Mulutmu Harimaumu


Beberapa hari lalu aku mengunjungi seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Kala itu sekitar enam bulan yang lalu kami sempat bertemu dan berbincang-bincang mengenai pengalamannya yang menurutku sangat luar biasa, sebab aku sendiri belum pernah mengalami hal itu. Dia bercerita mengenai pengalaman spiritual yang menurutku agak aneh. Sebab jarang aku mendengar cerita seperti itu.

Waktu itu di sebuah rumah berlantai dua kami berbincang-bincang. Sebenarnya pertemuan itu pun baru pertama kali kami lakukan, sebab sebelumnya hampir 2 tahun lebih kami tidak bertemu. Pada pertemua pertama ia bercerita tentang mimpinya yang membuatnya merubah kepribadiannya. Dia berkata pada saat ia bermimpi ia ditampakkan pada sebuah pemandangan yang mengerikan. Yaitu di dalam mimpinya ia ditampakkan betapa ngerinya langit terbelah menjadi dua dengan suara gemuruh yang menutupi cakrawala. Kemudian cahaya berwarna merah keluar dari sela-sela langit yang sedang menganga itu. Di bumi sendiri kepulan debu-debu berterbangan seperti angin puting beliung menutupi kota. Jelas itu bukan pemandangan yang biasa-biasa saja. 

Katanya mimpi itu membuatnya merinding ketakutan dan yang terjadi akhirnya ia mencoba untuk bangkit dan dia sadar bahwa itu adalah peringatan dari Allah SWT. Sehingga setelah mendapatkan mimpi itu ia mencoba merubah sikap 180 derajat dari yang tadinya jarang dan atau bahkan tidak sama sekali melaksanakan sholat tiba-tiba ia menjadi rajin sholat. Melakukan tahajud dan hal-hal ibadah lainnya. 

Tetapi pada saat itu aku tidak terlalu menggubrisnya dikarenakan memang suasananya tidak mendukung. Sehingga selepas dari cerita itu kami tidak bertemu lagi selama enam bulan. Dan baru kemarin aku memang sengaja ingin bertemu dengannnya. 

Jumat malam sabtu tepatnya pukul 20:00 kami bertemu kembali. Dengan senyum lebar ia menyapaku dan mempersilakan aku duduk. Dikarenakan tempat kami duduk sempit akhirnya kami berpindah duduk di atas loteng. Heningnya malam dan semilir udara yang dingin menambah kehangatan pada obrolan-obrolan kami. Aku menanyakan kabar kepadanya dan seperti yang aku lihat memang tidak banyak berubah pada saat terakhir kami bertemu. 

Tetapi ketika kami mulai masuk kepada obrolan yang lebih serius aku sempat kaget. Betapa jauh perubahannya dari pertama bertemu. Ia adalah sosok yang berapi api menyuarakan kebaikan dan sangat bersemangat mengejar ibadah tetapi kini berbanding terbalik. Entah apa penyebabnya yang jelas menurut dia dikarenakan sikap kebosanan mulai melanda hatinya.

Lalu aku kembali mencoba mengingat masa pertama kami bertemu. Awal mulanya kenapa bisa seperti itu yang ia rasakan katanya adalah hati yang kosong dan tidak tau arah dan tujuan. Lalu datanglah mimpi itu dan merubah segalanya. 

Aku juga sempat menyinggungnya bahwa pada saat itu dia pernah berkomentar terhadap anak-anak sepergaulannya yang tengah diserang oleh virus game dan hal itu yang menjadikan mereka lalai. Itulah kata-kata yang keluar dari temanku itu dan hari ini ternyata ia juga terjebak di lubang itu. 

Kadang kita menganggap bahwa kita ini adalah orang yang soleh sehingga sangat mudah menjustifikasi seseorang. Padahal kita sebagai manusia tidak memiliki hak untuk mencap seseorang begini dan begitu apalagi ini urusannya dengan urusan agama.

Aku banyak belajar darinya dan salah satunya adalah jika kita ingin dihormati oleh orang lain maka kita harus menghormatinya dulu. Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk seperti apa yang kita inginkan. Itu adalah sikap yang egois dan tidak berperikemanusiaan. 

Para Rasul Adalah Manusia Biasa

Menurut ajaran Islam, seorang rasul bukanlah titisan Allah, bukan pula penjelamaan Allah dalam wujud rasul (manusia). Islam dengan tegas menyatakan bahwa para rasul adalah manusia biasa. Umat Kristen mengetahui bahwa Isa lahir tanpa bapak, mereka lantas mengembangkan secara bertahap (evolve) gagasan tanpa dasar bahwa Isa adalah putra Allah. Tapi Islam menyatakan bahwa Adam lahir tanpa ayah dan ibu, dan ia disebut sebagai bapak manusia.[1]

Pada setiap zaman muncul pemikiran ganjil yang menolak kemanusiaan para rasul. Tapi bila para rasul itu bukan manusia, lalu apakah gerangan mereka? Mereka pasti bukan Tuhan, karena Tuhan tidak membutuhkan sekutu (teman, pendamping). Mereka juga pasti bukan malaikat, karena manusia lebih unggul dari malaikat. Di depan para malaikat, Allah menganugerahkan hak kekhalifahan kepada manusia, yang dengan jelas membuktikan keunggulan manusia atas para malaikat. Jadi, dari makhluk jenis apakah rasul itu?

 Kenyataannya manusia memang sering melupakan bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang paling unggul, yang oleh Dia sendiri dipilih sebagai wakil (khalifah). Jadi memang sudah menjadi hak istimewa bagi manusia bila para nabi dan rasul muncul dari kalangan manusia. Dengan demikian orang-orang bodoh yang menganggap rasul bukan manusia harus menyebutkan mereka itu termasuk makhluk apa. Para rasul diutus untuk menjadi pemandu. Bila mereka bukan manusia, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi contoh sebagai manusia sempurna? Bila mereka luput dari duka dan penderitaan, bagaimana mungkin mereka bisa menghibur?

 Bila mereka tidak merasakan haus dan lapar, bagaimana mungkin mereka bisa menghilangkan haus dan lapar? Bila mereka tak pernah merasakan sakit, bagaimana mereka bisa menyembuhkan? Bila mereka bukan manusia, kita bisa mengabaikan perintah Tuhan dengan dalih bahwa kita tidak bisa mengikuti jejak sang rasul. Memang itulah tujuan Allah memilih rasul dari kalangan manusia sendiri, yaitu supaya manusia tidak lagi punya dalih untuk membangkang. Al-Quran menguraikan kemanusiaan para rasul dalam berbagai ayat.

 Herankah kalian karena datang peringatan dari Tuhan melalui seorang lelaki seperti kalian, yang mengingatkan agar kalian bertawkwa, agar semoga kalian mendapat rahmat? (surat Al­-A’raf). [2]

(Hai Muhammad), sungguh para rasul yang Kami utus sebelum dirimu adalah manusia (lelaki), warga negeri yang Kami beri wahyu. (Surat Yusuf). [3]

     Para rasul itu menegaskan: Sungguh kami ini hanya manusia seperti kalian, namun Allah memberikan anugerah kepada para abdi yang mematuhi kehendakNya… (surat Ibrahim). [4]

 


Bisnis Ga Cuma Modal Semangat


Sudah lama aku ingin bercerita tentang bisnis di blog ini, tapi entah kenapa rasanya belum menemukan momentum yang pas. Namun semakin lama menunggu, aku sadar bahwa momentum itu bukan untuk ditemukan—melainkan diciptakan. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Iya, kan?

Cerita kali ini adalah pengalaman pribadiku. Dan akan selalu begitu. Blog ini adalah tempat terbaik untukku mencurahkan isi pikiran. Terserah jika tidak ada yang membaca—aku tidak sedang mencari itu. Yang aku cari adalah pelampiasan atas segala isi kepala yang ingin keluar.

Kisah ini bermula pada tahun 2014. Saat itu beredar kabar bahwa perusahaan tempatku bekerja akan melakukan pemutihan terhadap karyawan yang latar belakang pendidikannya tidak sejalan dengan bidang perusahaan. Kabar itu membuat kami—para karyawan dengan kriteria "tidak sesuai"—gelisah. Aku berada di antara dua pilihan: mengundurkan diri, atau menunggu sampai dikeluarkan.

Itu bukan keputusan yang mudah. Masa depan adalah hal yang misterius dan penuh tanda tanya. Pikiranku dipenuhi kekhawatiran: bagaimana mencari uang? Bagaimana menghidupi keluarga? Bagaimana kalau sulit dapat kerja lagi? Atau lebih buruk—bagaimana kalau aku terpaksa bekerja di tempat yang membuatku kehilangan jati diri?

Perasaan-perasaan itu, aku yakin, bukan milikku seorang. Banyak orang mengalaminya. Dan banyak pula yang akhirnya memilih bertahan, meskipun harus menurunkan jabatan, mengorbankan harga diri, dan menerima keadaan demi bertahan hidup. Aku pun pernah ada di titik itu.

Tapi akhirnya aku memilih keluar. Alasannya sederhana: aku tidak ingin dikeluarkan. Jika itu terjadi, aku merasa seperti barang usang yang dibuang karena tak lagi berguna. Mengundurkan diri adalah caraku menjaga martabat. Aku ingin keluar dengan kepala tegak, bukan terhempas.

Sejujurnya, sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sana, aku sudah merasa tempat itu bukan untukku. Aku mencoba bertahan, menyesuaikan diri, tapi tetap saja terasa asing. Terlalu banyak kepalsuan, permainan akal, dan kepentingan materialistik yang membuatku jengah.

Titik balik hidupku datang saat bertemu seorang teman di jam istirahat kantor. Sekitar 6–7 bulan sebelum isu pemutihan itu muncul, aku melihat dia membaca buku setelah salat zuhur. Karena aku juga suka membaca, aku iseng mendekat dan menanyakan judul bukunya.

Buku itu berwarna merah, berjudul "13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan" karya Ippho Santosa. Judulnya mencuri perhatianku. Sejak saat itu, aku mulai membaca buku-buku Ippho lainnya—tentang bisnis, pengembangan diri, dan semangat kewirausahaan. Hasratku untuk berbisnis tumbuh dan menguat.

Dorongan itu yang akhirnya mendorongku resign dari pekerjaan. Berbekal semangat dan sedikit tabungan, aku memulai langkah pertama: membeli roda jualan ala kaki lima. Semangatku sedang menyala-nyala. Pesangon Rp850.000 langsung aku habiskan untuk modal.

Setiap saran dari buku aku coba terapkan: bangun pagi, berangkat jualan, salat duha, bahkan tahajud. Aku berjualan dari jam 06:00 pagi sampai tengah malam. Setiap hari. Tapi kenyataannya… tidak ada yang membeli. Barang jualanku bahkan habis dimakan sendiri karena tak laku. Dan hanya dalam 15 hari, usaha itu tumbang total.

Saat itulah aku sadar, semangat saja tidak cukup. Berbisnis butuh ilmu. Ibadah dan sholat bukan jaminan kesuksesan duniawi—ia adalah jalan mendekatkan diri pada Allah, bukan alat transaksi untuk kekayaan.

Roda jual yang aku banggakan itu akhirnya kutinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Siapa pun yang ingin memakainya, silakan. Aku sudah merelakannya.

Begitulah, itulah akhir dari kisah pertamaku memulai bisnis. Tapi juga awal dari petualangan yang lebih besar. Jalan masih panjang, dan aku siap menjalaninya.

Terima kasih sudah membaca sampai sini. Semoga kamu bahagia.

Blog Universe


Hari gini masih ngeblog?
Entahlah... kadang aku juga bertanya-tanya dalam hati, masih ada gitu ya orang mau baca blog orang lain. Terlalu angkuh memang aku menjadikan tulisan ini dengan judul "Blog Universe". Ya namanya juga ide kadang terlintas saja di benak jadi sayang kalau tidak direkam ke dalam tulisan. Mumpung lagi di depan komputer soalnya. Sebenarnya aku lupa mau ngapain. Pulang dari kegiatan malam langsung menuju ke dekstop layar komputer. Tiba-tiba saja keinget tentang blog dan ya terjadilah tulisan ini. Sambil menulis tulisan inipun otakku masih meracik tentang apa itu Blog Universe. Sederhana saja, mungkin informasi ini terlintas setelah siang tadi aku menonton film Deadpool & Wolverine. Di mana Deadpool jalan-jalan melintasi waktu. Atau jika aku sambungkan juga dengan Kapten Marvel yang sendirian terbang antar galaxy melintasi waktu dll sebagainya. Bisa kau bayangkan bagaimana kesepiannya dia menjelajahi antariksa?

Ya tentu itu fiksi dan aku tidak berharap kau untuk mempercayainya. Tapi setidaknya aku bisa langsung mersakan bagaimana kesepiannya Kapten Marvel melintasi galaxy. Itu yang aku maksudkan bahwa sekiranya blog adalah semesta yang lain maka saat ini aku sedang melintasi semesta seorang diri dan kau tau bagaimana sepinya itu. Entah di semesta yang mana para blogger masih memiliki kehidupan. Aku sendiri seolah seperti berjalan di tengah kegelapan menelusuri jalan yang tidak bertepi dan berujung. Dan pada keheningan itu bahkan aku bisa mendengar detak jantung keluar melalui pori-pori dadaku. 

Ya dunia blog sekarang semakin tertinggal, mungkin sekarang orang-orang beralih kepada platform yang lain untuk menulis atau mungkin mereka yang dulu suka ngeblog sudah pada sibuk dengan dunianya sehingga sulit untuk menyempatkan waktu ngeblogg,saya sendiri contohnya, he he he ... lagi-lagi itu subjektifitasku sendiri ya. Mungkin ada beberapa kelompok, individu yang juga masih ngeblog tapi ya mereka seperti Kapten Marvel yang kesepian di tengah bima sakti. Mungkin suatu saat nanti akan ramai kembali. 

Inilah bloggku yang bisa kalian baca sendiri dan kau akan mendapati bahwa blog ini berisi pemikiran-pemikiran absurd dari penulisnya. Tapi setidaknya aktifitasku ini ada nilai plusnya, yaitu aku tetap bisa menjaga kewarasanku. Sebab tak sedikit akhir-akhir ini banyak orang stres gegara terlalu over thinking. Wah itu kacau sekali itu jika sudah seperti itu. 

Sudah lama memang semenjak beberapa bulan lalu aku menulis baru kali ini aku memulainya kembali. Mudah-mudahan kedepannya aku menjadi lebih konsisten lagi sebab ada beberapa projek bukuku mandeg gegara jarang menulis lagi. Ini adalah langkah awal dan semoga Allah meridhoi jalan ini. 

Banyak hal sebenarnya ingin aku tulis pada tulisan ini tapi nampaknya ideku baru sebatas itu. Mungkin di lain waktu aku akan menulisnya dengan judul yang berbeda tentunya. Terima kasih sudah mau membaca tulisanku sampai sini. Semoga kamu bahagia.

MANUSIA DAN HUKUM (MANA YANG AKAN DIPAKAI)


By: Zein Abdullah

Paijo: Man, ketika manusia sudah terwujud, menurutmu manusia itu objek atau subjek?
Durman: Objek, Jo.
Paijo: Kalau mobil yang dibuat oleh orang Jepang, itu objek atau subjek?
Durman: Ya objek juga, Jo.
Paijo: Nah, mulai sekarang jangan jadikan objek sebagai sumber acuan hukum. Karena sesuatu yang ilmiah itu bersandar pada fakta yang tidak bisa dibantah oleh objek.
Durman: Maksudmu gimana, Jo? Masih belum mudeng.
Paijo: Nanti di akhirat, manusia yang sudah jadi tulang belulang, yang sudah hancur lebur, akan dibangkitkan lagi. Bagaimana penjelasannya secara ilmiah?
Durman: Wah, itu aku nggak tahu, Jo. Mungkin sekarang nggak bisa dijawab.
Paijo: Nah, makanya. Jangan jadikan objek sebagai sumber acuan hukum. Misalnya ada mobil buatan Jepang hancur berkeping-keping. Kamu pasti bilang mobil itu nggak bisa utuh lagi, kan?
Durman: Ya iya, lah. Kan sudah hancur. Mana mungkin bisa balik lagi.
Paijo: Logikamu benar kalau mobil itu tidak bisa kembali dengan sendirinya — karena dia objek. Tapi kamu keliru kalau bilang pembuatnya juga tidak bisa membangun kembali mobil itu. Nah, itu gendeng namanya. Masa objek dijadikan ukuran untuk menilai kemampuan subjek?
Durman: Oh, maksudmu manusia itu objek, dan Allah itu subjek?
Paijo: Tepat! Di awal, manusia adalah objek ciptaan, dan di akhir pun tetap objek. Jadi kalau kamu berkata manusia mati tidak bisa hidup lagi, kamu benar — jika melihat dari sisi manusia itu sendiri. Tapi kalau kamu sampai bilang yang menciptakan manusia tidak bisa menghidupkan kembali, itu berarti kamu telah menafikan kekuasaan Sang Pencipta.
Durman: Jadi sumber hukum itu juga nggak bisa dari manusia, Jo?
Paijo: Betul. Kalau hukum dibuat berdasarkan manusia (objek), maka hukum itu akan berpihak pada hawa nafsu dan kepentingan manusia itu sendiri. Akibatnya, keadilan jadi semu. Tapi kalau hukum bersumber dari subjek hukum — yaitu Allah, Sang Pencipta — maka hukum itu akan adil, seimbang, dan membawa kebenaran sejati.

Karena itu, jika manusia ingin hidup dalam aturan yang benar, mereka harus tunduk pada hukum dari Sang Pencipta manusia itu sendiri.

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...