Bisnis Ga Cuma Modal Semangat


Sudah lama aku ingin bercerita tentang bisnis di blog ini, tapi entah kenapa rasanya belum menemukan momentum yang pas. Namun semakin lama menunggu, aku sadar bahwa momentum itu bukan untuk ditemukan—melainkan diciptakan. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Iya, kan?

Cerita kali ini adalah pengalaman pribadiku. Dan akan selalu begitu. Blog ini adalah tempat terbaik untukku mencurahkan isi pikiran. Terserah jika tidak ada yang membaca—aku tidak sedang mencari itu. Yang aku cari adalah pelampiasan atas segala isi kepala yang ingin keluar.

Kisah ini bermula pada tahun 2014. Saat itu beredar kabar bahwa perusahaan tempatku bekerja akan melakukan pemutihan terhadap karyawan yang latar belakang pendidikannya tidak sejalan dengan bidang perusahaan. Kabar itu membuat kami—para karyawan dengan kriteria "tidak sesuai"—gelisah. Aku berada di antara dua pilihan: mengundurkan diri, atau menunggu sampai dikeluarkan.

Itu bukan keputusan yang mudah. Masa depan adalah hal yang misterius dan penuh tanda tanya. Pikiranku dipenuhi kekhawatiran: bagaimana mencari uang? Bagaimana menghidupi keluarga? Bagaimana kalau sulit dapat kerja lagi? Atau lebih buruk—bagaimana kalau aku terpaksa bekerja di tempat yang membuatku kehilangan jati diri?

Perasaan-perasaan itu, aku yakin, bukan milikku seorang. Banyak orang mengalaminya. Dan banyak pula yang akhirnya memilih bertahan, meskipun harus menurunkan jabatan, mengorbankan harga diri, dan menerima keadaan demi bertahan hidup. Aku pun pernah ada di titik itu.

Tapi akhirnya aku memilih keluar. Alasannya sederhana: aku tidak ingin dikeluarkan. Jika itu terjadi, aku merasa seperti barang usang yang dibuang karena tak lagi berguna. Mengundurkan diri adalah caraku menjaga martabat. Aku ingin keluar dengan kepala tegak, bukan terhempas.

Sejujurnya, sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sana, aku sudah merasa tempat itu bukan untukku. Aku mencoba bertahan, menyesuaikan diri, tapi tetap saja terasa asing. Terlalu banyak kepalsuan, permainan akal, dan kepentingan materialistik yang membuatku jengah.

Titik balik hidupku datang saat bertemu seorang teman di jam istirahat kantor. Sekitar 6–7 bulan sebelum isu pemutihan itu muncul, aku melihat dia membaca buku setelah salat zuhur. Karena aku juga suka membaca, aku iseng mendekat dan menanyakan judul bukunya.

Buku itu berwarna merah, berjudul "13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan" karya Ippho Santosa. Judulnya mencuri perhatianku. Sejak saat itu, aku mulai membaca buku-buku Ippho lainnya—tentang bisnis, pengembangan diri, dan semangat kewirausahaan. Hasratku untuk berbisnis tumbuh dan menguat.

Dorongan itu yang akhirnya mendorongku resign dari pekerjaan. Berbekal semangat dan sedikit tabungan, aku memulai langkah pertama: membeli roda jualan ala kaki lima. Semangatku sedang menyala-nyala. Pesangon Rp850.000 langsung aku habiskan untuk modal.

Setiap saran dari buku aku coba terapkan: bangun pagi, berangkat jualan, salat duha, bahkan tahajud. Aku berjualan dari jam 06:00 pagi sampai tengah malam. Setiap hari. Tapi kenyataannya… tidak ada yang membeli. Barang jualanku bahkan habis dimakan sendiri karena tak laku. Dan hanya dalam 15 hari, usaha itu tumbang total.

Saat itulah aku sadar, semangat saja tidak cukup. Berbisnis butuh ilmu. Ibadah dan sholat bukan jaminan kesuksesan duniawi—ia adalah jalan mendekatkan diri pada Allah, bukan alat transaksi untuk kekayaan.

Roda jual yang aku banggakan itu akhirnya kutinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Siapa pun yang ingin memakainya, silakan. Aku sudah merelakannya.

Begitulah, itulah akhir dari kisah pertamaku memulai bisnis. Tapi juga awal dari petualangan yang lebih besar. Jalan masih panjang, dan aku siap menjalaninya.

Terima kasih sudah membaca sampai sini. Semoga kamu bahagia.

Tidak ada komentar:

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Nikah Siri : Ketika Negara dan Umat Gagal Memahami Islam sebagai Sistem Kehidupan

Menggugat Normalisasi Nikah Siri Nikah siri kerap dibungkus sebagai bentuk kesalehan, seolah ia bagian dari ajaran Islam yang sah dan terh...