kasus ini adalah para pelaku pengeroyokan, sudah tertutupi hati mereka oleh dendam dan amarah? Apakah mereka telah buta hatinya? Tindakan itu sangat biadab dan tidak bisa disebut sebagai tindakan manusia. Apakah pemicunya dari sedikit kemaksiatan manusia yang terus menerus ditumpuk tanpa membersihkannya dengan bertobat kepada Allah?

Syeikh Ibn Qayyim menyebutkan beberapa hukuman, akibat dari perbuatan maksiat yang cukup membuat seseorang harus berpikir, sebelum melakukan perbuatan maksiat. Digambarkan oleh Syikhul Islam, akibat perbuatan maksiat itu antara lain :

Pertama, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu, mempunyai akibat, akan dapat menutup hati, pendengaran, dan penghilatan. Sehingga, terkuncilah hatinya, tersumbat kalbunya, karena ia penuh dengan kotoran yang berkarat. Allah yang membolak-balikkan hatinya itu, sehingga tidak memiliki pendirian, membuat jarak antara diri dan hatinya. Allah akan membuatnya lupa untuk berzikir, dan membuat lupa dirinya sendiri.

Allah meninggalkan orang-orang berbuat maksiat dengan tidak membersihkan hatinya. Maksiat membuat dada seseorang sempit, sukar bernafas seperti naik ke langit, hatinya dipalingkan dari kebenaran, menambah penyakit dengan penyakit, dan akan tetap sakit. 

Na'udzubillah, semoga kita terhindarkan dari penyakit hati seperti itu. Jagalah hati kita dari maksiat-maksiat kecil, sehingga bersih cahayanya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang saleh, aamiin.

Wassalamu'alaikum wr.wb.

What Mysteri In The Land Of Love?

SEBUAH ESAI 

Penulis : Zein Abdullah

Satu hal lagi yang aku temukan berdasarkan sumber bacaan sore ini, bahwa Di antara kebesaran Allah, adalah Dia menciptakan pasangan dari diri kita sendiri, agar kita merasakan kedamaian satu sama lain. Dan Dia menciptakan Cinta dan Kasih Sayang di antara kita. Yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berilmu.

Kalimat itu aku kutip di salah satu buku karya seorang enterpreneur muda yang di awal kemunculannya mengulas habis tentang Keajaiban Otak Kanan. Kalian tentu paham dengan orang ini, Right! Maaf saya ambil salah satu unick baitnya, he he he.

Tapi dengan rasa hormat untuk tidak terlalu berlebihan mungkin, bahwa sebenarnya kalimat di atas diambil dari salah satu ayat di dalam Kitab Suci Al-Quran. Lebih jelasnya akan aku berikan terjemahannya di bawah ini ;

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kita cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Jadi intinya begini, saudara. Perihal antara kau sudah menjalani status menikah atau belum, aku tidak bisa berkomentar banyak. Sebab dengan kerendahan hati yang amat mendalam, saat ini aku masih berstatus belum menikah. Entah suatu saat nanti, bila kalian tidak sengaja menemukan tulisan ini, sebaiknya jangan berkomentar terlalu menjastis. Sebab, siapa tahu di masa depan aku sudah menikah atau mungkin sudah mempunyai anak, kemungkinan terburuknya, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Na'udzubillah, semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku, aamiin.

Di dalam sebuah hubungan percintaan. Maaf, ini agaknya terlalu frontal bila dikatakan percintaan. Maksudku, di dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang terikat dalam status pernikahan, agaknya memunculkan sebuah misteri tersendiri bagiku. Sebab, banyak orang membicarakan tentang kedamaian yang akan didapat setelah melangsungkan pernikahan.

Kedamaian seperti apa yang akan mereka dapatkan setelah menikah? Apakah ada kedamaian yang bisa didapatkan seorang diri tanpa melalui hal semacam itu? Adakah makna selain kedamaian, sebab kedamaian adalah tempat di mana semua orang ingin menuju ke sana.

Seorang teman memberitahukan padaku, bahwa ketika seseorang masih sendiri antara laki-laki dan perempuan, mereka ini diibaratkan seperti debu-debu yang berkelana menjelajah dunia. Dia masih mengikuti arah angin yang berembus, ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah. Namun, setelah mereka disatukan dalam sebuah proses yang tidak bisa dijelaskan secara logika sebab ilmu Allah, teramatlah sangat luas, maka debu-debu tersebut menyatu dan jatuh ke bumi menjadi tanah yang padat dan kuat.

Seorang laki-laki, akan berjalan tak tentu arah tujuan dalam makna yang lebih dalam. Bukan mengindahkan mereka yang selalu bergumul dengan kitab suci ataupun mereka yang selalu berseteru dengan kekufuran. Tetapi, ada sebuah keutamaan yang harus mereka jalani agar semua kerja keras di dunia ini menjadi paripurna dengan adanya hubungan pernikahan.

Permasalahan ini sebaiknya menjadi bahan pemikiran setiap orang, sebab di akhir ayat itu, menyebutkan bahwa setiap pasangan merupakan tanda-tanda bagi orang yang berilmu.

Ini bukan curhat, saudara, sebab memang aku selalu ingin mengetahui hal yang tersembunyi dalam setiap persoalan, termasuk hal ini. Bagiku yang masih seorang diri, mengartikan kedamaian adalah ketika hidup kita tidak terusik oleh hal-hal sepele. Tetapi, bukankah menikah itu justru akan selalu bergesekan dengan hal-hal sepele lainnya. Lantas kedamaian apa yang dimaksudkan oleh Allah di dalam firmannya itu?

Aku tidak akan menduga-duga bahwa pemahamanku saat ini akan melampaui ayat itu. Justru jauh dari pada itu, aku harus senantiasa menggali kemampuanku untuk mengetahui makna kedamaian itu sendiri. Tidak apalah orang lain berpikir bahwa cara mengetahuinya yaitu dengan mencobanya langsung. Maaf, untuk urusan yang satu ini, menurutku kita tidak boleh main-main dan tidak boleh coba-coba, sebab setengah dari hidup kita di dunia ini bergantung padanya.

Mohon maaf, bukanya aku tidak rindu dengan kalian. Sebab waktu memberikanku keterbatasan untuk menulis. Tetapi, dilain waktu inshaAllah aku sudah menemukan jawabannya dari kasus ini. Mohon maaf, jika judul dan isi tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Semoga di lain kesempatan aku segera membereskan kasus ini. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr.wb

IDUL FITRI (Lebaran, Takbiran dan Mabok-Mabokan)



     Alhamdulillah, malam ini tepatnya 1 Syawal sudah. Selama satu bulan penuh kemarin, kita telah melaksanakan ibadah wajib Shaum Ramadhan. Malam ini ramai di mana-mana orang mengumandangkan takbir. Tapi Maaf, sebelumnya saya tidak ingin mengotori kesucian malam yang indah ini, tetapi inilah perasaanku. Semoga kalian memakluminya.
     Di belahan bumi jawa tengah, di desa yang sangat aku banggakan karena ada ayahku ini sedang berlangsung aktifitas yang sama. Anak-anak riuh menabuh kentungan dan bedug riang gembira seolah besok sudah tidak lagi menahan lapar dan haus.
   Aku hanya menghibur diriku saja, sebab hanya beberapa anak-anak saja kata ibuku, yang melaksanakan shaum, terlebih adikku yang satu itu. Karena anak seorang pemuka agama di desa, mau tidak mau harus menuruti ayahnya. Belajar, kata ayahku. Alhamdulillah, kami dikaruniai keluarga yang sangat dekat dengan agama meskipun lingkungan masih jauh dari itu. Semoga saja ada hidayah turun di desa kami supaya orang-orang mau belajar agama. Itu doa kami sekeluarga.
     Ramadhan di desaku atau di dusun tempatku tinggal sekarang mulai ada kemajuan. Setidaknya jeripayah ayahku membuahkan hasil, sebagian masyarakat sudah mau menginjakkan kakinya ke langgar yang dibangun 3 atau 4 tahun silam itu. Alhamdulillah.
Banyak rasa syukur yang bisa aku panjatkan kepada Allah, sebagai pemberi nikmat untuk iman dan islam pada keluargaku. Semoga Allah terus memberi rahmat dan ridhonya kepada kami sekeluarga dan yang paling khusus kepada dusun dan desaku tercinta, semoga berimbas ke seluruh desa tentunya, Aamiin.
     Namun, pemandangan yang sungguh ironis di dusunku masih saja berjalan seperti biasanya. Kontradiktif dengan kegiatan yang sedang berlangsung. Di sekitaran rumahku, sedang ramai anak-anak dan orang tua mengumandangkan Takbir, sedang di sebelah sana, ramai anak-anak dan orang tua membeli Bir. Sungguh malang, menyedihkan dan membuat teriris hati ini, sebab di malam yang suci ini kami masih bergesekkan dengan kemaksiatan yang ada di depan mata.
Mudik dan dan lebaran menjadi ajang berpesta pora menghamburkan uang untuk mabuk-mabukkan. Sungguh ironis. Untunglah Allah dengan segala kebijaksanaan-NYA masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pertobatan. Tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Allah untuk mengembalikkan itu semua. Aamiin.
     Di hari yang baik ini, saya hanya ingin berdoa kepada Allah, semoga kita senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT untuk terus memperbaiki diri dalam jalan yang diridhoi oleh-NYA. Semoga Allah terus memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat sebelum ajal menjemput. Aamiin.
Wassalamualaikum wr.wb

Imajinasiku Mangkrak Karena Writers Block.

Entah sudah berapa lama memang aku merasakan bahwa kekuatan imajinasi ada batasnya, padahal ilmu Allah sangatlah luas. Sudah aku katakan lebih dari berbulan-bulan lamanya, aku mengidap penyakit yang biasa para penulis alami, yaitu "Writers Block".

Mohon maaf, aku sedang tidak ingin menganggap buruk permasalahan ini, bisa jadi timbulnya masalah ini ada hikmah di belakangnya. Tetapi aku sulit menemukannya. Mungkin kamu menemukan itu?

Bagiku menggali kemampuan diri amatlah sulit jika kita hanya berdiam diri saja tanpa melakukan aksi yang dapat menimbulkan efek bergeraknya setiap otot-otot tubuh serta otak kita. Aku begitu lemah menghadapi kenyataan bahwa dunia kepenulisanku ini, yang bila diukur masih jauh panggang dari pada api, bahkan aku belum menemukan alat pemanggangnya.

"Apakah aku sedang mengeluh, hei!"
"Maaf aku."

"Tidak, tidak. Aku sedang tidak mengeluh, aku hanya kesal pada diriku sendiri. Apakah itu sama dengan mengeluh?"

"Aku tidak tahu."

Penyakit ini menurutku tidak ada obatnya. Sebab apa? Toh, beberapa penulis-penulis besar buktinya mengalami hal yang sama sepertiku. Tetapi, yang membedakannya dari semua itu adalah kemampuan untuk segera bangkitnya begitu besar. Semangatnya membara apabila mereka telah melewati depresi ringan itu.

"Apa aku boleh tertawa?"

"Kenapa?"

"Kau berbicara seperti sedang mabuk."

"Jaga ucapanmu! Aku ingin melanjutkan."

Seorang teman berkata padaku, dan teman lainnya menyemangati secara bersama-sama. Sarannya pada mereka yang sedang terjangkit penyakit ini, dengan bergiliran;

- "Kalau aku selalu nonton film Jepang," *dia perempuan, mungkin film jepang yang dia maksud adalah film-film romantis. Atau bisa jadi film-film bergenre misteri dan film-film aksi lainnya. Entahlah kalau dia laki-laki, mungkin persepsiku berbeda.

- "Kalau aku baca buku, nonton film, jalan-jalan pake motor keliling kecamatan." *Yang satu ini patut dicoba teman-teman.

"Apakah Writers Block bisa kita padamkan?"
"Oh. Itu pertanyaan berat saudara."

Berkaca dari pengalaman para penulis-penulis besar, yang juga mereka selalu mendapati penyakit ini, bisa dikatakan sulit untuk menghilangkannya. Tapi mungkin, ini hanya sekedar ide saja, timbulnya penyakit ini bisa jadi lantaran kita kurang mempersiapkan segala sesuatunya.

Ibarat kita akan perang. Strategi, kemampuan pertahanan, senjata, dan pasukan tentunya harus diperhitungkan secara matang. Sama halnya dengan menulis, persiapan-persiapan sebelum melakukan kerja menulis seyogyanya harus dipersiapkan secara matang juga. Melalui riset mendalam, memperbanyak bacaan agar kaya kata, itu sangat membantu mungkin bila diteliti lebih lanjut.

"Ha ha ha ha,"

"Kenapa?"

"Kau berbicara seolah sudah melakukan itu semua."

"Belum memang, tapi lihatlah. Kau sendiri tercipta berkat keagungan kuasa Tuhan yang memberikan imajinasi padaku untuk merangkai kata dan menciptamu."

"Jangan bercanda?"

"Atau mau kumatikan sekarang dirimu itu,"

"Jangan-jangan. Aku masih ingin menemanimu."

"Tidak. Aku sudah selesai saat ini juga."

"Begitu?"

"Iya."

"Baiklah."

Jadi teman-teman kunci itu semua, untuk meminimalisir agar penyakit writers block agar tidak membendung dan menutup sumur imajinasimu adalah dengan menulis, serta mempersiapkan tujuanmu akan menulis apa. Menulis dalam hal ini adalah, menulis apapun, bahkan cerita yang sangat tidak masuk akal seperti ini. Cobalah! Jika masih gagal, kita cari tahu sama-sama masalahnya.

Thank You.

Wassalamu'alaikum w.w

PROSES (PERNIKAHAN)

Assalamu'alaikum w.w

"Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu." - (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

Menikah, yah!

Adalah hal terbesar dalam perjalanan hidupku memutuskan hal seperti ini. Mungkin saja, atau bisa dikatakan, karena umur dan waktu serta sahabat dan teman-temanlah yang menjadi faktor bagaimana perasaan ingin menikah ini muncul. Aku menganggap, sesi ini adalah muqadimah dari sebuah perjalanan menuju jenjang pernikahan. Aku harus meluruskan niatku, mempersiapkan mental dan materi agar siap berperang melawan ketakutan yang selalu muncul, meskipun ketakutan itu tidak pernah menemukan tempatnya.

Seorang guru, mewartakan kepadaku, bahwa yang harus dipersiapkan saat seseorang akan melalui pernikahan adalah dengan memfakultasi diri dengan ilmu, amal, dan aqidah. Agar kelak dalam berumah tangga, tidak ada penyesalan dalam menjalani bahtera keluarga.
Sungguh menarik memang jika aku berkaca kepada saudara-saudaraku yang seiman, mereka menceritakan suka dan dukanya dalam prosesnya menuju pernikahan.

"Percayalah!" Seorang sahabat berkata padaku, "meskipun kamu mencari ke sana-ke mari, bertanya kepada si Fulan dan Si Fulan tentang bagaimana proses menikah itu, sekali-kali kamu tidak akan menemukan formula yang khusus untuk meminimalisir kegagalanmu dalam meraih itu semua. Setiap orang memiliki permasalahannya sendiri-sendiri, satu kasus orang belum tentu bisa kau cari solusinya lalu menerapkannya dalam urusanmu."

Perjalanan itu berlanjut, suatu ketika, aku yang secara tidak sengaja karena sedang baca-baca di salah satu blog teman komunitasku, dia ini adalah pegiat IT, juga rajin menulis di blog, banyak tulisan-tulisannya yang menarik dan ada juga yang tidak menarik minatku, (Semoga dia tidak membaca bagian ini). Beberapa artikel yang ia tulis salah satunya adalah membahas tentang tempat untuk melangsungkan weding (baca ; menikah), dan sangat menakjubkan sekali menurutku, dari sekian banyak artikel yang ia tulis, hanya kategori yang berfokus pada pernikahan mendapat atensi berlebih dari para pembaca, bahkan mungkin sebagian mereka bukan followersnya. Di tambah lagi, lagu-lagu seperti "Akad - Payung Teduh" juga menjadi dampak tersendiri di kalangan kawula muda masa kini untuk berlomba-lomba ingin segera menikah.

Well, aku yang sampai saat itu tidak terlalu terpikirkan oleh hal-hal semacam ini menjadi sedikit tergerak hati untuk menikah. Entahlah, aku pun masih mencari apa benar niatku ini, sementara ilmu dan materi tentunya belum memadai. Sampai saat ini juga, aku masih sedang berusaha memperbaiki diri, menambah imanku agar lebih yakin lagi, bahwa pilihan yang satu ini adalah keputusan terbaikku untuk saat ini.

Bukan dengan emosi kau memilih bahwa itu baik, sebab menurut ALLAH belum tentu baik.
Intinya adalah, Proses menuju pernikahan atau Pra Nikah, sebaiknya harus dilalui dengan sebaik-baiknya, mulai dari mempersiapkan materi tentunya, rencana ke depan setelah menikah, jangan sampai, rencanamu hanya bertahan sampai dengan kau menikah saja, sehabis itu kamu seperti layang-layang putus, terombang-ambing dalam membuat keputusan. Bagiku, sebagai seorang yang santai-santai saja, memikirkan hal semacam ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Jujur saja, banyak ketakutan-ketakutan yang selalu saja timbul tenggelam menghadang rencana besar itu.
Dan yang paling penting adalah, menikah itu adalah ketika kamu memasuki zona yang baru lalu meninggalkan zona lamamu, maksudnya adalah harus ada kedewasaan yang mesti kamu asah mulai dari sekarang. Jauhi sifat kekanak-kanakan yang berlebih, fokus pada tujuan, dan bergerak sesuai aturan Allah.

Bagi kamu yang juga tidak sengaja membaca tulisan ini dan kebetulan mau menikah juga, mari kita sama-sama berlomba memantaskan diri di hadapan Allah, bahwa apa yang akan menjadikan pilihan kita ini mendapat restu dari-NYA, Aamiin. Aku doakan, semoga apa yang kamu rencanakan berjalan mulus.

Pesan penting lainnya dari guruku adalah, memperbanyak bergaul dengan perintah Allah, akan lebih memuluskan rencanamu itu. Seperti halnya saat ini, di bulan Ramadhan, orang-orang berlomba-lomba memperbaiki diri, memperbaiki kualitas diri di hadapan Allah, agar akhir ramadhan, mendapatkan predikat sebagai orang-orang bertakwa. Tentunya hal itu sama, yang kita inginkan adalah mendapatkan calon pasangan yang sesudai dengan kriteria Allah, seperti yang tertulis dalam Al-Quran ;

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. At Taubah (9):71].

Juga beberapa referensi lainnya dari Al-Quran ;

“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu:Surga)” [QS. An Nuur (24):26].

So, jangan mau enaknya, kamu pengen perempuan yang beriman, atau laki-laki yang beriman, tetapi kita sendiri tidak berlaku adil pada diri sendiri, menjadi orang yang beriman pula. Akhir dari saya, semoga kita termasuk orang-orang yang beriman. Aamiin.
Wassalamu'alaikum w.w

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...