Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri

Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terhormat. Namun jika ditelusuri lebih dalam, praktik ini justru memperlihatkan kegagalan besar: negara dan umat sama-sama tidak memahami Islam sebagai sistem kehidupan yang utuh. Pernikahan direduksi menjadi ritual privat, dilepaskan dari tanggung jawab sosial, hukum, dan perlindungan yang seharusnya melekat di dalamnya.

Di titik inilah absurditas itu lahir: ada “nikah agama” yang sah di lisan, tetapi rapuh di hadapan hukum. Yang lebih tragis, perempuan menjadi pihak yang paling rentan menanggung akibatnya, ditinggalkan tanpa perlindungan, tanpa kejelasan status, dan tanpa jaminan hak.

Islam yang seharusnya menghadirkan keadilan justru diseret menjadi legitimasi bagi ketimpangan.

Pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa praktik yang jelas merugikan dapat dibungkus atas nama kesalehan? Siapa yang sebenarnya diuntungkan, dan siapa yang dikorbankan?

Nikah siri bukan sekadar persoalan individu. Ia adalah cermin dari kegagalan kolektif dalam memahami Islam secara kaffah, Islam sebagai sistem yang menjamin keadilan, perlindungan, dan martabat manusia, bukan sebagai ruang abu-abu yang memungkinkan eksploitasi terselubung.

Nikah Siri sebagai Fenomena Sosial

Nikah siri bukan keputusan personal dua individu, melainkan gejala sosial yang tumbuh dari budaya patriarki dan pembiaran sistemik yang dinormalisasi bertahun-tahun. Ia hidup karena ada ruang abu-abu yang sengaja dibiarkan terbuka, ruang yang menguntungkan pihak berkuasa dan merugikan pihak yang lemah.

Sebagian tokoh agama turut melanggengkan praktik ini dengan memberi legitimasi seolah-olah syar’i, padahal substansinya jauh dari nilai keadilan. Ketika legitimasi tersebut bertemu dengan budaya populer yang gemar menempelkan label “syar’i” sebagai identitas, maka ruang abu-abu itu semakin sulit dibedakan.

Penamaan syar’i menjadi tren pemasaran hari ini, bukan sekadar nilai. Namun alih-alih membawa umat pada pemahaman yang benar, fenomena ini justru mendorong masyarakat menormalisasi sesuatu hanya karena tampak religius. Di sinilah nikah siri mendapat ruang hidupnya.

Akibatnya, masyarakat tidak terdidik memahami Islam secara substansial. Mereka sibuk pada isu-isu furu’iah yang teknis dan permukaan, hingga gagal melihat keluhuran Islam sebagai agama yang memuliakan manusia dan menjaga keadilan sosial.

Perempuan sebagai Korban Utama

Di balik legitimasi yang membungkus nikah siri, ada kenyataan kelam yang tak bisa dinafikan: perempuan hampir selalu menjadi pihak yang paling menanggung risikonya. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena struktur sosial dan budaya tidak memberi ruang bagi mereka untuk menang.

Laki-laki mendapatkan privilege dari sistem yang kacau ini: kemudahan menikah tanpa konsekuensi, kebebasan pergi kapan saja, dan bebas dari tanggung jawab hukum. Sementara perempuan harus menanggung seluruh akibatnya.

Berikut gambaran dampak sosial paling umum dalam nikah siri:

Pertama, perempuan tidak memiliki perlindungan hukum. Tanpa pencatatan negara, hak-hak fundamental seperti nafkah, waris, harta bersama, maupun hak menggugat tidak dapat diakses.

Kedua, perempuan bisa ditinggalkan kapan saja tanpa konsekuensi. Laki-laki bebas pergi tanpa pertanggungjawaban.

Ketiga, beban sosial jauh lebih berat. Perempuan dicap negatif, sementara laki-laki sering lolos dari stigma.

Keempat, anak menanggung kerugian administratif, sosial, dan identitas hukum.

Kelima, ketidakstabilan psikologis muncul akibat hidup dalam ketidakpastian status dan masa depan.

Semua ini menunjukkan satu hal: nikah siri merugikan perempuan secara struktural.

Dan ketika praktik ini dilakukan oleh laki-laki yang sudah beristri, kerusakannya meluas: melukai perempuan yang dinikahi siri, istri yang sah, serta keluarga yang berada dalam lingkaran dampaknya.

Pada akhirnya, perempuanlah yang memikul luka paling dalam dari praktik yang dilegitimasi atas nama agama.

Distorsi Makna Pernikahan dalam Islam

Pernikahan dalam Islam adalah ikatan suci yang dibangun atas keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Akad bukan sekadar formalitas, melainkan amanah sosial dan spiritual.

Namun pernikahan sering dipraktikkan tanpa mempertimbangkan keadilan bagi perempuan. Nikah siri tanpa kejelasan nafkah, tanpa perlindungan, atau yang didasari nafsu semata, jelas jauh dari konsep ideal Islam.

Syariat tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia hadir untuk menjaga martabat manusia dan melindungi pihak yang rentan. Ketika sebuah akad hanya melegalkan hubungan tetapi tidak menjamin keadilan, maka itu bukan penerapan syariat, melainkan penyimpangan.


Negara Absen, Agama Disalahgunakan

Salah satu persoalan paling serius adalah absennya negara dalam memberikan perlindungan. Regulasi memang ada, tetapi pengawasan lemah. Celah inilah yang dimanfaatkan sebagian orang untuk memelintir ajaran agama demi kepentingan pribadi.

Ketika negara pasif, dan agama dijadikan tameng untuk menghindari tanggung jawab, ketidakadilan menjadi sistemik. Perempuan dan anak menjadi korban utama dari pembiaran struktural ini.

Nikah Siri sebagai Bukti Kekacauan Sistemik

Nikah siri adalah gejala dari penyakit sosial yang lebih dalam. Ia menunjukkan:

  • negara gagal menyediakan perlindungan yang adil

  • sebagian tokoh agama menafsirkan syariat secara sempit

  • masyarakat tidak mampu membedakan mana yang adil secara moral dan mana yang hanya legal secara teks

Ia adalah simbol kegagalan kolektif: kegagalan negara, kegagalan masyarakat, sekaligus kegagalan moral sebagian pihak.

Refleksi Ideologis: Islam dan Negara sebagai Kesatuan

Islam tidak pernah memisahkan ibadah dari keadilan sosial. Dalam Islam, ritual dan tanggung jawab publik berjalan bersama. Karena itu, pernikahan bukan sekadar akad, tetapi institusi yang dijaga oleh aturan sosial, legalitas, dan pengumuman yang jelas.

Rasulullah tidak pernah mencontohkan nikah siri dalam bentuk yang disembunyikan dari masyarakat. Beliau menekankan pentingnya mengumumkan pernikahan agar tidak ada peluang kezaliman atau penipuan status.

Masalah muncul ketika negara tidak menjalankan fungsinya sebagai penjaga kemaslahatan, sementara masyarakat menjalankan agama hanya sebatas ritual. Ketika keduanya berjalan terpisah, ruang penyimpangan terbuka.

Islam memandang negara bukan lembaga administratif semata, melainkan perangkat untuk menjaga nilai-nilai moral dan sosial yang diajarkan agama. Ketika agama dan negara tidak berjalan seiring, ketidakadilan muncul.

Nikah siri adalah bukti nyata keretakan ini. Ia bertahan bukan karena Islam mengajarkannya, tetapi karena sistem sosial gagal berjalan bersama nilai-nilai Islam. Ketika negara tidak menegakkan perlindungan dan agama tidak dipahami secara substantif, perempuan menjadi korban.

Penutup: Seruan Kesadaran

Nikah siri bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi cermin dari persoalan sosial, kultural, dan struktural yang jauh lebih besar. Ia menyingkap bagaimana agama disempitkan menjadi ritual, negara abai terhadap keadilan, dan perempuan menjadi korban paling sering dari kekacauan sistem ini.

Jika praktik ini terus dibiarkan, masyarakat akan terbiasa dengan penzaliman yang dibungkus kesalehan. Generasi baru akan memahami agama secara parsial, dan praktik ketidakadilan akan diwariskan.

Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan. Ketika masyarakat berani melihat masalah ini secara jernih, ketika tokoh agama berani mengoreksi penyimpangan, dan ketika negara menjalankan fungsinya sebagai penjaga keadilan, ruang bagi nikah siri akan menyempit.

Islam menawarkan jalan yang adil dan bermartabat. Tugas kita adalah memastikan nilai-nilai itu hidup dalam sistem, budaya, dan kebijakan.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa membela keadilan adalah bagian dari iman, dan mendorong kita membangun masyarakat yang memuliakan manusia, melindungi perempuan, dan menghadirkan rahmat bagi semua.

Catatan Penulis : 

Bagian-bagian yang memuat gagasan utama, arah tema, kritik sosial, serta pengalaman reflektif berasal dari pemikiran pribadi penulis. Adapun pengolahan bahasa, penyusunan argumen, serta penguatan struktur narasi dibantu oleh kecerdasan buatan untuk memperjelas alur dan memperkaya penjelasan tanpa mengubah substansi pemikiran awal penulis.

Berhijab adalah Melawan


Berhijab adalah bentuk perlawanan. 
Perlawanan terhadap ide yang menempatkan “cantik” sebagai keberanian menampilkan bentuk tubuh dan mengumbar aurat.

Dalam dunia modern hari ini, makna cantik telah dipersempit oleh industri dan media.
Kulit putih, tubuh langsing, dan wajah simetris dijadikan standar universal, seolah itu satu-satunya ukuran keindahan.
Padahal, semua itu hanyalah konstruksi yang diciptakan agar produk mereka laku.

Di berbagai belahan dunia, kecantikan memiliki makna yang berbeda.
Tidak ada satu standar yang bisa diberlakukan untuk semua.
Islam pun memandang kecantikan dari dimensi yang jauh lebih tinggi: spiritual dan moral, bukan sekadar kekuasaan dan pengaruh.

Dalam Islam, kecantikan adalah keseimbangan antara lahir dan batin.
Ia tidak berhenti di wajah, melainkan terpancar dari hati yang bersih dan akhlak yang mulia.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”

Sebelum datangnya Islam, derajat wanita begitu rendah.
Mereka diperlakukan layaknya barang dagangan, diperjualbelikan, direndahkan, bahkan dianggap aib bila lahir dalam keluarga.
Namun semua berubah ketika Islam datang membawa cahaya peradaban.
Wanita dikembalikan kepada fitrahnya, ditinggikan derajatnya, dan disejajarkan dalam kemuliaan manusia.
Inilah hakikat kesetaraan yang sesungguhnya, yang bahkan dunia Barat terus mencari bentuknya hingga hari ini.

Dengan syariat hijab, Islam bukan sedang mengekang wanita.
Hijab justru menjadi pelindung, dari pandangan yang menodai, dari bahaya dunia, dan dari murka di akhirat.
Sebab syariat Islam hadir bukan untuk menekan, melainkan untuk menyelamatkan manusia di dua alam: dunia dan akhirat.

Maka berhijab bukan sekadar penutup kepala.
Ia adalah simbol perlawanan terhadap ideologi-ideologi yang menyelewengkan makna kemuliaan perempuan:
feminisme yang kehilangan arah, liberalisme yang meniadakan batas, patriarkisme yang menindas, dan komunisme yang menghapus fitrah.

Berhijab adalah pernyataan sikap.
Bahwa kecantikan sejati bukan di mata manusia, melainkan di sisi Allah.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

sumber gambar : pngtree

DIALEKTIKA - Manusia Sebagai Alien

 
    Pada kegiatan DIALEKTIKA (Diskusi & Logika Bersama Kita) Jumat, minggu lalu kami membahas sebuah tema yang sangat unik yaitu "Manusia Sebagai Alien". Tema ini diangkat sebagai bentuk refleksi diri di mana manusia sejatinya memang bukan berasal dari bumi ini. 

    Berawal dari sebuah tayangan podcast di youtube, sang narasumber mengatakan kalau sebenarnya manusia ini punya kekuatan super layaknya superman. Bedanya kalau Superman dari Planet Krypton sedangkan kita manusia berasal dari surga, sambil tersenyum narasumber membuat kagum. 

    Dari percakapan itu penulis merenung dan sedikit skeptis tentang pernyataan itu. Semakin lama merenungkan ternyata apa yang dikatakan narasumber itu benar juga sih. he he

    Saya membayangkan awal penciptaan manusia, di mana di dalam Al Qur'an juga dijelaskan bahwa manusia sejatinya bukan berasal dari bumi melainkan berada di surga. Karena sudah menjadi ketetapan Allah maka manusia diturunkan ke bumi. Mungkin juga manusia secara genetika sama dengan makhluk di bumi, makanya manusia sangat cocok berada di bumi meskipun mereka perlu beradaptasi dengannya. 

    Berbeda dengan makhluk bumi lainnya, manusia nampaknya memerlukan proses adaptasi yang cukup panjang dan melelahkan agar mereka sampai pada tahap ini. 

       Apa jadinya jika manusia mencoba hidup di luar planet bumi, sebagaimana seperti yang diimpi-impikan orang eropa di masa depan. Apakah manusia akan berhasil? Saya pikir mungkin manusia tidak akan bisa bertahan lama sebagaimana manusia bisa bertahan lama hidup di bumi ini. Dengan berbagai dinamika yang ada, manusia masih bertahan di bumi ini.

    Lantas apa yang bisa kita ambil sebagai sebuah refleksi yang akan menuntun kita ke masa depan dari narasi manusia sebagai alien ini? Ya tentu dengan mengetahui asal-usul kita tentu kali ini kita sudah tidak akan tersesat lagi. Kali ini semakin jelas lah tujuan hidup yang pasti di mana selama ini kita telah terdistraksi oleh hiruk pikuk dunia yang senantiasa menghipnotis kita untuk terus bertahan di bumi. 

    Sudah siapkah kita untuk kembali pulang? Apa bekal yang pantas untuk bisa kembali ke kampung halaman?
 

Brain Rot: Ancaman Nyata di Balik Scroll-scroll Iseng


Pernah merasa hari-hari berlalu begitu saja tanpa makna? Tugas menumpuk, kerjaan nggak selesai, tapi waktu habis entah ke mana? Bisa jadi kamu sedang mengalami yang disebut dengan brain rot.

Apa Itu Brain Rot?

Brain rot — atau dalam bahasa kasarnya, "pembusukan otak" — adalah istilah yang makin populer di kalangan Gen Z. Bukan cuma istilah internet doang, tapi ini merujuk pada penurunan fungsi otak akibat terlalu sering terpapar konten-konten pendek dan receh, terutama dari media sosial.

Penurunan ini bukan cuma soal konsentrasi atau daya ingat, tapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental: munculnya stres, kecemasan, dan bahkan depresi.

Menurut penelitian dari Asosiasi Kesehatan Perguruan Tinggi Amerika, ada hubungan signifikan antara screen time berlebihan dan gangguan kesehatan mental. Dan kalau kita lihat sekitar, gejala ini sudah terlihat jelas: susah fokus, gampang terdistraksi, terus-menerus buka HP tanpa sadar, bahkan saat lagi nyetir atau nongkrong bareng teman.

Kenapa Otak Kita Jadi Gampang Rusak?

Supaya bisa paham kenapa kebiasaan sepele seperti scrolling bisa berdampak besar, kita perlu tahu dulu cara kerja otak.

1. Sistem Reward yang Suka Hal Instan

Otak kita punya sistem penghargaan bernama dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa senang setelah melakukan sesuatu yang “berhasil.” Dulu, kita dapat dopamin setelah menyelesaikan pekerjaan penting, ngobrol sama orang dekat, atau olahraga. Tapi sekarang? Cukup scroll TikTok 15 detik, otak langsung bahagia.

Ini bikin sistem reward alami rusak. Otak jadi lebih suka hal instan yang gampang, tanpa usaha. Akibatnya, kita malas untuk ngelakuin hal-hal yang penting tapi butuh waktu dan tenaga.

2. Pelarian dari Emosi Negatif (Escapism)

Scrolling sering jadi coping mechanism — pelarian dari stres, kecemasan, atau rasa sepi. Tapi pelarian ini bukan solusi. Kita hanya menekan emosi, bukan menyelesaikannya. Jadinya kayak lingkaran setan: stres → scroll → senang sebentar → nyesel → stres lagi.

3. Sistem Berpikir Lambat yang Melemah

Otak punya dua sistem berpikir: cepat (instan) dan lambat (mendalam). Konten receh melatih sistem cepat, tapi meninggalkan sistem lambat. Padahal, sistem lambat itulah yang bikin kita bisa berpikir kritis, fokus lama, dan memproses informasi dengan baik. Kalau nggak dilatih, ya makin tumpul.

4. Kecanduan Membandingkan Diri

Kita juga makin sering membandingkan diri dengan orang lain lewat media sosial. Masalahnya, yang kita lihat adalah versi terbaik dan tersaring dari hidup orang. Kita bandingin highlight orang lain dengan behind the scene hidup kita sendiri. Hasilnya? Rasa rendah diri, kecemasan, dan tekanan sosial yang nggak perlu.

Otak Kita Masih Bisa Diselamatkan

Kabar baiknya, otak punya neuroplasticity — kemampuan untuk berubah dan membentuk jalur baru. Jadi meskipun sudah “rusak,” fungsi otak bisa dipulihkan lewat kebiasaan-kebiasaan baik. Tapi kabar buruknya: otak juga bisa makin parah kalau kebiasaan buruk dibiarkan terus.

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan:


✅ Langkah Praktis Memulihkan Otak dari Brain Rot

1. Batasi Screen Time

Tentukan jam khusus untuk pakai media sosial, misalnya hanya jam 11:30–13:00 dan 17:30–19:30. Hindari buka HP saat bangun tidur atau sebelum tidur. Bisa pakai aplikasi pemblokir agar konsisten.

2. Latih Deep Work

Fokus kerja atau belajar dalam blok waktu tertentu, misalnya 8:00–11:00 pagi. Coba teknik Pomodoro: 25 menit kerja, 5 menit istirahat (tanpa scrolling). Ulangi beberapa interval.

3. Baca Buku

Buku melatih otak untuk fokus dan berpikir mendalam. Ini membantu mengaktifkan sistem berpikir lambat yang sangat penting untuk daya pikir kritis dan pemahaman jangka panjang.

4. Olahraga Teratur

Olahraga bisa meningkatkan hormon BDNF (brain-derived neurotrophic factor), semacam "pupuk" untuk otak. BDNF membantu memperkuat koneksi antar neuron, bikin kita lebih fokus, lebih cepat belajar, dan lebih tajam mikir.

Selain itu, olahraga juga memperbaiki kualitas tidur. Tidur yang cukup bikin mental stabil, emosi lebih teratur, dan keputusan hidup jadi lebih rasional.


🌱 Penutup: Pilihannya di Tangan Kita

Kita enggak bisa nyalahin algoritma atau teknologi aja. Pilihan tetap ada di tangan kita. Mau tetap terjebak di pusaran konten pendek dan otak lemas, atau mulai pelan-pelan mengembalikan kekuatan berpikir kita?

Manfaatkan akal sehat yang kita punya. Bangun kebiasaan baik secara bertahap. Karena satu hal kecil yang dilakukan konsisten bisa berdampak besar di masa depan.

Semoga tulisan ini bisa jadi refleksi dan pengingat. Kita semua berhak punya otak yang sehat, fokus yang kuat, dan hidup yang penuh semangat. ✨

Sumber Informasi & Tools : 

  • Youtube : Akbar Abi-Cara Memulihkan Fungsi Otak - brainrot, kekuatan neuroplasticity
  • ChatGpt

Ketika Idealisme Diuji Realitas

  
    Seringkali idealisme akan luntur dengan sendirinya ketika seseorang dihadapkan pada kondisi paling sulit dalam hidupnya. Situasi itu memaksanya untuk mengubah prinsip yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya, dan dalam sekejap ia bisa berubah haluan — dari seorang idealis menjadi oportunis.

    Namun, itu bukanlah sesuatu yang serta-merta patut disesali. Sebab kehidupan ini tidak hanya ditentukan oleh urusan materiil semata, melainkan juga oleh banyak hal lain yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar prinsip atau retorika.

Secara umum, idealisme hanya berubah dalam tiga kondisi utama:

  1. Ketika seseorang meninggal,

  2. Ketika seseorang diterpa badai kesulitan,

  3. Dan ketika seseorang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam.

    Pada kondisi pertama, saat seseorang masih hidup, ia mungkin menjadi sosok yang keras kepala, angkuh, dan arogan dalam memegang idealismenya. Namun, setelah ia meninggal, idealisme itu perlahan akan berubah. Andaipun ada seseorang yang bersuara lantang mengklaim bahwa ia meneruskan risalahnya, tentu tidak akan seotentik pendirinya, bukan? Ada nilai-nilai yang pasti hilang, dan interpretasi yang seringkali tidak lagi sejalan dengan keaslian semangat awalnya. Maka, perlulah kita merenungkan kembali idealisme yang diwariskan, bukan malah bersikap arogan seolah-olah kita yang paling memahaminya.

    Kemudian pada kondisi kedua, mereka yang dulu memegang idealismenya dengan teguh seringkali goyah ketika dihadapkan pada realitas yang menyesakkan. Kita sering mendengar ungkapan, “Kesempatan hanya datang satu kali,” namun faktanya justru sebaliknya: kesempatan datang berkali-kali, namun sering kali kita melewatkannya begitu saja.
Mungkin itu adalah ungkapan dari seseorang yang telah kalah dalam pertarungan idealismenya. Ia menyadari bahwa prinsip yang selama ini ia junjung tinggi tidak membuatnya hidup lebih damai, melainkan justru sebaliknya: penuh tekanan, rasa waswas, dan kekhawatiran. Dalam kondisi itu, dorongan kuat untuk bertahan hidup mengharuskannya mengambil jalan berbeda.
Jika dalam konteks peperangan, mundur untuk menyusun strategi baru adalah hal yang bijak. Namun jika mundur itu berujung pada menjauh dari prinsip dan kehilangan arah, maka akan sulit untuk kembali. Entahlah—manusia memang unik dan kadang lucu dalam caranya bertahan hidup.

    Lalu, kita sampai pada golongan ketiga: mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara jernih dan reflektif.
    Manusia dibekali akal, tapi tidak semua menggunakannya. Orang-orang yang mampu melampaui batas pikirannya, menyelami makna kehidupan, dan memahami bahwa realitas tak selalu datar dan linier—mereka akan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan arah.
Idealisme bagi mereka bukanlah dinding kaku yang menolak semua perubahan, melainkan kompas yang fleksibel. Mereka tetap tahu ke mana arah tujuannya, tapi tidak menutup diri terhadap dinamika kehidupan.

    Mereka ini adalah sosok yang telah merdeka secara batin dan pikiran. Godaan dan cobaan pasti datang menghantam, namun justru di situlah mereka mengasah kepekaan, memperluas pemahaman, dan membuka ruang belajar. Mereka tidak kaku, tapi juga tidak mudah hanyut. Idealisme yang mereka pegang bukan hanya sekadar simbol, tapi jalan menuju kematangan hidup.


 Akhir kata,

    Inilah sedikit gambaran tentang manusia dalam memegang idealismenya. Bukan sebuah justifikasi, melainkan hasil dari refleksi selama ini dalam memahami perilaku manusia dan dinamika kehidupan.
Jika Anda tidak sependapat, silakan beri komentar. Saya sangat terbuka untuk berdiskusi—karena lewat dialog, kita bisa belajar lebih banyak tentang kebenaran dan kehidupan.
Terima kasih.


Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...