By: Zein Abdullah
Durman: Objek, Jo.
Paijo: Kalau mobil yang dibuat oleh orang Jepang, itu objek atau subjek?
Durman: Ya objek juga, Jo.
Paijo: Nah, mulai sekarang jangan jadikan objek sebagai sumber acuan hukum. Karena sesuatu yang ilmiah itu bersandar pada fakta yang tidak bisa dibantah oleh objek.
Durman: Maksudmu gimana, Jo? Masih belum mudeng.
Paijo: Nanti di akhirat, manusia yang sudah jadi tulang belulang, yang sudah hancur lebur, akan dibangkitkan lagi. Bagaimana penjelasannya secara ilmiah?
Durman: Wah, itu aku nggak tahu, Jo. Mungkin sekarang nggak bisa dijawab.
Paijo: Nah, makanya. Jangan jadikan objek sebagai sumber acuan hukum. Misalnya ada mobil buatan Jepang hancur berkeping-keping. Kamu pasti bilang mobil itu nggak bisa utuh lagi, kan?
Durman: Ya iya, lah. Kan sudah hancur. Mana mungkin bisa balik lagi.
Paijo: Logikamu benar kalau mobil itu tidak bisa kembali dengan sendirinya — karena dia objek. Tapi kamu keliru kalau bilang pembuatnya juga tidak bisa membangun kembali mobil itu. Nah, itu gendeng namanya. Masa objek dijadikan ukuran untuk menilai kemampuan subjek?
Durman: Oh, maksudmu manusia itu objek, dan Allah itu subjek?
Paijo: Tepat! Di awal, manusia adalah objek ciptaan, dan di akhir pun tetap objek. Jadi kalau kamu berkata manusia mati tidak bisa hidup lagi, kamu benar — jika melihat dari sisi manusia itu sendiri. Tapi kalau kamu sampai bilang yang menciptakan manusia tidak bisa menghidupkan kembali, itu berarti kamu telah menafikan kekuasaan Sang Pencipta.
Durman: Jadi sumber hukum itu juga nggak bisa dari manusia, Jo?
Paijo: Betul. Kalau hukum dibuat berdasarkan manusia (objek), maka hukum itu akan berpihak pada hawa nafsu dan kepentingan manusia itu sendiri. Akibatnya, keadilan jadi semu. Tapi kalau hukum bersumber dari subjek hukum — yaitu Allah, Sang Pencipta — maka hukum itu akan adil, seimbang, dan membawa kebenaran sejati.
Karena itu, jika manusia ingin hidup dalam aturan yang benar, mereka harus tunduk pada hukum dari Sang Pencipta manusia itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar