Ngobrolin Film Detektif ; HANGMAN



Baiklah! Ini adalah pertama kalinya saya mau membahas sesuatu yang sudah saya sukai sejak lama. Membicarakan tentang detektif, tidak akan lepas dari sosok yang terus dan selalu membayangi kepala saya yaitu, Sherlock Holmes. Saya termasuk orang yang setia pada apa-pun jika saya suka. Dari pertama kali mendengar musik barat sampai sekarang, saya masih tidak bisa lepas dari musik Green Day. Entah apa yang terjadi dalam diri saya ini sehingga sebegitu naifnya untuk bisa suka dengan satu hal yang bahkan setiap bulan dan tahun akan selalu ada hal-hal yang kreatif terus bermunculan. Banyak penulis-penulis hebat di dunia ini, dan banyak musisi hebat di dunia ini sehingga kita lupa siapa saja mereka karena saking banyaknya. Saya lebih memilih menjadi diri sendiri yang seperti ini. Saya ingin menjadi manusia yang merdeka dalam pilihan hidup. Jadi tidak peduli orang berkata apa kepada saya. Yang penting Yang Maha Esa tahu apa yang aku lakukan dan akupun berusaha untuk tahu apa yang aku perbuat untuk-NYA.

Bagi sebagian orang katanya, orang-orang yang selalu suka dengan satu bacaan, misalnya satu buah novel karya novelis terkenal, dalam bidang kepenulisan dia akan mengikuti satu karakter tersebut. Mereka selalu dianggap tidak mempunyai warna dan tidak mempunyai karakter. Bagi saya itu tidak masalah, proses kreatif adalah sesuatu yang sangat rumit bagi manusia. Ia tidak bisa ditulis menjadi sebuah rumus fisika atau kimia atau perbandingan matematika. Sehingga bagi saya, mau satu atau banyak bacaan seseorang, proses kreatif akan selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang ia miliki semasa hidupnya. Pada akhirnya, manusia menyadari bahwa sebenarnya kita tidak ingin menjadi "Rango". *Karakter dalam sebuah film  kartun.

Maaf, terlalu panjang pembukaannya.

Jadi, kembali ke topik judul. Ngobrolin soal Film Detektif  "Hangman". Film yang yang rilis di bioskop 22 Desember 2017 ini, sangat bagus sebagai film yang bertema detektif, menurut saya. Mungkin kalian atau siapapun yang juga suka dengan hal-hal berbau detektif (*maaf, maksudnya bukan bau seperti bau-bau yang bau itu ya.) :) –perlu kalian tonton.


Untuk yang suka menulis cerita detektif, saya pikir ini sangat disarankan untuk kalian. Kenapa saya bisa berbicara seperti itu? Karena saya-pun sedang belajar menulis kisah-kisah detektif. 

Berikut beberapa alasan kenapa film ini saya rekomendasikan untuk kalian.

1. Film ini menceritakan tentang detektif kepolisian yang sedang menangani kasus pembunuhan. Kemudian secara tidak langsung, ternyata pembunuhan ini mengarah ke pembunuhan yang lainnya. Kepolisian dibuat kebingungan oleh ulah si pelaku ini.

2. Untuk menambah wawasan ilmu forensik saat menulis cerita detektif, saya anggap informasi mengenai hal itu cukup melimpah ruah di film ini. Setidaknya satu sampai sepuluh saya hampir mendapat setengahnya.

3. Karakter-karakter dan ketegangan yang disuguhkan cukup mempunyai karakter kuat.

4. Memahami sandi dari motivasi Si Pelaku pembunuhan. Ini cukup membantu menambah wawasan kita membuat simbol-simbol petunjuk atau teka-teki yang akan dimasukkan ke dalam naskah kalian.

5. Serial Killer atau pembunuhan berantai sangat menarik menurut saya. Karena di sini, si penulis dituntut untuk kreatif dan sampai sejauh mana kemampuan logikanya membangun sebuah cerita dengan kompleksitas yang cukup cerdas namun sadis.

6. Konten dewasa tidak terlalu banyak bahkan mendekati tidak ada. Jadi ya aman-aman aja. 

SINOPSIS FILM HANGMAN // SINGPAJE (Singkat, Padat, …..) Tau lah pasti jawabannya. Wkwkwkw

Cerita dari awal yaitu seorang kakek tua berada di dalam mobil jadul berwarna emas. Ia sedang mengisi TTS yang cukup rumit di pinggiran kota. Kemudian dari belakang ada mobil karavan abu-abu menyenggol kaca spionnya. Akhirnya adegan kejar-kejaran dimulai. Disinilah kita tahu kalau dia seorang polisi, sampai akhirnya mobil karavan itu berhenti di sebuah lorong karena mobil polisi keroyokan. Dan di sini petunjuk pertama di mulai. Silakan kalian cari sendiri.

Seorang wartawati / penulis mengunjungi kantor polisi. Ia menemui seorang Detektif Kepolisian. Perempuan cantik, cerdas, dan pintar ini mewawancarai seorang Detektif. Ia memutuskan untuk mengikuti kemana-pun detektif itu pergi saat melakukan penyelidikan. Sampai pada penemuan mayat gantung dengan simbol aneh di dekat sebuah bangunan. Mayat ini digantungkan di atas pohon. Sang Detektif masuk ke bangunan tersebut dengan hati-hati, and the game is ready On.

Di sini banyak sekali petunjuk yang bisa kalian catat untuk mengikuti perkembangan kasus. Percaya! Ini menyenangkan. Karena dari pembunuhan itu, ternyata terus mengarah ke pembunuhan selanjutnya. Bagaimana polanya bisa tercium kalau itu sebuah pembunuhan berantai. Kalian akan menemukannya jika kalian tetap fokus pada cerita serta petunjuk-petunjuk itu.

Masa lalu, dendam, kealpaan, kebencian, kecerdasan, kecerdikan bercampur jadi satu.

Seperti para blogger lainnya, jika menuliskan sinopsis atau apapun itu yang berhubungan dengan film, pasti akan mengambil beberapa quotes dari film itu. Nah, satu atau dua kalimat yang masih saya ingat di film ini adalah ketika Salah satu detektif mengunjungi ruang otopsi, dimana seorang penjaga gereja ditemukan telah meninggal dengan mengenakan jam tangan Rolex, “Aku tidak tahu apa-apa tentang jam tangan Rolex. Yang aku tahu, seorang penjaga gereja tidak akan mampu membeli jam tangan tersebut,”  atau saat menginterogasi Pastor, “Ya! Semua yang kau katakana itu adalah benar, tapi aku tidak percaya itu,”

Terima Kasih.

-Fariz Edgar-

Umat ISLAM Di Indonesia sangat tidak dianjurkan mengikuti tradisi Natalan yang ada di Dalam ataupun Luar Negeri

Assalamualaikumussalam w.w

Kali ini saya akan berbagi pendapat mengenai sebuah diskusi di salah satu stasiun televisi swasta yang sudah hampir satu tahun lalu tayang. 

https://www.youtube.com/watch?v=P4BqHPy6pIU&t=130s 
Untuk lebih bisa memahami serta subjektif dalam menangkap informasi yang akan disampaikan ini, saya sangat berharap kerendahan hati saudara serta pikiran jernih anda untuk bersama-sama mengetahui duduk permasalahannya. 

Diskusi yang dibahas atau yang diangkat oleh Sang Moderator adalah mengenai Fatwa MUI memakai atribut natal bagi umat muslim di perusahaan-perusahaan. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa narasumber diantaranya yaitu, Ust Zaitun Rasmin selaku wasekjen MUI, kemudian ada anggota dewan pakar ICMI, yaitu M. Nasir, terus dari kalangan Rohaniawan yaitu Romo Beni, serta yang terakhir adalah Prof Hamka Haq selaku anggota komisi VIII DPR RI.

Acara dimulai dengan Sang Narator yang mengatakan baha atribut natal ini adalah sesuatu yang sifatnya komersil dan bukanlah ibadah. Untuk lebih mengedepankan pendapat pribadi saya, maka di bawah ini secara langsung adalah pendapat pribadi.

Saya muslim dan saya sangat setuju dengan fatwa MUI, Kemudian mengenai Prof Hamka Haq yang berpendapat, kurang lebih identik dengan apa yang disampaikan oleh Romo Beni, saya-pun menghargai bahwa umat kristiani mempercayai bahwa pemakaian atribut natal, sesuai yang dibahas dalam diskusi di atas tidak akan mempengaruhi keimanan, dalam hal ini keyakinan umat kristen. Namun ada beberapa pendapat beliau yang nampaknya, mungkin beliau sadari atau tidak, bahwa atribut-atribut natal seperti yang ditampilkan pada mal-mal besar, atau swalayan-swalayan itu bukanlah merupakan bagian dari kegiatan natal itu sendiri, dan beliau lebih menekankan bahwa itu adalah pandangan pemilik perusahaan melihat potensi pasar yang sedang terjadi. Itu sah-sah saja dan itu artinya menurut hemat saya, pandangan agama yang beliau yakini yaitu urusan Keyakinan / Agama (dalam hal ini Kristen) tidak bisa disandingkan dengan urusan duniawi. Umat muslim pasti menghargai pendapat beliau.

Dalam pandangan Islam, sesuai yang diungkapkan oleh Wasekjen MUI yaitu Ust Zaitun Rasmi, bahwa islam itu mempunyai ajaran yang lengkap. Seluruh aspek kehidupan diatur di dalam islam, baik urusan duniawi dan akhirat (Keyakinan). Melihat fenomena yang terjadi di Indonesia ini bahwa masih banyak dan masih tumbuh berkembang umat muslim mengikuti tradisi-tradisi keyakinan non islam, maka keputusan fatwa haram pakai atribut non muslim ini sangat perlu, ya meskipun sekarang sudah ditetapkan fatwa baru No. 56 Tahun 2016 itu. Yang perlu digaris bawahi adalah keputusan ini diperuntukkan dan memang dikhususkan untuk umat muslim saja bukan untuk non muslim. 

Terkait di mal-mal besar yang memang sebagian besar dimiliki oleh umat non muslim, penggunaan atribut pada perayaan natal, seperti yang dikatakan Romo Beni bahwa umat kristiani tidak memaksakan penggunaan atribut itu, saya sangat menghargai hal ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih saja ada sebagian perusahaan yang secara tidak langsung mewajibkan karyawannya memakai atribut natal, seyogyanya ini perlu diberikan atensi jika memang kita sama-sama saling menghargai kebebasan beragama. Karena bila ada pemaksaan-pemaksaan seperti itu, secara tidak langsung pula tindakan itu telah melanggar hukum konstitusi pada Pasal 28E ayat (1) yang menyatakan, ”Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya….” dan Pasal 28E ayat (2) berbunyi, ”Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran, dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Selain itu, kebebasan beragama juga diatur dalam Pasal 29 ayat (2) bahwa, ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Dan itu berlaku pula pada umat muslim, jika kita memaksakan non muslim untuk mengikuti tradisi umat islam, itu telah melanggar konstitusi. 

Jika semua warga negara mengakui ini, maka akan terjadi kerukunan umat beragama. Dan jika masih ada yang belum mengerti maksud dan tujuan fatwa haram ini, atau tidak setuju, itu berarti Anda sedang menentang pemerintah dan anda sudah tahu bagaimana akhirnya.

Sudah Terjadi! Pemikiran Liberal

Suatu ketika berbicaralah seorang kepada pementor, namanya Lira, perempuan cantik berwajah tirus, dengan tahi lalat di dagu sebelah kiri, ia mengenakan pakaian jilbab tertutup rapi berwarna pink yang bila dipandang mata akan menawan setiap kaum adam. Perempuan itu bertanya, 

"Bu, sebenarnya konsep dosa itu seperti apa ya, Bu?"

Si Pementor diam sejenak, mengolah kata di dalam otaknya, "Bagaimana pendapatmu pribadi, Lira?" ucapnya akhirnya.

"Entah lah, Bu, yang jelas aku tuh selalu kepikiran bagaimana di akhirat, orang-orang yang telah berjasa terhadap kita nasibnya."

"Maksudnya?" Tanya si pementor penasaran.

"Ya, contohnya seperti thomas alfa edison, yang menciptakan lampu atau alexander graham bell yang menciptakan telphone. Mereka-mereka kan telah berjasa terhadap kita. Coba kita kalau gak punya lampu atau telephone di jaman sekarang, pasti kita masih terbelakang pemikirannya, Bu. Nah maka dari itu, saya itu kepikiran, gimana ya kalau semisal kita buatkan tahlilan buat mereka-mereka ini yang sudah berjasa kepada kita." terang perempuan yang katanya seorang mahasiswi jurusan kedokteran di salah satu kampus ternama.

Si Pementor tersenyum, senyumnya mengisyaratkan kepuasan batin, bahwa tugasnya ternyata sudah mendapatkan hasil. Pemikiran-pemikiran anak asuhannya sudah semakin berkembang jauh dan itu bagus. 

Cerita di atas merupakan kisah nyata. Awalnya saya-pun sempat tidak yakin akan pemikiran-pemikiran seperti ini, namun setelah terjun langsung dan bergaul bersama mereka, sadarlah saya akan orang-orang liberal ini. 

Saudara-saudara sekalian!! 

Sadarlah akan bahaya LATEN LIBERAL, yang sebenarnya sudah lama gencar di negeri ini. Mereka hendak menghancurkan islam secara tidak disadari, mereka adalah peluru dari sarang pistol si penembak, yaitu IBLIS LAKNATULLAH. 

Mereka beranggapan bahwa kebebasan berpikir adalah suatu pembaruan pemikiran yang dirasa moderat. Target utama mereka adalah Mahasiswa-mahasiswi muda yang masih fresh pemikirannya serta polos. 

Mereka-mereka yang ingin meraih sukses dengan jalan menempuh pendidikan tinggi di universitas-universitas adalah mangsanya, terlebih untuk orang-orang yang berasal dari daerah.

Pahamilah sepak terjang orang-orang Liberal dan sadar dirilah terhadap pemikiran sendiri serta lapangkan hatimu untuk menerima kekalahan, berdamailah dengan kekalahan. Bahwa hidup di dunia ini, bukan sarana untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. Kitalah yang seharusnya mengakui bahwa satu-satunya zat yang benar adalah Allah azza wa jalla, Dialah sumber kebenaran dan kita harus mematuhi apa yang diturunkannya yaitu AL-Qur'an yang disampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as. 

Semoga kita selalu senantiasa dijauhkan dari sifat kemunafikan dan kemusyrikan. Aamiin, 

Bandung, Jum'at 1 Desember 2017.

-Oleh saya sendiri-


x

RINA NOSE, ‘HIDUNG PESEK’ DALAM SOROTAN.

(Menyoroti Artis ‘Pesek’, Da’i Kondang, dan Pendekar Sekolam)

Oleh : Maaher At-Thuwailibi

Adalah Ustad Abdus Shomad. Sang da’i sejuta umat asal riau itu lagi-lagi menimbulkan gemuruh di alam maya saat memberikan ceramah dalam Tabligh Akbar di kota kami (binjai sumatera utara) beberapa waktu lalu. Bermula dari pertanyaan seorang audience yang menanyakan tentang artis wanita yang dikenal dengan nama Rina Nose (yang berarti ‘Rina Hidung’) saat ia bangga melepas jilbabnya disertai opini rancu yang menggiring pada perusakan moral generasi bangsa. Tidak hanya memberikan statement yang merusak batas norma agama terkait SYARI’AT HIJAB, ia juga sempat mengeluarkan statemen yang mengandung unsur atheisme dalam salah satu akun sosmednya. Sebagaimana yang dikutip oleh situs makassar tribune, Rina Nose mengatakan:

“Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari tuhan dan ingin memiliki agama”.

Statemen Rina Nose diatas sontak memicu kecaman keras dari banyak fihak khususnya ummat islam; baik para kyai, ustad, ulama, aktivis, juru dakwah, tak terkecuali Ustad melayu alumni Univeristas Al-Azhar mesir itu. Alasannya, statemen Rina Nose tersebut mengandung tendensi paham atheisme secara terselubung. demikian pula pernyataannya terkait Syari’at Jilbab yang merupakan SYARIAT MUTLAK dalam agama islam dan merupakan perintah Tuhan Yang Maha Esa atas setiap muslimah untuk mengenakannya. Ajakan untuk tidak bertuhan dan tidak beragama adalah paham atheis yang disepakati KEKAFIRANNYA berdasarkan konsensus para Ulama. Wajar mengundang kecaman dari para tokoh agama. mengingat besar kemungkinan akan berpotensi menjadi gerakan melepas jilbab. dan ini kemungkaran yang harus di ingkari. Kata Rasulullah, “Orang yang diam dan tak marah melihat kemungkaran yang dipertontonkan, maka dia setan bisu!”.

Intelektual muslim asal bandung, Dr. Taufik Rusdiana, P.hd dalam Forum Ukhuwah Ahlussunnah menegaskan, “fenomena lepas jilbab seorang public figure (artis) ini tentulah bukan perkara sepele dan remeh temeh sehingga bisa kita abaikan begitu saja terutama bila kita kaitkan dengan perkembangan dakwah Islam di negeri ini.

Secara rasio semata tentunya tindakan Rina Nose tersebut akan berdampak luas dan berpengaruh negatif terhadap laju dakwah Islam khususnya dalam bab menutup aurat bagi wanita sesuai aturan Allah”.

-selesai-

Dalam teologi islam, seorang muslim yang menganggap tidak perlu bertuhan atau beragama (atau dalam kata lain memilih untuk atheis) adalah tindakan yang mengeluarkan dirinya dari agama alias MURTAD. Apalagi ajakan untuk tidak bertuhan, jelas pemurtadan yang di promosi. Disadari atau tidak, pernyataan-pernyataannya itu akan mempengaruhi pola fikir generasi muda kita dewasa ini mengingat ia adalah seorang public figure yang notabennya akan menjadi ‘model’ yang membawa pengaruh bagi para penggemarnya (apalagi kalangan awam).

Ketika berita penyebutan kata “pesek” itu sementara viral, kami (Maaher At-Thuwailibi) sedang bertamu ke rumah Al-Ustad Abu Muhammad Dwiono Koesen Al-Jambi, SE.MM, pakar Ekonomi Syari’ah sekaligus pejabat Bank BNI Syariah pusat. Saat itu juga kami langsung menghubungi guru kami Al-Ustad Abdus Shomad,Lc.MA Via WhatsApp. Kami menyampaikan ketidaksetujuan kami atas pernyataan beliau yang menyebut kekurangan fisik seseorang. Alasan kami adalah, karena apapun dan bagaimanapun keadaan fisik seseorang tetaplah ia merupakan produk Allah Ta’ala; hasil ciptaan Allah ta’ala yang tidak pantas untuk di cela. Bagaimanapun bentuk fisiknya, dia tetaplah makhluq Allah yang tercipta dari tanah yang mulia, bukan tanah sengketa. Kami menegur Al-Ustad Abdus Shomad dalam rangka menunaikan kewajiban amar ma’ruf dan saling menasehati dalam kebenaran (meskipun beliau lebih tinggi dari kami baik ilmu maupun usia). Dalam chating via WhatsApp tersebut kami sampaikan pada beliau agar hendaknya mengkritik kesalahan seseorang atau penyimpangan seseorang tanpa harus menyinggung kekurangan fisiknya. Karena Nabi bersabda:

سباب المسلم فسوق..

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan...”

Dengan penuh tawadhu’ dan kerendahan hati, Ustad Abdus Shomad menerima masukan dan nasehat dari kami walaupun tidak bergeser prinsipnya untuk tetap mengecam keras para penyeru kesesatan di tengah masyarakat. Dalam ceramah berikutnya, Ustad Abdus Shomad mejelaskan kepada ummat akan pentingnya hijrah secara totalitas bukan setengah-setengah. inilah agaknya hal substansial yang perlu kita kedepankan dan menjadi bahan renungan, tanpa harus mempersoalkan bentuk hidung yang disematkan pada sang artis.

Yang tak kalah menarik, begitu berita “hidung pesek” ini mencuat lewat ceramah sang Ustad kondang, ada fenomena unik yang cukup menghibur, dimana para pendekar liberal semisal Ustad Abu Jahal Al-Gendengi dan sekolam aktivis Talafi pun keluar kandang berjama’ah. hanya karena seorang wanita berhidung pesek, mereka saling bergandeng tangan menyudutkan sang Ustad. Unik bukan? 😊

Pertanyaanya, kemana saja mereka ketika AYAT SUCI dihina sang penista? Kemana saja ketika jenggot yang merupakan Sunnah Nabi di hina sang professor gila? Kemana mereka saat fir’aun betina menyebut ummat islam sebagai peramal masa depan?

Kemana mereka saat pekik TAKBIR (kalimat ‘Allahu Akbar’) dianggap ciri teroris? Kemana agen-agen jama’ah sekolam itu ketika dedengkot mereka membolehkan salep 88 membunuh seorang muslim yang masih terduga “teroris” dan menganggapnya mujtahid? Kemana jama’ah sekolam itu saat salah seorang ustad idolanya menghalalkan darah para demonstran ??. Menyebut bentuk hidung Rina Nose tidak sebanding dengan penghalalan darah ustad kondang berjubah “sunnah” itu. menyebut bentuk hidung Rina Nose tak sebanding madhorotnya dengan mufti cileungsi yang berfatwa bahwa Salep 88 adalah “mujtahid”.

Menurut sebagian netizen, kata-kata Ustad Abdus Shomad ketika menyebut “yang pesek itu”, tidaklah masuk kategori menghina. Dikarenakan beliau sedang memastikan Rina Nose itu yang mana. Bisa jadi satu-satunya ciri pengenal yang beliau ingat adalah PESEKNYA. Maka penyebutan kekurangan fisik dalam rangka pengenalan adalah BOLEH SECARA SYAR’I.

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i Rahimahullah dalam kitabnya Riyadhus Shalihin membuat bab khusus berjudul:

باب ما يباح من الغيبة

“bab kedaan-keadaan dimana bolehnya menyebut kejelekan orang lain”

Dalam bab ini Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i Rahimahullah menyebutkan 7 keadaan di mana boleh menyebutkan KEJELEKAN seseorang yang memang dengan tujuan yang dibenarkan. Keadaan yang ke-7 adalah:

فإذا كان الإنسان معروفاً بلقب كالأعمش والأعرج والأصم والأعمى والأحول وغيرهم جاز تعريفهم بذلك، ويحرم إطلاقه على جهة التنقص، ولو أمكن تعريفه بغير ذلك كان أولى

“Untuk mengenalkan. Apabila dia terkenal dengan panggilan al-A’masy (orang yang kabur penglihatannya), pincang, al-Azraq (yang berwarna biru), pendek, buta, buntung tangannya, dan semisalnya maka boleh memperkenalkannya dengan menyebut hal itu. Namun tidak boleh menyebutnya (membicarakannya) karena menghina. Dan jika bisa memperkenalkannya dengan sebutan yang lain tentu itu lebih baik”.

Maka, dalam hal ini apa yang dilakukan Ustad Abdus Shomad dengan menyebut bentuk hidung Rina Nose tidaklah melanggar syariat. Anggaplah Ustad Abdus Shomad memang berniat merendahkan atau mengejek kekurangan Rina Nose, itu jelas merupakan KESOMBONGAN. tapi ada ungkapan yang menyebutkan, “Tih ‘ala tayyahi fa-inna tayha ‘ala tayyahi shodaqoh” (sombonglah kepada orang yang sombong, karena sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah).

Lagian pula, sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini saudari Rina Nose memang “menjual” ke-pesek-an nya untuk melambungkan namanya di dunia entertainment, sesuai dengan guyonannya di Televisi. ia dan teman-temannya sendiri sering menjadikan keadaan fisiknya sebagai bahan candaan dan bangga menjadikan kekurangan fisiknya sebagai bahan lawakan sehingga membuatnya jadi semakin terkenal. Oleh karena itu, sah-sah saja jika ada orang yang mengatakan drinya PESEK karena memang dia sendiri yang membuka pintu masuk untuk itu.

Dengan demikian, bagi para jama’ah sekolam (yaitu para pendekar berjubah sunnah, liberal bertopeng pancasila, dan situs-situs pedagang gorengan) tak perlu lah menampakkan kedunguan didepan masyarakat dengan terus menggoreng berita ini guna menyudutkan sang tokoh agama. Kami tahu bahwa kalian bukan membela wanita pesek itu, tetapi memang sudah terlampau menyimpan hasad dan kedengkian pada si da’i kondang. apa boleh buat, kami juga sangat memaklumi, yang namanya pedagang gorengan tetap saja akan menggoreng. jika tidak menggoreng maka tak laku dagangannya.

Melepas jilbab disertai pembentukan opini rancu adalah kefasikan yang dipertontonkan. dalam perspektif islam pelakunya mesti di beri peringatan keras dan masyarakat harus di jauhkan akan bahaya penyesatannya. ditambah lagi adanya statemen semacam seruan/ajakan dari yang bersangkutan untuk tidak bertuhan, disadari atau tidak itu adalah kekufuran yang nyata. Maka terlalu ringan sebenarnya jika hanya sekedar dikatakan JELEK DAN PESEK. Sebab bila kita mengacu pada konsep islam yang sebenarnya, justru ia berhak mendapatkan yang lebih dari itu. Kata Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ، رواه البخاري

“Siapa saja yang mengganti agamanya, maka BUNUHLAH DIA”. (HR.Bukhari)

Ya, secara lisan saudari Rina Nose memang tak mengakui bahwa dirinya pindah agama, bahkan ia mengaku muslim. Namun tindakannya dan statemen-statemennya membawa dia pada kekafiran tanpa sadar. ini yang mestinya di perhatikan oleh saudari Rina Nose agar ia tak menjadi bahan bakar api neraka di akhirat kelak. pintu taubat masih terbuka lebar selama nafas masih dikandung badan, rahmat dan kasih sayang Allah begitu luas bagi siapa saja yang mau kembali ke jalan-Nya. Memang surga neraka bukanlah hak kita sebagai hamba, ia menjadi hak mutlak sang pencipta untuk memasukkan siapa saja ke surga atau neraka sesuai kehendak-Nya. Tetapi jangan lupa, Allah telah memberikan garis dan rambu-rambu kepada manusia terkait siapa saja yang akan memasuki surga-Nya dan siapa saja yang pantas mendapat azab-Nya di neraka. Amal shalih kita tentulah tak bernilai apa-apa untuk mendapatkan Surganya Allah Ta’ala, sebab kita bukanlah Rasul yang dijamin masuk surga, dan bukan pula pemilik amal shalih yang membahana.

Kepribadian seseorang memang tergantung pada pola fikir dan pola sikap. Sepintas kami mengamati, saudari Rina Nose sedang galau menentukan cara pandang yang benar mengenai hakikat hidupnya. itu semua terjadi karena fakta yang dilihatnya, langsung dia jadikan sumber hukum. padahal fakta hanyalah informasi bukan sumber hukum. disinilah pentingnya dakwah tauhid dan aqidah shahihah guna mengokohkan fondasi dalam beragama, syari’ah islamiyyah sebagai konstitusi yang memayungi segenap manusia.

SAUDARI RINA NOSE adalah sosok artis ibu kota. dan sudah menjadi fakta publik bahwa hampir rata-rata artis-artis itu pergaulannya rusak luar biasa (walau tidak semua tapi rata-rata). jangankan sekedar melepas jilbab, bahkan pindah agama pun hal yang biasa. demikianlah perusakan moral yang tengah terjadi dingeri kita yang sudah seharusnya menjadi tugas pemerintah mengatasinya sebelum bangsa kita mengalami krisis moral dan kehilangan arah. seorang Caesar pun yang sudah dianggap hijrah oleh para “pendekar sunnah” itu bisa kembali kedunia hiburan yang penuh dengan fitnah. itulah dinamika.. yang menjadi bukti kebenaran tentang naik turunnya iman kita dan kuasa Allah dalam membolak-balikan hati hamba hamba-Nya. ternyata Hidayah itu memang mahal, pantas jika baginda Nabi yang mulia sampai akhir hayatnya terus memohon hidayah.

TERAKHIR. untuk saudari Rina Nose, memakai jilbab atau melepasnya adalah hak individu setiap warga negara yang dijamin undang-undang. demikian pula gagasan-gagasa kufur yang anda publikasikan, itu semua bagian dari demokrasi berpendapat. tapi membentengi masyarakat dari opini yang menyesatkan juga merupakan hak para Ulama dan tokoh agama.

Ada yang berasumsi begini, seorang yang merendahkan syariat jilbab mesti di rendahkan serendah-rendahnya. Tapi kami yakin, saudari Rina Nose adalah orang baik yang in sya’ Allah akan kembali kepada jalan yang baik. Ketauilah bahwa bahwa hijab/jilbab adalah syariat agama yang mulia, yang dengannya meninggikan derajat para wanita. diakui dalam semua kitab samawi, bahkan para wanita-wanita ortodoks yahudi sampai para biarawati nasrani pun mengakui. Karena dia turun dari sisi Tuhan yang maha kuasa, Allah Rabbul ‘Izzah wal jalalah. kembali ke jalan yang benar adalah solusi, bergaul dengan kalangan liberal adalah polusi.

Semoga saudari Rina Nose melepas jilbab bukan karena tuntutan dalam dunia penuh drama atau karena terinspirasi pandangan liberal para professor kelebihan gizi yang menyatakan menutup aurat tidak wajib.

Semoga Allah memberi Saudari Rina Nose dan kita semua hidayah dan petunjuk. Aamiin..

Tulisan ini saya kutip langsung dari halaman facebook Ustadz Abdul Somad عبد الصمد. 

Semoga Bermanfaat. 

OBROLAN TENTANG TEORI SINGKAT MANAGEMENT

     Suatu malam yang penuh dengan keheningan, manusia yang satu ini, atau bisa dibilang, aku sendiri orangnya. Orang yang belum memiliki tujuan jelas tentang masa depan, apa yang akan aku dapatkan di masa depan nanti? Berbicara mengenai cita-cita di dalam hidup ini, rasanya aku masih belum paham betul secara 100%, tapi satu hal yang aku yakini selama ini, bahwa kehidupan adalah sebuah sarana untuk mencapai kehidupan yang lainnya di alam yang tak terlihat itu. Ya! akhirat. Itulah makna cita-cita yang aku pahami selama ini.

       Bagaimanapun, tujuan kita di dunia tidak terlepas dari hal-hal yang semacam itu. disadari atau tidak, mau diterima atau tidak, semua manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Hal itulah yang aku selalu tanamkan di dalam diriku ini. Namun, semakin hari, ilmu yang aku dapatkan semakin meninggi tatkala dimensi pergaulan semakin luas tak terbatas. 

       Malam itu, bersama seorang teman, aku bertanya, "Apa sih, rencana itu? Seberapa pentingkah rencana dalam kehidupan kita? Bagaimana caranya membuat rencana itu?" kataku dengan rasa penasaran tinggi namun masih bisa santai. Sambil ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang rokok di tangan, dia lalu menjawab, "Penting!" katanya, lalu diulanginya kembali kata tersebut, "Penting! Penting sekali," lanjutnya.

       "Seseorang yang mempunyai rencana di dalam kehidupan, akan hidup dalam keteraturan yang dia inginkan. Rencana adalah bagian dari ilmu manajemen yang semestinya dimiliki setiap orang. Jika tidak memiliki rencana untuk masa depan, sama halnya hidup tak bernyawa. Berjalan namun tak ada tujuan yang  jelas, lama-kelamaan kau akan jenuh dan mati dalam keadaan terhenti."

         "Lalu, bagaimana caranya agar hidup semakin hidup dan berjalan secara teratur?" kataku.

    "Belajarlah membuat perencanaan yang baik, karena tidak semua orang berencana untuk kegagalannya. Tetapi, kebanyakan orang gagal dalam melakukan perencanaan," 

        "Apa lagi!"

       "Selain itu, Rencanamu juga harus dibuat secara realistis, sesuai fakta, sesuai kesanggupan dan sesuai kemampuan yang kamu miliki. Maksudnya, Cita-citamu harus benar-benar membumi, karena kita sedang berada di bumi. Yaitu apa yang kita rencanakan itu benar-benar bisa diukur dengan kapasitas kemampuan kita."

       "Setelah itu?" tanyaku penasaran.

     
       "Agar cita-citamu tercapai, maka buatlah rencana yang bisa di turunkan menjadi sebuah rencana harian. Agar supaya, hari-hari kita selalu terisi dengan hal-hal yang sifatnya sangat menguntungkan demi tercapainya sebuah tujuan. Maka dari itu, pernecanaan kita mengikuti asas ke-efisiansian dan ke-efektifan."

   "Sedikit akan saya berikan sebuah ilmu, yang mungkin bermanfaat untukmu suatu saat nanti, mungkin juga saat ini."

    "Jika kamu mempunyai cita-cita dan keinginan di masa yang akan datang, maka, kamu harus bisa meyakini bahwa apa yang kamu cita-citakan itu dapat terwujud. Lalu, gunakan sebuah alat uji sebuah rencana seperti ini, 

  1. Buktikan, apakah rencanamu itu sudah realistis atau belum. sebagai contoh, jika kau berencana bahwa besok hari, kau akan mendapatkan uang sebesar 1 miliyar, sedangkan kita sama-sama tahu bahwa kau seorang pengangguran, apakah itu akan mungkin terjadi? Jika berbicara mengenai keyakinan, tentunya kita akan yakin-yakin saja kalau hal itu mungkin saja terjadi atas ijin Allah. Namun hal itu semakin menjadi tidak realistis, karena kamu sendiri tidak mempunyai apa-apa yang dapat menyebabkan keberuntungan itu menghampirimu. Maka, mulailah untuk berencana sesuai realita yang ada.
  2. Pengujian yang ke 2 adalah, melakukan perhitungan waktu. Waktu yang akan kita gunakan adalah waktu yang akan kita tuju di masa depan. Tentukan target waktu yang harus ditempuh saat kita menginginkan sesuatu di masa yang akan datang. Ukur apakah waktu yang digunakan sesuai dengan kemampuan kita. Dan yang ke- 
  3.  Adalah, lihat ke dalam diri kita. Gunakanlah dimensi yang terdalam. Berdamailah dengannya agar kita bisa mengetahui kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Mampukah kita untuk mengejar cita-cita itu. Jika dirasa masih berat, kau boleh menurunkan cita-citamu. Agar kau bisa mengejarnya dengan kemampuanmu saat ini."
       "Oh, begitu ya! Selama ini, aku memang belum pernah melakukan hal semacam itu. Baiklah, hari ini, aku putuskan untuk membuat rencanaku sendiri. Akan aku kejar cita-citaku. Meskipun harus melewati berbagai rintangan."



Bandung, 31 Oktober 2017.

Konsistensi akan hilang jika harapan memudar

Seiring tumbuhnya pemikiran yang ada dalam diriku, entah mengapa setiap hal yang terlintas di benak selalu saja menarik perhatian untuk diulas. Meskipun tidak terlalu penting namun kenyataanya hal semacam ini selalu muncul. Suatu ketika, seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja, telah memberiku pemahaman ini. Caranya memang sangat tidak menyenangkan, mengingat hal ini aku dapatkan di antara rasa kesal yang berkecamuk di dalam hati. Aku akan mengatakan bahwa konsistensi akan menghilang tatkala seseorang berhenti dari rasa harapnya. 

Sebagian orang beranggapan bahwa untuk mencapai sesuatu, dibutuhkan kerja keras yang konsisten. Kerja keras takkan berhasil jika seseorang tidak konsisten dalam tujuannya itu. Seperti itulah kata-kata yang sering kali kita lihat atau dengar dari orang lain, entah saat bergaul atau saat sedang membaca status-status orang lain di facebook, twitter atau media sosial lainnya. 

Benarkah konsistensi kunci kesuksesan? Aku bukan orang sukses dan entahlah apa makna kesuksesan itu bagi kebanyakan orang, yang jelas jika kita berbicara kesuksesan tentu akan berbeda-beda. Yang ingin aku fokuskan adalah mengenai konsistensi. Mengapa konsistensi dapat menghilang seiring berjalannya waktu? 

Jika anda bekerja di sebuah perusahaan, atau mungkin anda seorang pengusaha, tentu kata konsisten tidak  terlalu asing di telinga kalian, bukan? Ya, sebagai kata motivasi, konsistensi memang kerap dipakai sejumlah orang. Entah karena kata ini sepertinya mampu membuat setiap orang menjadi teguh pendiriannya, atau karena kata ini sangat manjur untuk membuat orang lain mau melakukan apa yang kita perintahkan, atau juga karena kata ini hanya berada pada level tertentu pada setiap percakapan, sehingga terkesan memikat siapapun orang yang akan mendengarnya. Aku benar-benar tertarik membahas ini. 

Sebelumnya, sudah semua tahu apabila kita menginginkan sesuatu, tentunya dibutuhkanlah konsistensi untuk menggapainya. Nah, namun pada kenyataanya, untuk mewujudkan konsistensi seperti yang diartikan menurut KBBI, bahwa konsistensi adalah sesuatu yang tetap dan tidak berubah-ubah adalah sebuah masalah tersendiri yang kadang dialami sejumlah orang, termasuk aku juga. 

Hambatan-hambatan tentunya akan selalu ada untuk menunjukan kualitas diri. Rasa malas, rasa enggan dan bahkan rasa lelah kadang membuat usaha kita untuk konsisten akan tergerus seiring berjalannya waktu. Apa sebenarnya permasalahannya sehingga seperti itu. 

Tiba-tiba sekitar beberapa jam lalu, saat aku memikirkan ini. Terlintas di benakku akan sosok ibu yang senantiasa merawat kita dari kecil sampai besar. Sosok orang tua yang satu ini, memang kadang tidak pernah terpikirkan setiap harinya. Namun kita akan belajar dari beliau-beliau ini. 

Dari mulai Ibu mengandung. Senantiasa kita dibawa kemanapun beliau pergi, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, bagi yang sudah mempunyai anak dan tentunya mengurus suami. Ibu bukanlah sosok manusia super seperti yang kita lihat dalam serial super hero manapun. Namun, peran ibu sangatlah berat. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, Ibu selalu memperhatikan kita. 

Setelah kita lahir, kita masih menjadi perhatiannya, diantara kesibukan yang beliau kerjakan, ibu masih bisa memperhatikan kita, menyayangi kita sepenuh hati hingga sampai kita dewasa. Setelah kita tidak lagi bersama orang tua, apakah ibu berhenti dari aktifitasnya? Sepertinya tidak. Tidak perlu kita memasang CCTV untuk mengeceknya. Gunakan akal sehat saja dan pasti kita sudah tahu itu di luar kepala kita. 

Dari pengalaman memahami itu, apakah kita bisa mengatakan bahwa itu sebuah konsistensi? Menurutku nilai dari pengorbanan seorang ibu jauh lebih tinggi derajatnya dari sebuah kata konsistensi. Karena sosok Ibu tidak pernah mengeluh atas apa yang telah Beliau kerjakan. Beliau sepertinya tidak terlihat lelah untuk bangun setiap pagi, membuatkan sarapan, mencuci piring, membersihkan rumah dan mengurus kebutuhan-kebutuhan lainnya. Adakah kalian lihat sesuatu yang konsisten di sini?

Inilah yang terjadi di dalam benakku saat itu. Lalu aku menemukan penjelasan lain. Apa yang mendasari Ibu untuk terus melakukan aktifitas tersebut menurutku adalah sebuah harapan. Ya, harapan akan kehidupan yang mungkin beliau sendiri tidak menyadarinya. Sebuah harapan yang sudah mendaging dengan aktifitas yang kontinyu dilakukannya. Sebuah harapan yang kita-pun sebenarnya tidak dapat menjangkaunya, karena ia ada di dalam hatinya.

Kita telah belajar, bahwa sebenarnya harapanlah yang menjadi baterai dalam setiap langkah kita menggapai sebuah tujuan. Jika harapan hilang, konsistensi seiring berjalannya waktu akan hilang dan hilang. Hari pertama kita memulai tujuan, masih semangat. Bulan pertama juga masih semangat, sampai pada tahun pertama kita masih semangat karena harapan masih lekat di benak kita. Namun di sekian banyak informasi yang berseliweran di hadapan kita, iklan-iklan yang menawarkan kenikmatan selalu menjadi pengalih perhatian. Hal itu mungkin wajar adanya, namun kita harus tau batasan-batasannya. Dan ketika harapan sedikit mulai terlupakan, kerja kita semakin menurun, menurun dan terus menurun sampai kita melakukannya seperti keranjang buah yang bolong-bolong itu. 

Jadi begitulah menurutku, bahwa harapanlah sebenarnya yang akan membakar jiwa kita menjadi sebuah tenaga yang akhirnya menjadi kekuatan untuk terus konsisten. Semakin besar harapan, semakin lama kita dapat menjaga konsistensi. Begitu juga halnya saat seseorang menginginkan kekonsistensian dalam beribadah. Besarkanlah rasa harapmu kepada Allah, agar senantiasa diridhoi setiap langkah kita, Amin Ya Rabbal'alamin.


Terima Kasih.


Bandung, 5 oktober 2017.





NGOBROLIN SOAL PKI

Berapa hari lalu dan sampai hari ini, berita-berita di media massa sedang hangat membicarakan PKI. Hal ini muncul setelah Jendral TNI Gatot Nurmantyo mengajak kepada seluruh pasukannya untuk menonton lagi film lama yang sudah di-stop peredarannya, yaitu Film G-30 S PKI. Karena bulan ini merupakan pengingat bahwa pada masa dulu pernah terjadi sebuah tragedi yang sangat memilukan. PKI memang merupakan bagian terkelam dari Bangsa Indonesia. Sebuah aib bagi sejarah negara ini yang masih tersimpan di sanubari generasi sebelum kita.

Tentunya berbicara mengenai sejarah PKI, jangan disamakan dengan Partai Komunis yang ada di belahan dunia mana-pun. Partai komunis memang telah hancur di negerinya, yaitu Rusia. Namun sisa-sisanya masih tetap ada, karena ideologi itu seperti jantung bagi penganutnya.

Di China, meskipun mereka menganut paham komunis, kenyataanya negeri tirai bambu itu mengawinkannya dengan paham kapitalis yang bisa kita rasakan melalui sektor ekonominya. Sedangkan yang sampai saat ini masih menganut paham komunis secara radikal bisa kita tengok ke arah utara kita, yaitu Korea Utara. Bisa dilihat sampai saat ini bagaimana kondisinya.

Berbicara komunis di indonesia memang tidak akan ada habisnya. Partai yang dicap terlarang sejak tahun 1965 ini memang sangat meresahkan anak bangsa. Ketakutan serta Paranoid akan kekejaman PKI akan terus selalu ditularkan terhadap generasi-generasi yang baru. Para orang tua tidak rela jika paham yang seperti itu akan kembali menjadi duri di dalam daging di generasi saat ini.

Saya, sebagai generasi yang lahir di tahun 90'an, sampai detik kemarin memang sangat begitu apatis mengenai masalah ini. Saya benar-benar tidak pernah begitu peduli dengan hal-hal yang seperti ini. Karena memang di keluargaku juga tidak pernah menyingung-nyinggung masalah tersebut. Saya sangat mengerti akan hal itu. Tetapi semakin lama mendengar dan terus tetap terdengar di telinga mengenai bahaya laten komunis, membuat saya semakin ingin mengetahui apakah yang dikatakan mereka itu benar adanya.

Dengan sedikit riset yang saya lakukan menunjukan bahwa PKI merupakan partai yang terbilang sangat radikal dalam memuluskan tujuannya. Pernah saya bertanya kepada orang-orang tua, ternyata para komunis itu tega membunuh para santri dan kiai dengan sangat sadis. Tidak cuma itu, hampir tiga kali juga, partai ini selalu mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Namun lagi-lagi dapat di gagalkan. Pemerintah pusat saat itu, menurut yang saya dengar serta dengan membaca beberapa sumber, mengatakan bahwa untuk menunjukan bahwa PKI merupakan partai terlarang, dibuat-lah Film G 30 S PKI ini.

Sekarang setelah peristiwa itu sudah jauh tertinggal di masa lalu, para anggota keluarga yang merasa dirinya telah dirugikan atas doktrin yang dilakukan dengan film itu kini menuntut keadilan dengan dalih Hak Asasi Manusia. Juga dengan pemahaman bahwa film tersebut ada sebagian yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Tentu bagi para anggota TNI tidak bisa secara mentah-mentah menerima itu, lantaran pahit yang pernah pendahulu mereka lakukan terhadap bangsa ini.

Sang Jendral memutarkan Film Tersebut adalah supaya generasi sekarang, khususnya para TNI dapat belajar dari tragedi kelam masa lalu. Di lain hal, orang yang selalu menolak tumbuhnya PKI di indonesia adalah Bpk Kivlan Zein. Dengan semangat juang 45 yang tak pernah padam, belau tak pernah lelah untuk menasehati kita akan bahaya laten komunis juga terhadap bahaya KGB atau KOMUNIS GAYA BARU.

Dari sisi sosial, tentunya jika saya berada di pihak sebagai anggota keluarga ataupun seorang anak PKI, tentunya akan selalu terngian-ngiang akan masalah ini. Dimana ketidaktahuan memposisikan kita sebagai orang yang tidak bersalah, lalu kemudian berupaya meminta keadilan kepada penguasa.

Sebagai penguasa saat ini Presiden Jokowi telah menegaskan, bahwa pemerintah tidak akan meminta maaf terhadap PKI dan hal ini telah beliau sampaikan berulang-ulang karena senantiasa para penebar fitnah selalu menggunakan momentum untuk memecah belah bangsa. Bahkan Bpk Presiden, mengusulkan agar dibuatkan film G30 S PKI dengan gaya yang masuk kepada generasi saat ini, dan hal itu di sambut positif oleh Jendral TNI Gatot Nurmantyo.

Dengan segala dinamika yang ada saat ini, terkait pula dengan sejarah kelam bangsa indonesia di tahun 65 tentunya saya hanya bisa berharap bahwa kondisi-kondisi seperti itu tidak perlu muncul kembali. Biarkanlah sejarah kelam tetap menjadi aib yang tidak perlu dibuka-buka lagi. Sakit tidak akan sembuh jika kita selalu membuka lagi bekas lukanya. Biarkanlah ia mengering sampai hilang terbakar sinar matahari. Tujuan sejarah adalah supaya kita menjadi manusia yang maju, yang tidak akan lagi menjadi bodoh karena masa lalu.

Saya-pun sangat setuju, jika akan dibuatkan film versi baru terkait Film G30 S PKI ini. Dan terhadap para eks PKI, ataupun anak PKI, pahamilah diri, bersatulah dengan alam indonesia ini dengan ideologi Pancasila-nya. Meskipun kami tidak mengalami apa yang para orang tua kami alami, kami mengerti setiap penderitaan yang ada. Dan jangan sekali-kali berbuat ulah di negeri yang tercipta dengan darah dan air mata ini, karena sebagai generasi muda, kami sangat mencintai perdamaian. Kami dapat berubah menjadi air, kamipun dapat berubah menjadi angin, dan kami-pun dapat berubah menjadi api. Jika kau baik, maka kami akan baik.

Tanggung Jawab Warganet di Tengah Arus Informasi

Oleh : Zein Abdullah


Assalamualaikum w.w.

Mohon diperhatikan dengan saksama bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab sebagai warganet, terutama dalam membagikan informasi dari laman-laman berita. Sebaiknya, sebelum melakukan salin-rekat, kita membaca terlebih dahulu isi berita tersebut. Apakah situsnya kredibel? Apakah informasi yang disampaikan benar adanya dan telah diverifikasi?

Sebab, berita yang tidak baik, apalagi yang tidak jelas kebenarannya, akan terus berkembang biak jika kita ikut menyebarkannya kepada sesama warganet.

Orang tua juga memiliki peran penting dalam mengawasi penggunaan gawai anak-anaknya, terutama jika mereka belum mampu menimbang mana yang baik dan mana yang buruk di dunia digital yang kian hari terasa semakin liar dan tak terkontrol. Tidakkah kita merasa waswas?

Berikan nasihat yang baik tentang bagaimana menggunakan gawai secara bijak. Tanamkan pula kebiasaan untuk sesekali meluringkan media sosial agar anak-anak dapat bergaul secara langsung dengan teman-temannya, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Bagi orang tua yang memiliki pramusiwi di rumah, sebaiknya tetap melakukan pengawasan dalam menjalankan tugasnya—apakah gawai digunakan secara wajar atau justru lebih banyak untuk bermain media sosial. Namun demikian, jangan pula terlalu mengekang, karena bersosial media tidak dilarang oleh pemerintah selama digunakan secara bertanggung jawab.

Untuk sekolah-sekolah, alangkah baiknya jika diadakan kerja sama antarsekolah dalam memberikan edukasi tentang penggunaan media sosial yang sehat. Tujuannya agar kelak tercipta generasi muda yang bermartabat dan beretika di ruang digital. Bila perlu, dapat dipertimbangkan adanya kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan literasi media sosial, meskipun saat ini mungkin belum terasa urgensinya.

Pada dasarnya, gawai bisa menjadi sarana yang sangat bermanfaat, namun juga bisa berdampak sebaliknya. Orang yang bijak akan memanfaatkannya untuk hal-hal positif: berbisnis, belajar Al-Qur’an melalui aplikasi digital, atau memasang pengingat azan untuk menunaikan ibadah tepat waktu.

Namun, terasa miris ketika melihat anak-anak dalam masa pertumbuhan terlalu lekat dengan budaya swafoto. Sedikit-sedikit swafoto, hendak melakukan apa pun harus diawali dengan swafoto. Untuk memahami fenomena semacam ini, kita perlu belajar kepada orang-orang yang lebih berpengetahuan. Tanpa belajar, pengetahuan otodidak pun mudah diragukan dan bahkan bisa menyesatkan. Ibarat seorang tunanetra yang memakai kacamata, tetap saja tidak dapat melihat.

Sebarkanlah informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Jangan mudah tertipu oleh nama besar sebuah situs. Kita tetap harus menimbang dengan cermat setiap informasi yang akan dibagikan agar tidak menimbulkan dampak buruk di kemudian hari. Perhatikan pula apakah laman tersebut mencantumkan alamat pos-el yang jelas dan dapat dihubungi.

Jika telah memiliki KTP-el, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Sistem KTP-el terhubung dengan jaringan internet, yang berarti memiliki potensi risiko jika disalahgunakan. Meski kita memiliki tenaga ahli di peladen pusat, kewaspadaan pribadi tetaplah penting.

Tulisan ini berawal dari materi yang saya dapatkan di sebuah grup kepenulisan seusai Zuhur tadi, berkaitan dengan PUEBI dan beberapa kosakata baru yang perlu kita ketahui. Saya mencoba mengembangkannya sebagai sarana belajar, bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga agar proses belajar terasa lebih menyenangkan.

Sebagai tambahan, ketika kita sedang daring di media sosial, perhatikan pula cara menutupnya, terutama saat mengakses dari tempat umum seperti warnet atau fasilitas publik lainnya. Pastikan akun benar-benar sudah luring, karena kelalaian kecil dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Terima kasih.

RANGSANG SUDUT PANDANG

Belajar Objektif dari Sebuah Pulpen dan Tiga Anak SD


Sore yang mengantuk tak pelak membuat seluruh anggota badan terasa letih. Di sela-sela kegiatan mencari nafkah, tiga anak SD singgah di lapak kecilku. Mereka hendak membeli sebuah ballpoint.

Iseng, terlintas di kepalaku untuk mengajak mereka berdiskusi ringan, tentang cara berpikir dan cara memandang sesuatu. Sederhana, tapi penuh makna.

“Aa, mau beli pulpen,” kata salah seorang anak sambil memandangi deretan pulpen di etalase.

“Mau yang mana?” tanyaku.

“Hmm… sebentar,” katanya ragu. “Kalau yang seribu ada nggak?”

Kebiasaan khas anak sekolah: mencari yang paling murah.

“Ada,” jawabku. “Seribu lima ratus, dapat dua.”

“Hah?” Mereka langsung berseru. “Bohong, ah!”

Aku mengambil satu wadah berisi isi pulpen dan menunjukkannya pada mereka.

“Ini,” kataku.

“Ih, Aa mah,” protes mereka. “Itu kan isi pulpen.”

Aku tersenyum.

“Ini pulpen.”

“Nggak, A. Itu mah isi pulpen,” sanggah mereka kompak.

Aku lalu mengambil satu pulpen utuh dari etalase.

“Kalau yang ini apa?”

“Pulpen!” jawab mereka serempak.

Aku membuka pulpen itu, memisahkannya menjadi empat bagian.

“Nah sekarang, mana yang disebut pulpen?”

Mereka saling berbisik, berdiskusi serius seperti sedang menghadapi kuis penting. Tak lama kemudian, mereka menunjuk isi pulpen berwarna hitam.

Aku tertawa kecil.

“Tuh kan, sama saja.”

“Ah, Aa mah. Orang mau beli pulpen malah dikasih pertanyaan.”

Aku tertawa lagi.

“Gini saja. Kalau bisa jawab dengan benar, Aa kasih satu pulpen gratis. Satu-satu.”

Mata mereka berbinar.

“Beneran?”

“Bener.”

Pertanyaannya masih sama. Dari empat bagian itu, mana yang disebut pulpen?

Hampir lima menit mereka berpikir. Wajah-wajah kecil itu tampak serius, penuh kehati-hatian. Akhirnya mereka mengambil keempat bagian, lalu menyusunnya kembali hingga menjadi pulpen utuh.

“Nah ini, A,” kata anak perempuan yang paling tinggi. “Bener kan?”

Aku mengangguk.

“Benar. Tapi kenapa?”

Mereka terdiam. Aku pun tak memaksa.

“Sudah. Ini pulpennya.”

Aku menyerahkan hadiah yang kujanjikan.

Pengalaman singkat itu terasa begitu berkesan. Ia mengajarkanku satu hal penting: cara pandang seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang tampak di hadapannya, dan oleh suara orang lain di sekitarnya.

Sering kali kita menilai sesuatu hanya dari sekali pandang. Padahal, bisa jadi ada ruang pemahaman yang belum kita sentuh. Ada sisi lain dari masalah yang belum kita rasakan.

Kuncinya adalah melihat dari berbagai arah. Menelaah sebelum menghakimi. Menunda kesimpulan sebelum memahami duduk perkaranya.

Subjektivitas yang berlebihan adalah bentuk arogansi berpikir. Ia menjelma menjadi kediktatoran batin, bukan jalan seorang pemimpin, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang lain.
Lantas, adakah kebaikan yang mampu menyatukan beragam sudut pandang?

Dalam perspektif Islam, Allah mengingatkan kita:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Q.S. Al-Baqarah: 216)

Kebenaran menurut manusia bisa saja keliru di sisi Allah. Maka bagaimana seharusnya kita bersikap?

Allah menjawabnya dalam firman-Nya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”
(Q.S. Ali Imran: 103)

Dari sini kita belajar: persatuan lahir dari kerendahan hati dalam berpikir, dari kesediaan untuk tunduk pada kebenaran yang lebih tinggi daripada ego pribadi.

Semoga kisah kecil ini membantu kita meluaskan cakrawala berpikir, agar lebih bijak dalam memandang hidup.

Jadi begitu ceritanya.
Sekarang… yuk belajar ngaji lagi. Jangan malu-malu.

PROSES PEREDARAN DARAH SAAT ANDA BERBOHONG.

Jika kita mengajukan sebuah pertanyaan interogasi kepada seseorang, dan kemudian orang tersebut melakukan gerakan-gerakan pada seputar wajahnya, bisa dikatakan orang tersebut telah berbohong. Namun, bagaimana bisa terjadi hal semacam itu. Begini penjelasannya.

Anda telah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tersebut kemudian menyebabkan kecemasan, lalu melonjak karena kesadaran bahwa jawaban yang benar akan melibatkannya dalam masalah besar. Artinya, jika seseorang akan berkata jujur setelah semua fakta tidak mendukungnya, maka inilah reaksi yang biasa dimunculkan oleh seseorang. 

Pada gilirannya, hal itu memicu saraf otonom untuk melepas kecemasan tersebut. Caranya adalah dengan mengedepankan tanggapan penolakan atau menyerang atau kabur. Tubuh orang tersebut akan mengatur ulang peredaran darah ke organ-organ vitalnya dan ke kelompok otot besarnya supaya ia mampu berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, bertarung lebih keras dalam menanggapi ancaman pertanyaan.

Dari mana asalnya darah itu? Darah berasal dari daerah-daerah yang memiliki persediaan banyak pada tubuh yang untuk beberapa lama masih bisa menyumbangkan darah ke bagian yang lebih membutuhkan, biasanya pada permukaan wajah, telinga, dan ujung-ujung tangan serta kaki. Ketikda darah meninggalkan daerah-daerah itu, pengaruhnya dirasakan oleh pembuluh-pembuluh lembut yang dapat menghasilkan rasa dingin atau gatal. Tanpa disadari oleh orang tersebut, tangannya tertarik ke daerah-daerah itu, atau meremas-remas, mengusap-usap tangan sendiri. Dengan demikian Anda mendapatkan sebuah pesan kebohongan pada orang tersebut. Terima kasih.

Dikutip dari sebuah buku berjudul 'Spy The Lie'.

Tidak Hanya Baik, Untuk Masuk Ke Surga!


Seorang pengusaha dari Negeri sebrang bertanya kepada seorang Muslim yang kebetulan, ia sedang mengembara :

"Wahai pengembara, saya mempunyai pegawai lebih dari seribu dan mereka berasal dari berbagai belahan dunia. Banyak karakter manusia yang saya tau, dari yang miskin sampai yang tua dan dari yang baik sampai yang kurang baik. Tapi mereka sudah saya anggap seperti keluarga. Saya mencukupi mereka dan saya kira mereka cukup sejahtera bersama saya. Yang saya tanyakan apakah saya bisa masuk surga dengan perbuatan baikku itu?"

"Tidak!" Sang Pengembara menjawabnya.

"Hah, kenapa?" Tanya si pengusaha, seraya menampakkan ekspresi muka terkejut. 

"Surga bukan hanya untuk orang orang yang baik saja, tetapi iya yang percaya kepada Allah SWT. Yaitu Yang Pencipta, dan Dial-ah satu-satuNYA yang patut disembah. Anda harus mengimani adanya Allah SWT dan Mengikuti semua ajaran yang disampaikan melalui utusan-NYA, Yaitu Nabi muhammad.

VIRALISASI.

Diberitakan secara viral. Ada sepasang keluarga, kedapatan masuk dalam sebuah foto yang diunggah oleh salah seorang netizen. Entah disengaja atau tidak, berita itu cukup menarik perhatian warga Dunia Maya.

Semua orang-pun mengomentari foto yang viral itu, termasuk sepasang keluarga yang ada di depanku ini. Kebetulan, aku juga sedang berada di sebuah tempat makan. Kedua ayah dan ibu itu, berlomba2 meluapkan kekesalan mereka yang telah tega menelantarkan anaknya dan asyik sendiri bermain media sosial.

Tapi, menariknya ke dua orang tua ini juga lalai terhadap anaknya. Ia sibuk mengomentari orang lain yang lalai terhadap anaknya. Kemudian, satu keluarga lalai yang lainnya melihat pemandangan itu. Dengan segera, ia mengambil foto, persis seperti pada foto viral sebelumnya. Keluarga lalai ini, kemudian mempostingnya ke media sosial, lalu dengan penuh kesal yang meluap-luap, ia melampiaskan komentarnya pada foto yang baru saja ia dapatkan.

Akhirnya, Semua orang-pun mengomentari foto itu hingga menjadi viral di media sosial. 

Dan begitu seterusnya.

Menyikapi Full Day School

Di kampung-kampung, di desa-desa anak2 memang memiliki kesibukan selain bermain dan belajar. Ada yang membantu orang tuanya mencari rumput untuk kambing-kambing yang nantinya akan digunakan untuk membayar sekolah, atau mencari getah pohon karet. Dari sepulang sekolah sampai sore mereka bejerja. Mereka tidak merasa berat hati ataupun mengeluh. Di samping itu, orang tua-orang tua mereka juga tidak terlalu sibuk sehingga harus menitipkan anaknya ke sekolahan. lagipula uang untuk jajan anak-pun pas-pasan.

Di kota-kota besar, para orang tua selalu sibuk mengurusi pekerjaan. Mereka kadang tidak mempunyai waktu untuk mengurus anaknya. Sehingga menitipkan anaknya kepada sekolah adalah pilihan yang tepat. Lagipula di sekolah mereka akan lebih terkontrol pergaulannya dibanding membiarkannya bermain tanpa ada orang tuanya. Kemudian mereka juga ada uang untuk membayarnya.

Sebagian orang tua, di kota ataupun di desa-desa, ada yang memasukkan anaknya ke pesantren2, karena dirasa pendidikan itulah yang nantinya lebih akan berguna di masyarakat. Disisi lain tidak terlalu memakan biaya besar jika anaknya masuk ke pesantren

Semua itu, selalu ada pilihan bagi masing-masing orang menentukannya. Pilihan ada pada diri mereka.

Di atas, bisa jadi bermakna seperti itu, bisa juga mencerminkan tentang mental seseorang dalam menentukan sikap.

Nah, terus opo iku, Kok Yo rame wong-wong sing nang ndhuwur iku. Mbok yo mending memfasilitasi wae karepe rakyat, selama iku apik lan ono gunane go bangsa. Wong kok muring2an wae.
x

Kenapa Sholat Jum'at Mengantuk

Saya itu pengen riset, "kenapa setiap sholat jumat, orang-orang pada ngantuk, ya". Saya juga merasakan itu. Apa karena gangguan setan? Padahal sudah diusahakan untuk tidak mengantuk. Mungkin sekitar 15 menit, kita bisa bertahan, tapi lama-lama mata mengantuk juga.

Apa karena penceramah tidak terlalu menjiwai bacaannya sehingga tidak begitu memikat pendengar untuk fokus mengikuti ceramah. Sehingga akan kehilangan ruh untuk memotivasi dan memberi peringatan kepada manusia.

Kenapa semuanya harus setan yang disalahkan. Apa karena kurang mempersiapkan untuk sholat jum'at jadi seperti itu. Tapi saya pernah melakukan tes ini,

Waktu itu, sebelum sholat jum'at saya sudah tidur terlebih dulu sehingga saat Sholat Jumat tidak terlalu mengantuk. Tapi memang karena hari itu libur, jadi tidak ada aktifitas pekerjaan yang menguras kepala dan tenaga.

Tapi kalau saat sedang bekerja, seolah-olah adanya sholat jumat itu seperti pelampiasan berbuka puasa. Kesempatan untuk memulihkan tenaga, sehingga kita tidak mendengarkan ceramah.

Padahal, media para ulama untuk berdakwah paling tepat itu saat sedang melaksanakan sholat Jum'at karena, banyak orang yang pasti mendatangi masjid meskipun ada kajian-kajian rutin yang sering diadakan seminggu sekali di tiap-tiap masjid, tetapi hal itu dirasa kurang dikarenakan nilai kewajiban antara kajian rutin dan sholat jumat itu berbeda. Sehingga di pikiran kaum pria, tidak terlalu mewajibkan kajian rutin seperti pada sholat jum'at.

Apakah hal ini sepele? apakah hal ini tidak terlalu penting untuk dikaji lebih dalam sebagai generasi muslim yang sekarang?

Wallahu a'lam bishowab

Bakat Karo Tekad

Di salah satu warung kopi punya Bu Minah, ada 2 orang sahabat yang sudah lama akrab. Mereka berdua sedang ngomongin masalah bakat sama tekad sambil makan gorengan panas terus kopi item ngebul. Mantep rek.

Yuk baca kisahnya,

Guyono : "Po'yo, koe ngerti gak iklan sing nang Tv nek wayah wengi iku? celetuk Guyono, sambil menyambar kopi panas yang ada di depan lalu meminumnya."

Po'yo : "Iklan opo Yon? jawab Po'yo yang lagi kepedesan makan cabe merah yang ada di mangkok kecil di atas meja, " Bu, ini cabenya pedes yo! Biasane cabenya yang masih muda!" teriak Po'yo kepada Bu Minah.

Bu Minah : "Iya mas, lagi murah soale." jawab Bu Minah yang lagi masak gorengan.

Po'yo : "Eh, maaf Mas Yono. Ngomongin iklan opo sih mas tadi?"

Guyono : "Iku Loh, iklan Rokok sing ngomong kayak gini, 'Apa sih bakat?' terus ada adegan nganggo musik juga, terus ngomong neh, 'cuma 5 huruf buatan manusia biar kita merasa kecil, untuk matahin semangat biar kita gak berani coba sama sekali."

Po'yo : "Lah emang piye Yon? aku seneng iku narasi ne. Aku nek ngrungokno hawane yo dadi semangat loh."

Guyono : "Lah, iku sing marake semangat iku musike, Yon. Dudu narasine. Nek musike diganti musik balonku ya gak bakalan bikin semangat tho! Ngene tak kandani."

Po'yo mendekati Guyono. Ia menyeruput Kopi panasnya. Obrolan mulai serius, matahari tiba-tiba mendung. Sampah-sampah berhamburan karena angin tiba-tiba menggelebuk hebat. Bu Minah segera menghentikan aktifitasnya, mematikan kompor lalu duduk di dalam warung sambil nonton gosip di televisi.

Po'yo : "Opo sih mas!" Ucap Po'yo mengalihkan keseriusan pembaca.

Guyono : "Iku loh, masa di iklan itu dia merendahkan apa yang dinamai bakat itu. Terus lanjut, 'Bakat itu tidak dikasih, tapi diraih. Lewat keringat, darah dan ratusan jam tidur yang terlewat. Bakat itu cuman omong kosong, bakat itu saat kita tidak pernah menyerah.' pie menurutmu, Yo?"

Po'yo : "Ya, emang bener sih, kalau bakat itu bisa diraih dengan kerja keras dan dilakukan dengan tak kenal lelah."

Guyono : "Hm, nek aku yo, sing jenenge usaha, kerja keras dan tanpa lelah iku yo arane, Tekad. Nek 'Bakat' itu gawan bayi Yon, maksude sesuatu sing wis dikasih dari Allah. Kalau kamu nyanyi terus-terusan sambil ngikutin kursus, biar suaranya mirip Iwan Fals yo sampai kapan-pun gak bakalan bisa. Lah wong bakate dudu nyanyi. Nah, saiki opo pelajarane, go dewek?"

Po'yo : "Hm, kalau gitu iklan itu mengajarkan bahwa dengan kekuatan dan kerja keras kita bakalan bisa mencapai kesuksesan tanpa menghadirkan adanya Allah?"

Guyono : "Coba tak takon maring pembaca. Menurutmu gimana?"

Terinspirasi dari ceramah, Emha ainun najib ( Cak Nun ).

PAIJO - Gadget

     Suatu hari, Pak Paijo sama Misro sedang ngobrolin tentang teknologi yang semakin hari kian canggih. Di sela-sela obrolan, Misro tergerak rasa penasarannya untuk menanyakan perihal hukumnya orang yang bawa Hape tapi di dalamnya ada aplikasi Al-Quran Digital,
"Mas, Paijo. Gimana hukumnya kalau bawa Hp Ke Wc tapi ada Al-Quran digitalnya?"

"Yo, ga papa to, Mas Mis" jawabnya santai.

"Loh, kok iso Mas? katanya Haram?"

"Kalau aplikasine iku gak ditutup, terus tidak dalam keadaan terbuka, yo gpp, Mas Mis."

"Oh, gitu ya," Misro terlihat kurang puas dengan jawaban Paijo, "tapi kan, Mas ...."

"Gini aja," Paijo memotong, "Mas Mis, kalau mau masuk ke WC, otaknya disimpen dulu, biar gak haram."
"Lah! Kok nesu, Mas?"

"Yo gak nesu. Di dalam otakmu kan pasti ada alqurannya, meskipun cuma Al-Ikhlas karo tabad yada thok,"

"He he, Oh iya. Ngerti aku Mas Paijo, saiki,"

"Ngunu...."

-Terinspirasi dari ceramahnya Ustadz Abdul Somad, Lc. MA.

Paling Banyak Dibaca Pengunjung

Ekonomi Mikro Keluarga dalam Perspektif Infak

  Oleh : Zein Abdullah Keluarga sebagai unit ekonomi mikro Jika dalam Islam harta diposisikan sebagai amanah yang harus digerakkan, mak...