PAIJO & GOYANG DOMBRET NGOPI.

Goyang Dombret sedang resah. Pikirannya panas mendidih. Dari kejauhan di bawah pohon karsen depan warkop Mbok Surtini, Paijo termesem melihat tingkah Goyang Dombret. Dia tau pasti pikiran sahabat gelutnya itu. Sebuah video unggahan sedang viral di jejaring media sosial. Sekelompok orang dalam sebuah seremoni terlihat membakar bendera hitam yang diklaim milik organisasi yang sudah dianggap terlarang oleh seantero Nusantara. Hal itu juga yang jadi minat Paijo menelitinya, untuk apa mereka melakukannya dan bagaimana bisa bendera itu muncul bertepatan dengan acara nasional?

Tebakan Paijo benar dan ia sudah siap untuk meredam amarah Kebo Ireng itu. Bukan tanpa alasan Paijo menyebutnya seperti itu. Terlalu panjang untuk menjelaskan. Yang pasti hitam diambil dari warna kulitnya yang suka beradu dengan terik matahari di sawah. Goyang Dombret berjalan mendekati sohibnya itu.


“Wah, itu orang-orang kurang ajar memang!” geram Si Goyang Dombret sambil menyerobot kopi hitam yang baru disuguhkan oleh Mbok Surtini.

“Hush, Sembarangan koe!” Mbok Surtini menimpali dengan gaya mirip Nunung, artis lawak itu.
“Maaf, Mbok. Lagi kesel nih.”

“Ra urusan,” jawab Si Mbok berlalu meninggalkan dua orang hitam di pelataran warungnya.

Goyang Dombret melirik Paijo. Ia sedang melinting tembakau Engko Taiong sambil mesem, “Ah, kamu Jo… Paijo. Udah tau belum berita hari ini.”

“Aku wes weruh. Itu di atas kepalamu ada tulisannya.” Goyang Dombret mengibaskan tangannya ke atas rambut keriting kumalnya.

“Ah!” jawabnya.

“Jadi, aku mau langsung saja bertanya padamu,” Paijo mengapit ujung lintingan tembakau di bibirnya lalu menyalakannya. Ia menghisap rokok itu dengan khidmat lalu menyemburkan asap putih pekat itu ke angkasa. Belum jauh asap itu tersangkut batang-batang pohon Karsen.

“Begini,” lanjut Paijo, “menurutmu, kalau tulisan Arab, boleh gak untuk dibakar?” tanyanya serius.

“Mm… tentu boleh lah,” jawab Goyang Dombret tanpa beban.

“Nah, bagaimana kalau tulisan Al Quran?” Paijo ragu mengeluarkan kalimat itu. Tap ia yakin, karena sebelumnya ia telah melakukan riset. Meskipun bermodalkan internet.

Goyang Dombret terdiam. Ia berpikir. Tangannya membentuk tinju lalu ia tempelkan pada dagu datarnya seperti patung laki-laki berotot yang terkenal di benua Eropa itu.

“Sebentar Jo. Ini sulit, tapi aku yakin, pasti jelas gak boleh lah… masa tulisan dari Alquran dibakar. Itu kan suci?”

Paijo bersyukur karena sesuai dengan ekspektasinya. Senyumnya makin mengembang. Sejak mereka berdua sepakat membentuk sebuah ruang diskusi sebagai Pengamat Media Sosial (PMS) kedua orang aneh di Kampung Kopi Pahit Sepahit Perjalanan Hidupku ini selalu mengawasi gerak-gerik netizen, termasuk kasus ini.

“Woy, Paijo!” tegur Goyang Dombret kesal, “kamu lama-lama udah kayak kuda aja, mesam-mesem. Jangan-jangan kamu kerasukan jin penunggu pohon karsen ya?”

“Husst… ngawur!” Paijo pura-pura fokus, “kamu ini sebagai pengamat sudah kalah di langkah pertama Bret?”

“Loh, kenapa?”

“Dalam kondisi sekarang, kamu sudah terjebak dalam (Zone Trap Issue Mass Media),” kata Paijo mantap.

“Kok aku ga pernah denger ya Jo, jebakan itu?”

“Sama, wong aku ngarang… Ha ha,” Paijo tertawa terbahak, “jadi intinya saat ini kamu sedang termakan isu sosial media yang entah bagaimana caranya membuat orang-orang menjadi punya pemahaman yang bias. Bisa karena nafsu dan wawasan yang sempit. Tapi aku gak menyalahkan dan gak akan menyebutmu radikal, soale opo? Dewek ilmune cethek. Aku yakin, itu adalah suara imanmu yang paling dalam,”

“Sek… sek… ngenyek kamu ini. Mosok paling dalam,”

“Lah iyo. Tapi Bret, kita coba telaah lebih dalam kasus ini,” kata Paijo bergaya seperti pengamat sungguhan. Mengikuti gaya seorang moderator TV.

“Kasus seperti ini,” kata Paijo, “memang sudah pernah terjadi dan bahkan rekam jejaknya masih bisa kita cari. Asal mau nyari. Tapi sedikit mengulang saja. Bahwa masyarakat kita ini sama saja bodohnya dengan kita-kita ini Bret, baik yang punya gelar tinggi sampai kita yang sering gelar karpet di pinggir sawah. Kita belum sepenuhnya mengetahui bahkan memahami mengenai Baginda Rasulullah beserta sejarahnya. Sampai-sampai ada pemahaman yang keliru terhadap bendera panji Rasulullah, Ar Rayah dan Al Liwa. Mereka mengklaim bahwa itu adalah bendera salah satu ormas yang sudah bubar sehingga dengan yakin mereka membakarnya dengan tujuan untuk menyelamatkan kesakralan kalimat Tauhid.”

“Iya Jo. Aku juga sempet nyari-nyari di browsing internet, kok gak nemu-nemu ya bendera ormas itu, ada juga bendera Rasulullah. Tandanya memang benar mereka mengklaim bahwa itu milik mereka?”

“Tapi Bret. Yang jadi menarik adalah, apa tujuan semua ini? Mengapa kasus ini terulang lagi? Mengapa ada bendera-bendera itu? Apa memang disengaja atau sama sekali itu merupakan kejadian natural?”

“Loh, kalau disengaja berarti ada yang ingin mendapat untun dengan menunggangi perkara ini sehingga terkesan saling beradu?” Goyang Dombret berkomentar, “kita harus benar-benar waspada kalau gitu.”

“Betul, lagi pula terkait masalah pembakaran, aku pikir ini masalah harus kita pisahkan dulu. Mengenai pembakaran ayat Al-Quran ini, aku rasa sulit untuk kita hukum secara menyeluruh, kemudian hal lainnya adalah mengenai motifasinya. Seseorang dihukum itu bukan karena niatnya, melainkan pada perbuatannya. Nah jika memang benar, mereka melakukan itu karena mempunyai persepsi yang salah pada bendera Rasulullah dan Bendera ormas, berarti mereka-mereka ini harus diberi pemahaman yang benar.”

“Itu saran yang bagus, Jo,”

“Terkait pembakaran bendera tauhid ini. Aduhhh, aku juga kesel ngeliatnya pengen tak penyet itu hidungnya. Lah opo, bakar bendera tauhid tapi dipamerin gitu. Entah sengaja atau tidak, tapi ah… masyarakat kita ini sedang dalam masa mencari Allah. Melihat kelakuan mereka kok seolah-olah bilang jangan ikuti kami, kami anarkis,”

“Apa perlu kita serang, Jo,”

“Loh… loh, tambah ngawur koe iki Bret. Tujuanmu itu opo? Hati boleh panas, tapi pikiran harus adem Bret, biar gak salah sangka. Bisa-bisa kita yang pengen punya niat baik malah ikut ambil bagian jadi proyektil orang-orang yang gak bertanggung jawab yang pasti niatnya dunia lagi dunia lagi.”

“Terus kudu gimana aku ini?” Goyang Dombret menyerah.

“Pokoknya kita harus fokus beribadah, berbuat kebaikan seperti Uwais Al Qorni. Tapi jangan lupa pula, tugas kita sebagai pengamat. Semoga diskusi ini bisa menambah ilmu kita Bret.”

“Bener, Jo. Jangan sampai ada buntut dari semua ini. Ngapainlah, menurutku habisin tenaga. Semoga Netizen makin cerdas.” Goyang Dombret lega,

“Aamiin... " Paijo mengaminkan, "Oh iya lupa, Mbok pisang goreng empat!” teriak Paijo sambil memutar badan ke arah warung.

Begitulah kisah Paijo dan Goyang Dombret. Semoga kisah aneh nan tidak berfaedah ini jadi bahan pelajaran buat kita yang suka panas duluan saat melihat berita. Masyarakat selain sebagai rakyat juga mesti gesit dalam menilai situasi. Jangan sampai karena setitik nila, fokus kita terhadap pemerintah yang seharusnya kita monitoring kinerjanya jadi semakin lengah. Kita tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi kan? Stay Focus and enjoy your life.


xx

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...